Kanal24 – Di sebuah kota tambang tua di Sumatera Barat, jejak sejarah tidak hanya tersimpan dalam bangunan dan rel kereta yang membisu. Ia hidup dalam arsip-arsip lama, foto-foto yang mulai memudar, cerita lisan masyarakat, hingga benda-benda yang pernah menjadi saksi aktivitas tambang di masa lalu.
Namun, di tengah kekayaan itu, muncul satu pertanyaan sederhana yang justru menjadi persoalan besar: bagaimana semua pengetahuan ini bisa ditemukan dan dipahami dengan utuh?
Pertanyaan inilah yang kemudian membawa Muhammad Rosyihan Hendrawan, dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (UB), menelusuri persoalan yang selama ini luput dari perhatian—cara kita mengorganisasi pengetahuan tentang warisan budaya. Bersama tim dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, ia mencoba menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan yang tidak hanya teknis, tetapi juga menyentuh cara manusia memahami makna.
Ketika Warisan Budaya Terpecah dalam “Bahasa” yang Berbeda
Di Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto (OCMHS), yang telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia UNESCO, berbagai informasi budaya tersebar di banyak lembaga—perpustakaan, arsip, dan museum.
Setiap lembaga memiliki cara sendiri dalam mengelompokkan informasi. Perpustakaan menggunakan sistem klasifikasi berbasis angka, arsip mengandalkan struktur administratif, sementara museum mengelompokkan berdasarkan jenis koleksi. Perbedaan ini membuat informasi yang seharusnya saling terhubung justru terpisah dalam sistem yang berbeda-beda.
Akibatnya, pengetahuan menjadi sulit diakses secara utuh. Seseorang yang ingin memahami satu topik sering kali harus “berpindah bahasa” antar lembaga. Dalam konteks yang lebih luas, kondisi ini membuat warisan budaya kehilangan keterhubungan maknanya.

“Pusako Ombilin”, Upaya Menyatukan Cara Kita Memahami Budaya
Berangkat dari persoalan tersebut, Rosyihan menghadirkan sebuah pendekatan bernama taxonomy atau taksonomi—cara mengelompokkan informasi secara terstruktur agar lebih mudah dipahami.
Secara sederhana, taksonomi dapat diibaratkan sebagai peta pengetahuan. Ia memungkinkan satu informasi ditemukan dari berbagai jalur, mengikuti cara berpikir pengguna, bukan sekadar logika sistem yang kaku.
Melalui risetnya, ia mengembangkan “Pusako Ombilin”, sebuah taksonomi yang dibangun dari 445 istilah lokal Indonesia yang dikumpulkan dari berbagai sumber, mulai dari dokumen hingga praktik budaya masyarakat.
Yang membuatnya berbeda, sistem ini lahir dari pendekatan partisipatif. Pustakawan, arsiparis, kurator, hingga masyarakat dilibatkan untuk memastikan bahwa struktur yang dibangun benar-benar mencerminkan cara orang mencari dan memahami informasi.
Taksonomi ini kemudian mengelompokkan warisan budaya dalam tema-tema yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari—seperti tradisi, seni pertunjukan, kawasan kota lama, hingga pengetahuan tentang alam—sehingga lebih intuitif bagi pengguna.
Pendekatan ini sekaligus menjadi kritik terhadap sistem global yang selama ini digunakan. Banyak istilah lokal Indonesia tidak terakomodasi dengan baik, sehingga sebagian makna budaya berisiko hilang dalam proses dokumentasi.
“Pusako Ombilin” hadir untuk menjawab celah tersebut, dengan menghadirkan sistem yang lebih kontekstual dan berakar pada budaya lokal.

Dari Alat Pencarian Menjadi Jembatan Makna Budaya
Lebih dari sekadar alat pencarian, “Pusako Ombilin” membawa perubahan dalam cara warisan budaya diakses dan dipahami.
Dengan sistem ini, pengguna dapat menelusuri informasi berdasarkan topik, jenis sumber, maupun tokoh yang terlibat. Proses pencarian menjadi lebih cepat dan terarah, sekaligus membuka kemungkinan untuk melihat keterkaitan antar informasi yang sebelumnya terpisah.
Tak hanya itu, taksonomi ini juga membantu mengidentifikasi kekosongan dalam koleksi budaya—bagian mana yang belum terdokumentasi dan perlu dilengkapi. Dengan demikian, ia tidak hanya berfungsi untuk menemukan masa lalu, tetapi juga mengarahkan upaya pelestarian ke depan.
Implementasi “Pusako Ombilin” dalam bentuk repositori digital menunjukkan bahwa riset ini tidak berhenti pada konsep. Ia hadir sebagai solusi nyata yang dapat digunakan dan dikembangkan lebih lanjut.
Lebih jauh, karya ini menegaskan bahwa kontribusi perguruan tinggi tidak hanya pada produksi pengetahuan, tetapi juga pada bagaimana pengetahuan itu diorganisasi dan dimaknai.
Pada akhirnya, dari Ombilin muncul sebuah pelajaran penting: di era informasi, tantangan terbesar bukan lagi mengumpulkan data, melainkan menyatukan makna di dalamnya. Dan untuk itu, kita membutuhkan satu hal yang sering dianggap sederhana—bahasa yang sama.
Sumber : Developing a cultural heritage taxonomy for an Indonesian world heritage site














