Kanal24, Malang – Perubahan pola musim membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi pada penghujung 2026. Musim hujan tahun ini diprediksi datang lebih lambat di sebagian besar wilayah Indonesia, sementara durasinya juga diperkirakan lebih pendek dibandingkan kondisi normal.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena masa peralihan menuju musim hujan berpotensi diikuti peningkatan curah hujan dalam waktu relatif singkat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat agar mewaspadai potensi bencana, khususnya pada November hingga Desember 2026. Peringatan itu disampaikan BMKG dalam pemaparan kondisi iklim dan prakiraan musim hujan 2026/2027 di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Baca juga:
Go Digital Saja Tak Cukup, UMKM Butuh Akses Pasar
Musim Hujan 2026 Diprediksi Datang Lebih Lambat
BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kemunduran. Dari total Zona Musim (ZOM) yang dipantau, sebanyak 529 ZOM atau sekitar 61,08 persen luas daratan Indonesia diperkirakan memasuki musim hujan lebih lambat dibandingkan rata-rata klimatologisnya.
Sebagian wilayah diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November 2026. Namun, wilayah lainnya baru mengalami awal musim hujan pada Desember.
Kondisi ini berkaitan dengan masih kuatnya pengaruh El Niño. BMKG menyebut fenomena tersebut saat ini berada pada kategori sangat kuat dan diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027. Dampaknya terhadap Indonesia terutama terasa dalam bentuk kondisi yang lebih kering dan mundurnya awal musim hujan.
Sebelumnya, BMKG juga telah memprediksi musim kemarau 2026 berlangsung lebih kering dan panjang dibandingkan kondisi normal. Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah harus menghadapi periode tanpa hujan yang lebih panjang sebelum memasuki musim penghujan.
November-Desember Jadi Periode yang Perlu Diwaspadai
Mundurnya musim hujan bukan berarti risiko bencana ikut bergeser seluruhnya. Justru, perubahan pola hujan perlu diantisipasi karena periode transisi dapat diikuti hujan dengan intensitas tinggi di sejumlah wilayah.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi pada November hingga Desember 2026. Ancaman tersebut antara lain banjir, tanah longsor, angin kencang, serta dampak lain yang dapat muncul akibat perubahan kondisi cuaca.
Pada saat yang sama, sebagian wilayah Indonesia diperkirakan mencapai puncak musim hujan pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Artinya, periode akhir tahun menjadi fase penting dalam penguatan mitigasi bencana, terutama bagi wilayah yang memiliki kerentanan terhadap banjir dan longsor.
BMKG juga mencatat musim hujan 2026/2027 diperkirakan berlangsung lebih singkat di banyak wilayah. Meski demikian, durasi musim hujan yang lebih pendek tidak otomatis berarti curah hujan rendah. Hujan dengan intensitas tinggi tetap dapat terjadi dalam periode tertentu dan berpotensi memicu bencana apabila kondisi lingkungan serta infrastruktur tidak siap.
Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG, terutama ketika terjadi perubahan cuaca secara cepat.
Mitigasi Bencana Perlu Disiapkan Sejak Dini
Perubahan pola musim juga berdampak pada berbagai sektor. Pemerintah daerah perlu menyesuaikan kesiapan infrastruktur, sistem drainase, pengelolaan sumber daya air, hingga mekanisme respons apabila terjadi bencana.
Di wilayah rawan banjir, kapasitas saluran drainase dan kesiapan daerah resapan menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan. Sementara di daerah dengan kontur rawan longsor, kondisi tanah dan lingkungan sekitar perlu dipantau ketika hujan mulai meningkat.
Kesiapsiagaan juga penting karena Indonesia masih berada dalam pengaruh El Niño. BMKG sebelumnya menyebut kondisi El Niño yang kuat dapat memperpanjang periode kering dan meningkatkan risiko karhutla selama musim kemarau.
Dengan demikian, perubahan dari musim kemarau menuju musim hujan perlu dilihat sebagai periode yang membutuhkan kesiapan berbeda. Jika sebelumnya masyarakat menghadapi kekeringan dan ancaman kebakaran hutan dan lahan, maka memasuki musim hujan perhatian mulai bergeser pada potensi banjir, longsor, angin kencang, dan cuaca ekstrem.
BMKG menekankan pentingnya informasi cuaca dan iklim digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan lintas sektor. Pemerintah daerah, pengelola infrastruktur, sektor pertanian, hingga masyarakat dapat menyesuaikan langkah antisipasi berdasarkan karakteristik wilayah masing-masing.
Dengan musim hujan yang datang lebih lambat dan diperkirakan berlangsung lebih singkat, kewaspadaan tidak cukup dilakukan ketika bencana telah terjadi. Kesiapan menghadapi perubahan cuaca perlu dibangun sejak masa peralihan agar potensi dampak bencana pada akhir 2026 dapat ditekan.(ffn)














