Kanal24, Malang – Sebuah inovasi pertanian tidak otomatis diterapkan hanya karena petani telah mengetahui manfaatnya. Di antara pengetahuan dan keputusan untuk mengadopsi, terdapat proses panjang yang melibatkan pertimbangan, pengalaman, percobaan, hingga kesiapan petani menghadapi perubahan. Persoalan tersebut menjadi perhatian Prof. Ir. Edi Dwi Cahyono, M.Sc., Ph.D. melalui pengembangan model E/D/C-RITA dalam penyuluhan dan komunikasi pertanian.
Model ini dikembangkan dari pengalaman Edi selama hampir empat dekade mengamati proses adopsi inovasi di tingkat petani. Ia melihat petani bukan sekadar penerima informasi yang harus mengikuti rekomendasi, melainkan pengambil keputusan yang memiliki pertimbangan berdasarkan kebutuhan dan kondisi di lapangan. Pendekatan tersebut menjadi dasar untuk mendorong penyuluhan pertanian yang lebih partisipatif dan berorientasi pada kemandirian.
Baca Juga:
Tim 7 TEP UB Uji Rawai Bersama Nelayan Segun Papua
Adopsi Inovasi Bukan Sekadar Menerima
E/D/C-RITA dirancang untuk melihat adopsi inovasi sebagai sebuah proses, bukan sekadar hasil akhir antara menerima atau menolak. Dalam praktiknya, petani dapat melewati berbagai tahapan sebelum memutuskan menggunakan sebuah inovasi secara berkelanjutan.
Petani bisa terlebih dahulu mencoba dalam skala tertentu, melakukan eksperimen, berdiskusi, berkolaborasi, hingga menyesuaikan inovasi dengan kondisi yang mereka hadapi. Karena itu, keberhasilan penyuluhan tidak cukup diukur dari seberapa banyak petani mengetahui sebuah teknologi atau menyatakan ketertarikannya.
Menurut Edi, keputusan adopsi membutuhkan proses reflektif. Petani perlu memiliki kesempatan untuk menimbang manfaat, risiko, kebutuhan, serta kemungkinan penerapan inovasi dalam lingkungan mereka.
Model E/D/C-RITA kemudian memadukan pemikiran mengenai difusi inovasi, perilaku terencana, dan faktor struktural yang mendukung proses adopsi. Perpaduan tersebut digunakan untuk memahami keputusan petani secara lebih utuh, sekaligus melihat faktor yang dapat membantu inovasi diterapkan secara berkelanjutan.

Penyuluh Berperan sebagai Katalis
Perubahan cara melihat petani juga berpengaruh terhadap posisi penyuluh. Dalam pendekatan yang dikembangkan Edi, penyuluh tidak hanya bertugas menyampaikan informasi atau meyakinkan petani agar mengikuti suatu rekomendasi.
Penyuluh justru diarahkan menjadi katalis yang membantu petani memahami pilihan, mempertimbangkan konsekuensi, dan membangun kemampuan mengambil keputusan. Dengan demikian, komunikasi tidak berhenti pada penyampaian pesan, tetapi menjadi bagian dari proses pembentukan kapasitas petani.
Gagasan tersebut dirangkum Edi melalui prinsip, “Jangan Dipaksa-Terpaksa-Terbiasa, Tetapi Diajak-Menimbang-Memandirikan.”
Prinsip itu menegaskan bahwa adopsi inovasi diharapkan lahir dari proses kesadaran dan pertimbangan, bukan karena tekanan. Ketika petani memiliki ruang untuk mencoba dan mengevaluasi, keputusan yang diambil diharapkan lebih sesuai dengan kebutuhan sekaligus memiliki peluang keberlanjutan yang lebih besar.
Pendekatan tersebut sekaligus mendorong perubahan paradigma penyuluhan dari pola yang cenderung persuasif menuju komunikasi yang lebih dialogis dan memberdayakan.
E/D/C-RITA Diperkuat Instrumen Pengukuran
E/D/C-RITA tidak hanya menawarkan perubahan cara pandang, tetapi juga diarahkan agar proses adopsi dapat diamati dan diukur secara lebih sistematis.
Dalam model tersebut terdapat unsur RITA yang terdiri dari reflective, integrated, dan threshold. Ketiga unsur ini menggambarkan pentingnya refleksi dalam mengambil keputusan, keterpaduan berbagai faktor yang memengaruhi adopsi, serta adanya ambang tertentu sebelum seseorang benar-benar memutuskan untuk mengadopsi inovasi.
Edi juga mengembangkan instrumen COAST yang terdiri dari 30 butir untuk membantu mengukur aspek-aspek dalam proses tersebut. Kehadiran instrumen ini memungkinkan proses penyuluhan tidak hanya dinilai dari hasil akhirnya, tetapi juga dari perjalanan petani menuju keputusan adopsi.
Pendekatan itu menjadi penting karena keberhasilan inovasi pertanian tidak hanya ditentukan oleh kualitas teknologi. Faktor komunikasi, pengalaman, lingkungan pendukung, serta kemampuan petani dalam mempertimbangkan pilihan turut memengaruhi keberlanjutan penerapan inovasi.
Melalui E/D/C-RITA, Edi menawarkan pendekatan penyuluhan yang menempatkan petani sebagai subjek utama dalam proses adopsi. Inovasi tidak sekadar diperkenalkan untuk diterima, tetapi dikomunikasikan agar dapat dipahami, dipertimbangkan, diuji, dan pada akhirnya dipilih secara mandiri.
Dengan demikian, model tersebut memperluas peran komunikasi pertanian dari sekadar menyampaikan informasi menjadi sarana membangun kemampuan petani dalam mengambil keputusan. Bagi Edi, proses inilah yang menjadi fondasi penting agar adopsi inovasi pertanian tidak berhenti pada penggunaan sesaat, tetapi dapat berkembang menjadi praktik yang berkelanjutan. (gal)













