Kanal24, Malang – Pengelolaan sumber daya air membutuhkan pendekatan yang tidak hanya melihat aspek hidrologi, tetapi juga kondisi ekologis sungai secara menyeluruh. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong pengelolaan daerah aliran sungai yang berkelanjutan, termasuk di DAS Brantas, Jawa Timur.
Kajian mengenai DAS Brantas dibawa Universitas Brawijaya (UB) ke forum International Hydrological Programme (IHP) UNESCO kawasan Asia dan Pasifik melalui Wakil Rektor IV UB, Prof. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc. Ia mempresentasikan kajian tersebut dalam rangkaian The 33rd IHP Regional Steering Committee for Asia and the Pacific (RSC-AP) yang berlangsung di Turpan, Xinjiang, China, pada 16–18 September 2026.
Baca juga:
Tim 7 TEP UB Uji Rawai Bersama Nelayan Segun Papua
Indonesia Perkuat Kolaborasi Sumber Daya Air di UNESCO-IHP
Kehadiran Prof. Andi dalam forum tersebut merupakan bagian dari perannya sebagai anggota Komite Nasional International Hydrological Programme (IHP) UNESCO Indonesia. Ia juga menjabat sebagai Wakil Ketua II Bidang Pendidikan Air dan Capacity Development.

Dalam forum regional tersebut, Komite Nasional IHP Indonesia menyampaikan Country Report yang memuat berbagai kegiatan, program, serta inisiatif Indonesia dalam bidang sumber daya air.
The 33rd IHP Regional Steering Committee for Asia and the Pacific menjadi ruang pertemuan negara-negara di kawasan Asia dan Pasifik untuk bertukar pengalaman, pengetahuan, serta praktik dalam pengelolaan sumber daya air.
Melalui forum ini, berbagai pengalaman yang berkembang di Indonesia dapat diperkenalkan kepada komunitas regional. Pertukaran pengetahuan tersebut juga membuka ruang bagi pengalaman pengelolaan sumber daya air di Indonesia untuk menjadi bahan pembelajaran dalam konteks negara lain yang menghadapi tantangan lingkungan maupun sosial yang serupa.
Kajian DAS Brantas Dipresentasikan dalam Workshop IWRM
Selain mengikuti agenda RSC-AP, Prof. Andi Kurniawan juga menjadi presenter dalam Workshop: Catalogue of Hydrological Analysis (CHA) Vol. 5 – Integrated Water Resources Management (IWRM).
Dalam workshop tersebut, ia memaparkan pendekatan berjudul “From River Biofilms to an Eco-Hydrological Observatory” dengan DAS Brantas, Jawa Timur, sebagai studi kasus.
Kajian tersebut menggabungkan perspektif ekologi perairan dan hidrologi untuk mendukung penerapan Integrated Water Resources Management (IWRM) atau pengelolaan sumber daya air terpadu.
Pendekatan tersebut melihat pentingnya memahami kondisi biologis ekosistem sungai bersamaan dengan dinamika hidrologinya. Dengan demikian, informasi mengenai ekosistem perairan dapat menjadi bagian dari pemahaman yang lebih komprehensif dalam pengelolaan daerah aliran sungai.
DAS Brantas menjadi konteks penting dalam pemaparan tersebut karena pengalaman riset dan pengelolaan yang berkembang di wilayah sungai tersebut dapat diperkenalkan dalam forum pengetahuan internasional.
Prof. Andi menjadi salah satu presenter yang tampil dalam workshop bersama para pakar dan perwakilan dari berbagai negara di kawasan Asia dan Pasifik. Kehadiran kajian DAS Brantas turut memperluas ruang pertukaran pengetahuan mengenai pendekatan terpadu dalam pengelolaan sumber daya air.
Kajian Brantas Disiapkan untuk CHA Volume 5
Materi yang dipresentasikan dalam workshop tersebut selanjutnya akan dikembangkan untuk menjadi bagian dari Catalogue of Hydrological Analysis (CHA) Volume 5 yang direncanakan terbit pada 2027.
Pengembangan tersebut membuka peluang bagi pengalaman dan pengetahuan yang berasal dari DAS Brantas untuk terdokumentasi dalam katalog analisis hidrologi yang dapat diakses komunitas hidrologi internasional.
Keterlibatan DAS Brantas dalam rangkaian tersebut juga menunjukkan bagaimana kajian yang berangkat dari konteks lokal dapat masuk dalam pembahasan pengelolaan sumber daya air di tingkat regional.
Bagi Universitas Brawijaya, keikutsertaan Prof. Andi dalam The 33rd IHP RSC-AP sekaligus memperluas jejaring akademik dan kolaborasi internasional di bidang sumber daya air.
Rangkaian kegiatan tersebut mempertemukan unsur riset, pendidikan, capacity development, dan pengelolaan sumber daya air berkelanjutan. Melalui keterlibatan berkelanjutan dalam UNESCO-IHP, pengalaman akademik serta hasil kajian dari Indonesia, termasuk kajian DAS Brantas, dapat terus terhubung dengan jejaring pengetahuan dan kerja sama hidrologi di kawasan Asia dan Pasifik.(ffn)














