Kanal24, Malang – Manusia tidak selalu membutuhkan dorongan untuk berpikir positif ketika menghadapi persoalan hidup. Kehilangan, tekanan, ketidakpastian, dan pengalaman yang menyakitkan merupakan bagian dari realitas yang perlu dihadapi. Dari titik tersebut, Prof. Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D. mengembangkan model “Lebur Duka Labur Rasa” dalam bidang Psikologi Umum dan Eksperimen.
Model ini menawarkan cara pandang yang menempatkan pengalaman dan perasaan sebagai bagian penting dalam memahami manusia. Individu tidak diarahkan untuk menekan emosi atau memaksakan optimisme, tetapi diajak mengenali pengalaman, memahami realitas, dan membangun kemampuan merespons keadaan secara lebih adaptif. Pendekatan tersebut diarahkan untuk membangun mental fitness sebagai kemampuan menghadapi kehidupan, bukan sekadar menangani persoalan psikologis ketika sudah muncul.
Baca Juga:
Pakar Internasional Bahas Transisi Energi dan Transformasi Digital di BEFIC 2026
Berangkat dari Realitas dan Pengalaman Manusia
Cleoputri melihat pengalaman manusia selalu berkaitan dengan perasaan. Satu peristiwa dapat dipahami secara berbeda karena setiap individu memiliki pengalaman subjektif yang tidak sama.
Dalam model “Lebur Duka Labur Rasa”, realitas dipandang sebagai sesuatu yang bersifat kondisional dan dapat berubah. Manusia tidak selalu memiliki kendali terhadap keadaan yang datang, tetapi dapat mengembangkan kemampuan untuk memahami pengalaman dan menentukan respons terhadapnya.
Pandangan tersebut berbeda dari pendekatan yang hanya menekankan optimisme atau pencarian kesenangan. Bagi Cleoputri, menghadapi persoalan tidak harus selalu ditempatkan dalam pilihan antara optimistis dan pesimistis. Sikap realistis menjadi ruang untuk melihat keadaan sebagaimana adanya, termasuk ketika pengalaman tersebut menghadirkan rasa tidak nyaman.
Pengakuan terhadap penderitaan justru menjadi bagian dari proses memahami diri. Ketika seseorang mampu menerima keberadaan pengalaman yang sulit, ia memiliki ruang untuk melihat perasaan dan situasi yang dihadapi dengan lebih jernih.

Lebur Duka, Labur Rasa, Bangun Mental Fitness
Istilah “Lebur Duka Labur Rasa” menjadi inti dari model yang dikembangkan Cleoputri. Lebur duka mengarah pada proses meredakan penderitaan, sedangkan labur rasa berkaitan dengan upaya menjernihkan perasaan agar pengalaman yang dihadapi dapat dipahami secara lebih utuh.
Dari proses tersebut, model ini diarahkan pada penguatan mental fitness. Konsep tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi ketika seseorang terbebas dari gangguan psikologis, tetapi juga kemampuan untuk menghadapi perubahan, mengenali pengalaman, dan merespons situasi secara adaptif.
Cleoputri turut menyoroti cara manusia memahami dirinya sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat merasa bahwa dirinya merupakan pusat dari berbagai pengalaman dan memiliki identitas yang tetap. Padahal, pengalaman manusia terus bergerak dan dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya.
Karena itu, model ini mendorong individu untuk memberi ruang terhadap pengalaman tanpa terburu-buru memberikan penilaian. Kesediaan untuk memulai dari pengalaman duka menjadi bagian penting untuk memahami perasaan dan membangun kesadaran terhadap kondisi diri.
Pendekatan tersebut juga memiliki keterkaitan dengan tradisi kontemplatif Timur yang memberi perhatian pada kesadaran terhadap pengalaman. Namun, gagasan yang dikembangkan Cleoputri tetap diarahkan dalam kerangka psikologi yang dapat diteliti dan diuji.
Pendekatan Realistis Terus Diuji
Bagi Cleoputri, model psikologi tidak cukup berhenti sebagai gagasan konseptual. “Lebur Duka Labur Rasa” perlu terus diuji untuk melihat penerapannya dalam berbagai konteks pengalaman manusia.
Pendekatan eksperimental menjadi bagian penting dalam pengembangan model tersebut. Pengujian secara berkelanjutan diperlukan agar konsep yang ditawarkan dapat terus diperiksa, dikembangkan, dan memiliki dasar penerapan yang kuat.
Realisme kemudian menjadi salah satu fondasi utama. Individu tidak diminta menolak emosi yang tidak menyenangkan maupun memaksakan kebahagiaan, melainkan memahami bahwa pengalaman hidup memiliki kondisi dan konsekuensi yang berbeda.
Cara pandang ini membuka ruang bagi psikologi untuk tidak hanya berfokus pada penanganan persoalan setelah muncul, tetapi juga membangun kapasitas manusia dalam menghadapi pengalaman sehari-hari.
Melalui “Lebur Duka Labur Rasa”, Cleoputri berupaya memperluas pembahasan psikologi mengenai hubungan manusia dengan realitas, perasaan, dan penderitaan. Model tersebut diharapkan terus berkembang melalui penelitian dan pendidikan sehingga pemahaman mengenai mental fitness dapat semakin dekat dengan pengalaman kehidupan masyarakat. (gal)














