Kanal24, Malang – Kecemasan menghadapi dunia kerja menjadi salah satu tantangan yang banyak dialami mahasiswa menjelang kelulusan. Fenomena tersebut mengemuka dalam East Java Collaboration Summit 2026 yang digelar Kementerian Luar Negeri EM UB 2026 di Samantha Krida Universitas Brawijaya, Rabu (24/6/2026), melalui sesi talkshow bersama psikolog industri Beva Anggun Lorita, M.Psi., Psikolog.
Menurut Beva, rasa cemas sebenarnya merupakan hal yang wajar selama seseorang mampu mengenali dan mengelolanya. Ia menilai banyak mahasiswa merasa khawatir karena belum memahami kompetensi, potensi, serta arah karier yang ingin ditempuh setelah lulus.
“Kecemasan itu enggak apa-apa, teman-teman. Jadi kecemasan itu dalam kadar yang masih batasnya wajar, dalam artian teman-teman tahu teman-teman cemas, tapi teman-teman tahu mengatasinya seperti apa,” ujarnya.
Baca Juga :
Benarkah Pancasila Bukan Sekadar Ideologi Negara? Disertasi FH UB Uji Ulang Fondasi Hukum Indonesia
Kenali Kompetensi dan Potensi Diri
Beva menjelaskan, ketidakjelasan mengenai kemampuan dan tujuan karier sering menjadi akar dari kebingungan mahasiswa. Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk aktif mencari pengalaman dan terus belajar guna mempersempit kesenjangan kompetensi yang dimiliki.

“Teman-teman harus tahu kompetensinya apa, potensinya apa, arah pekerjaannya mau di bidang apa sih. Sehingga kita ibaratnya mencari ilmu sebanyak-banyaknya, mencari pengalaman kerja sebanyak-banyaknya,” katanya.
Ia juga menegaskan pentingnya sikap adaptif di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh berhenti belajar agar mampu mengikuti kebutuhan industri yang terus berkembang.
Waspadai Saat Kebingungan Beririsan dengan Kesehatan Mental
Dalam kesempatan tersebut, Beva turut membedakan antara kebingungan karier yang masih wajar dengan kondisi yang mulai mengganggu kesehatan mental. Ia menyebut kebingungan karier dapat diatasi dengan mengenali kekuatan dan kelemahan diri, lalu menyusun langkah yang sesuai.
Namun, mahasiswa perlu waspada apabila mulai kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari.
“Ketika teman-teman sudah tidak minat lagi terhadap hal yang awalnya teman-teman senangi, misalnya senang belajar, tiba-tiba menarik diri, itu teman-teman juga harus aware,” jelasnya.
Menurut Beva, dalam kondisi tersebut seseorang membutuhkan sudut pandang dari pihak lain agar dapat menemukan arah dan solusi atas kebingungan yang dialami.
Kegagalan Bukan Identitas
Selain kesiapan mental, Beva menekankan pentingnya memahami nilai diri atau value sebagai bekal memasuki dunia kerja. Dengan mengenali nilai, kompetensi, dan potensi yang dimiliki, mahasiswa akan lebih mudah beradaptasi dan menunjukkan performa terbaik di lingkungan kerja.
Menutup sesi talkshow, ia berpesan agar mahasiswa tidak terjebak dalam perbandingan dengan orang lain. Setiap individu memiliki proses dan jalannya masing-masing untuk berkembang.
“Kegagalan bukan sebuah identitas, tetapi sebuah keadaan sementara yang membuat teman-teman wake up, bangun, menjadi alarm,” tegasnya.
Ia pun mengajak mahasiswa untuk terus menggali potensi diri dan membangun rasa percaya diri sebagai modal utama menghadapi dunia kerja. “Tetap percaya diri untuk level up,” pungkasnya. (ger)














