Kanal24, Teheran – Warisan budaya Ayatollah Sayyed Ali Khamenei dinilai tetap menjadi salah satu fondasi penting bagi masa depan dunia Islam, bahkan setelah wafatnya pemimpin Revolusi Islam tersebut. Penilaian itu disampaikan Dr. Abdullah Assegaf, anggota Majelis Umum Forum Dunia untuk Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam, yang menegaskan bahwa pemikiran Ayatollah Khamenei melampaui dimensi politik dan berfokus pada penguatan identitas, ilmu pengetahuan, serta ketahanan budaya umat.
Pernyataan tersebut disampaikan Dr. Abdullah dalam wawancara dengan Taqrib News Agency (TNA) menjelang prosesi pemakaman mendiang pemimpin yang gugur dalam serangan pada akhir Februari yang menargetkan ibu kota Iran, Teheran.
Menurut Dr. Abdullah, Ayatollah Khamenei secara konsisten menekankan bahwa masa depan umat Islam tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer maupun ekonomi. Ia menilai, keberhasilan umat juga bergantung pada kemampuan menjaga identitas, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta mempertahankan fondasi budaya dan nilai-nilai spiritual.
Baca juga:
Dosen UB Soroti Paradigma Karbala dalam Forum Internasional Iran
Ia menjelaskan, Ayatollah Khamenei berulang kali mengingatkan bahwa bentuk dominasi pada era modern semakin banyak berlangsung melalui budaya, media, pendidikan, dan pembentukan opini publik. Fenomena tersebut kerap disebutnya sebagai soft war atau perang lunak.
“Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, Pemimpin Revolusi Islam mengusung strategi jangka panjang berupa ketahanan budaya yang berpusat pada pendidikan, pengembangan intelektual, literasi media, serta penguatan nilai-nilai Islam yang autentik,” ujar Dr. Abdullah.
Selain ketahanan budaya, Dr. Abdullah menilai salah satu pilar utama pemikiran Ayatollah Khamenei adalah penguatan ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan umat Islam.
Ia mengatakan Ayatollah Khamenei secara konsisten mendorong dialog, saling menghormati, dan kerja sama di antara berbagai mazhab Islam. Menurutnya, keberagaman etnis maupun mazhab seharusnya menjadi sumber kekuatan dan pengayaan, bukan pemicu perpecahan di tengah umat.
Dr. Abdullah juga menyoroti upaya Ayatollah Khamenei dalam menghubungkan kembali masyarakat Muslim dengan warisan intelektual dan peradaban Islam yang kaya. Di sisi lain, ia tetap membuka ruang bagi kemajuan ilmu pengetahuan, perkembangan teknologi, dan keterlibatan yang konstruktif dengan dunia modern.
Dalam pandangannya, budaya tidak hanya menjadi ekspresi identitas, tetapi juga merupakan fondasi strategis untuk mewujudkan keadilan, martabat, kemandirian, serta pembaruan peradaban Islam.
Lebih lanjut, Dr. Abdullah menyebut pendekatan komprehensif tersebut telah mendorong para intelektual Muslim dan berbagai lembaga akademik memberikan perhatian lebih besar terhadap pendidikan, dialog antarperadaban, serta penguatan kepercayaan diri budaya sebagai bagian penting dari pembangunan berkelanjutan dan ketahanan sosial.
Menutup pernyataannya, Dr. Abdullah mengatakan warisan budaya Ayatollah Sayyed Ali Khamenei terus menginspirasi diskusi mengenai bagaimana masyarakat Muslim dapat mengejar kemajuan dan modernisasi tanpa kehilangan identitas keagamaan, nilai-nilai spiritual, maupun akar peradabannya.
Ia menegaskan, visi tersebut masih relevan dalam berbagai pembahasan kontemporer mengenai persatuan umat Islam, ketahanan budaya, dan masa depan peradaban Islam.














