Kanal24, Malang – Produktivitas di lingkungan perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh pencapaian target akademik dan kinerja institusi, tetapi juga oleh kesejahteraan orang-orang yang menjalankan berbagai tanggung jawab tersebut. Di tengah padatnya pekerjaan, dosen dan tenaga kependidikan membutuhkan keseimbangan antara tuntutan profesional dan kesehatan mental agar dapat terus berkarya tanpa mengabaikan kondisi diri.
Komitmen tersebut menjadi perhatian Universitas Brawijaya (UB) melalui webinar bertajuk “Deadline Jalan Terus, Bahagia Jangan Putus” yang diselenggarakan Direktorat Sumber Daya Manusia (SDM) UB pada Rabu (28/10/2026). Direktur SDM UB, Prof. Dr. Asfi Manzilati, M.E., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya promotif universitas untuk meningkatkan literasi kesehatan mental sekaligus mendorong terciptanya iklim kerja yang kondusif bagi dosen dan tenaga kependidikan.
Baca juga:
Prof Jo Lampert Soroti Kekurangan Guru di Sekolah yang Membutuhkan
Kesehatan Mental Jadi Bagian Kesejahteraan Pegawai
Prof. Asfi menjelaskan bahwa UB memandang kesejahteraan pegawai secara menyeluruh, meliputi aspek finansial, fisik, dan mental. Ketiganya menjadi bagian penting dalam mendukung kualitas hidup sekaligus menjaga keberlanjutan kinerja di lingkungan kampus.
Penyelenggaraan webinar tersebut juga dilatarbelakangi hasil identifikasi kondisi kesehatan mental yang dilakukan pada tahun sebelumnya. Dari proses tersebut, terdapat indikasi risiko yang perlu mendapat perhatian, terutama berkaitan dengan tekanan pekerjaan yang berpotensi mengarah pada stres maupun kelelahan kerja atau burnout.
Menurut Prof. Asfi, dosen dan tenaga kependidikan menghadapi tuntutan pekerjaan yang beragam. Karena itu, upaya menjaga produktivitas perlu disertai perhatian terhadap keseimbangan antara pekerjaan dan kesehatan mental.
“Bagaimana supaya kita selalu merasa bahagia, tetap dengan cara berkarya yang luar biasa,” ujar Prof. Asfi.
Ia menegaskan, pencapaian target kinerja tidak seharusnya membuat pegawai mengesampingkan kesejahteraan diri. Lingkungan kerja perlu mendukung setiap individu agar mampu menjalankan tanggung jawab secara optimal sekaligus menjaga kesehatan mentalnya.
Empat Pilar Pendampingan Kesehatan Mental
Direktorat SDM UB mengembangkan pendekatan pendampingan kesehatan mental melalui empat aspek, yakni promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Pendekatan ini mencakup upaya peningkatan kesadaran hingga penanganan profesional sesuai kebutuhan.
Pada aspek promotif, UB mendorong literasi dan edukasi kesehatan mental serta pembentukan iklim kerja yang kondusif. Webinar menjadi salah satu sarana untuk memperluas pemahaman pegawai mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah tuntutan pekerjaan.
Sementara itu, aspek preventif mencakup deteksi dini risiko, layanan konseling, dan pembinaan konselor. Langkah ini diharapkan membantu mengenali persoalan sejak awal sehingga dukungan dapat diberikan sesuai kondisi individu.
Adapun aspek kuratif mencakup intervensi medis, terapi profesional, serta rujukan ke rumah sakit mitra apabila diperlukan. Setelah proses penanganan, aspek rehabilitatif diarahkan pada pemulihan kondisi kejiwaan dan dukungan untuk kembali menjalankan aktivitas.
Prof. Asfi menambahkan bahwa upaya menjaga kesehatan mental perlu berjalan beriringan dengan perhatian terhadap kesehatan fisik. UB telah memiliki fasilitas kesehatan, termasuk layanan pemeriksaan kesehatan dan klinik, yang menjadi bagian dari dukungan kesejahteraan pegawai.
Dengan pendekatan berkelanjutan tersebut, kesehatan mental diharapkan tidak hanya menjadi perhatian ketika persoalan muncul, tetapi juga menjadi bagian dari kebiasaan menjaga kesejahteraan sehari-hari.
Kolaborasi Bangun Budaya Kerja Sehat
Ke depan, Direktorat SDM UB menilai pembangunan budaya kerja yang sehat dan membahagiakan membutuhkan keterlibatan seluruh unsur universitas. Kolaborasi dengan direktorat lain serta unit-unit di tingkat fakultas diperlukan agar dukungan terhadap dosen dan tenaga kependidikan dapat berjalan secara terintegrasi.
Pendampingan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga mencakup pengembangan karier, kesejahteraan, dan dukungan fasilitas. Pegawai diharapkan merasa didampingi dalam menjalankan tanggung jawab sekaligus mengembangkan kapasitas profesionalnya.
Prof. Asfi menekankan bahwa pencapaian indikator kinerja individu maupun universitas tetap penting. Namun, target tersebut perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kondisi dan kesejahteraan pegawai.
Ia juga mendorong tumbuhnya budaya kerja yang mengutamakan kolaborasi daripada persaingan yang tidak sehat. Setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat saling melengkapi untuk mencapai tujuan bersama.
Menurutnya, prestasi tidak selalu lahir dari usaha seseorang secara mandiri, melainkan turut melibatkan dukungan orang lain. Karena itu, rekan kerja perlu membangun hubungan yang saling mendukung agar keberhasilan dapat dicapai tanpa harus menjatuhkan pihak lain.
Melalui penguatan literasi kesehatan mental dan kolaborasi lintas unit, UB berupaya membangun lingkungan kerja yang tidak hanya berorientasi pada produktivitas, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan pegawai. Dengan demikian, dosen dan tenaga kependidikan diharapkan dapat terus berkarya, mengembangkan prestasi, dan menjaga keseimbangan hidup di tengah tuntutan pekerjaan.(ffn)














