Kanal24, Malang – Dua pekan mempelajari potensi herbal Indonesia membawa peserta International Summer School of Pharmacy (ISSP) UB 2026 pada pengalaman yang tidak berhenti di ruang kelas. Dari pembelajaran hands-on hingga eksplorasi tanaman obat di UB Forest, peserta dari berbagai negara mendapatkan gambaran mengenai bagaimana bahan alam dapat dikembangkan dalam perspektif kefarmasian dan terapi yang berorientasi pada pasien.
Rangkaian ISSP UB-3 resmi berakhir Jumat (14/8/2026) di Auditorium GPP Lantai 6 Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB). Mengangkat tema “Translational Pharmacy: From Herbal Discovery to Patient-Centered Therapeutics”, program yang berlangsung 3–14 Agustus 2026 ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan tentang herbal, tetapi juga memperkuat jejaring antara Universitas Brawijaya dengan perguruan tinggi dari Indonesia maupun luar negeri.
Baca Juga:
Mahasiswa KKN FBiPK UB Sulap Pekarangan Jadi Taman Pangan Berkelanjutan
Tujuan ISSP UB 2026 Tercapai
Ketua Pelaksana ISSP UB-3, Dr. Anisyah Achmad, S.Si., Apt., Sp.FRS., mengatakan pelaksanaan tahun ini telah mencapai tujuan utama yang ditetapkan panitia. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai herbal, tetapi juga mendapat pengalaman langsung melalui kegiatan praktik serta informasi dari berbagai instansi terkait.

“Anak-anak ataupun peserta yang mengikuti acara ini bisa mendapatkan lebih banyak knowledge tentang pengetahuan herbal, baik itu dalam pengolahan sendiri secara hands-on ataupun informasi-informasi dari instansi terkait,” ujar Anisyah.
Menurutnya, capaian lain yang penting adalah terbentuknya hubungan antarpeserta dari berbagai negara. ISSP menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal perspektif berbeda mengenai penggunaan herbal sekaligus membuka peluang kerja sama antaruniversitas.
Program ini sekaligus memperlihatkan bahwa pembelajaran herbal tidak hanya berlangsung satu arah. Peserta internasional juga membawa pengalaman dari negara masing-masing dan membagikannya selama program berlangsung.
UB Forest Jadi Pengalaman Berkesan
Salah satu agenda yang paling membekas bagi peserta adalah eksplorasi UB Forest. Dalam kegiatan tersebut, peserta melakukan tracking sekitar empat kilometer dengan jalur menanjak sambil mengenali berbagai tanaman yang selama ini mungkin belum mereka temui di negara asal.
Lengkuas, jahe, kunyit, kopi, serta tanaman lainnya dikenalkan secara langsung di lingkungan alaminya. Bagi peserta dari Malaysia dan Singapura, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk mengetahui tanaman yang tidak selalu tersedia di negara mereka.
“Di situ mereka semua langsung belajar di tempat, bagaimana secara fisik mengenal lengkuas, jahe, kunyit, kopi, dan juga banyak tanaman-tanaman di UB Forest yang memang dalam keseharian kami belum lihat,” jelas Anisyah.
Peserta juga diperkenalkan dengan fungsi sejumlah tanaman, termasuk potensi analgesik dan manfaat yang berkaitan dengan sistem imunologi. Pengalaman tersebut memperluas pembelajaran dari sekadar teori menjadi pengenalan langsung terhadap sumber bahan alam.
Ketertarikan terhadap pengobatan herbal Indonesia turut muncul dari peserta internasional. Salah satu peserta asal Singapura, misalnya, menyampaikan rencana untuk lebih mendalami Traditional Chinese Medicine (TCM) setelah menyelesaikan pendidikan profesi apoteker.
ISSP 2027 Jadi Target Keberlanjutan
Bagi Departemen Farmasi FKUB, berakhirnya ISSP UB 2026 bukan menjadi penutup hubungan dengan para peserta dan mitra internasional. Justru, program ini diharapkan menjadi awal bagi kolaborasi yang lebih panjang dalam bidang pendidikan, penelitian, maupun kegiatan sosial.
Anisyah menilai pertukaran pengetahuan menjadi salah satu capaian penting tahun ini. Tidak hanya peserta yang belajar mengenai herbal Indonesia, panitia dan akademisi UB juga memperoleh gambaran mengenai perkembangan herbal di negara lain.
“Jadi bukan hanya kami yang berbagi ilmu kepada mereka, mereka juga berbagi kepada kami bagaimana perkembangan herbal di negara-negara mereka,” katanya.
Ke depan, Departemen Farmasi FKUB berharap dapat kembali mengundang peserta maupun mitra dari universitas yang telah terlibat dalam ISSP UB-3 untuk penyelenggaraan ISSP 2027. Jejaring yang terbentuk selama program diharapkan dapat diteruskan dalam bentuk kolaborasi yang lebih konkret.
“Harapannya kami bisa terus berkolaborasi, baik dalam hal sosial, riset, maupun pendidikan,” ujar Anisyah.
Dengan demikian, penutupan ISSP UB 2026 menjadi momentum untuk menjaga kesinambungan jejaring internasional yang telah dibangun. Dari pembelajaran herbal hingga pertukaran pengalaman antarnegara, program ini membuka ruang agar kolaborasi farmasi UB dengan mitra global tidak berhenti setelah rangkaian summer school selesai. (ndr)













