Kanal24, Malang – Nasionalisme mudah terasa ketika lagu kebangsaan dinyanyikan, Merah Putih dikibarkan, dan seluruh peserta berdiri dalam satu barisan. Tantangannya adalah menjaga semangat itu tetap hidup ketika masyarakat menghadapi situasi bangsa yang tidak selalu mudah.
Tekanan ekonomi, perubahan sosial yang cepat, derasnya arus informasi, serta perbedaan pandangan yang semakin mudah memisahkan masyarakat membuat semangat kebangsaan perlu terus dirawat. Peringatan kemerdekaan menjadi salah satu momentum untuk kembali mengingat bahwa Indonesia dibangun dari keberagaman, tetapi memiliki tujuan bersama.
Di lingkungan perguruan tinggi, pesan tersebut menjadi semakin penting. Kampus tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pendidikan dan penelitian, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan cara pandang kebangsaan, menghargai perbedaan, serta membangun kebersamaan.
Baca juga : Dosen dan Diktendik Berprestasi UB Cetak Inovasi Berdampak
Pesan itu terasa sejak pagi di Universitas Brawijaya, Senin (17/8/2026). Sebelum upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dimulai, halaman UB dipenuhi rombongan civitas academica yang mengikuti kirab kemerdekaan. Fakultas, unit kerja, dan berbagai unsur di lingkungan UB tampil dengan konsep masing-masing, membawa busana adat, karakter budaya, ornamen Nusantara hingga kostum karnaval.
Ada rombongan yang menampilkan identitas budaya daerah. Ada yang memilih karakter tertentu, sementara kelompok lainnya mengemas semangat kemerdekaan melalui kostum dan properti yang lebih kreatif.

Keberagaman itu terlihat jelas sepanjang kirab. Tidak semua tampil dengan konsep yang sama. Tidak semua membawa simbol budaya yang sama. Namun seluruh rombongan bergerak dalam satu rangkaian menuju lokasi upacara. Di situlah pesan kebersamaan terasa sederhana: berbeda dalam cara tampil, tetapi tetap berjalan bersama.
Kirab Membawa Cerita Indonesia
Kirab kemerdekaan menjadi bagian yang menarik dalam peringatan HUT RI di UB karena keberagaman yang biasanya hadir dalam ruang akademik dan pekerjaan ditampilkan secara terbuka.
Civitas academica datang dari berbagai fakultas, unit kerja, bidang profesi, serta latar belakang. Dalam keseharian, mereka memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda. Melalui kirab, perbedaan tersebut justru menjadi bagian dari perayaan bersama.

Busana adat dan berbagai karakter yang ditampilkan mengingatkan bahwa Indonesia tidak dibangun dari satu identitas budaya.
Semangat Bhinneka Tunggal Ika menjadi relevan dalam konteks tersebut. Kebersamaan tidak selalu berarti harus memiliki bentuk yang sama. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk hidup berdampingan, menghargai perbedaan, dan tetap memiliki tujuan bersama.
Setelah kirab berlangsung, suasana di lapangan berubah. Peserta kembali menempatkan diri dalam barisan untuk mengikuti upacara peringatan kemerdekaan.

Suasana menjadi lebih khidmat. Bendera Merah Putih, lagu kebangsaan, dan seluruh rangkaian upacara membawa peserta kembali pada makna kemerdekaan sebagai hasil perjuangan panjang bangsa Indonesia.
Perubahan suasana dari kirab yang penuh warna menuju upacara yang khidmat menjadi bagian menarik dari peringatan tersebut. Kemerdekaan dirayakan dengan kegembiraan, tetapi juga dengan penghormatan dan kesadaran terhadap tanggung jawab untuk mengisinya.
Mengapresiasi Mereka yang Berprestasi
Dalam rangkaian peringatan tersebut, Universitas Brawijaya juga memberikan penghargaan kepada Dosen dan Tenaga Kependidikan (Tendik) Berprestasi.
Penghargaan menjadi bentuk apresiasi terhadap insan UB yang telah menunjukkan capaian dan kontribusi dalam menjalankan perannya di lingkungan universitas.
Bagi perguruan tinggi, prestasi tidak hanya berbicara mengenai penghargaan yang diterima. Ada kerja panjang di belakangnya, mulai dari pengembangan pendidikan, penelitian, pelayanan, hingga berbagai kontribusi yang mendukung kemajuan institusi.
Karena itu, pemberian penghargaan dalam momentum kemerdekaan memiliki makna tersendiri. Semangat mengisi kemerdekaan juga dapat diwujudkan melalui kerja dan prestasi di bidang masing-masing.

Dosen mengembangkan ilmu dan mendampingi mahasiswa. Tenaga kependidikan memastikan berbagai layanan berjalan. Mahasiswa terus berkarya dan mengembangkan potensi. Masing-masing memiliki ruang kontribusi yang berbeda, tetapi semuanya berada dalam satu ekosistem perguruan tinggi.
Dari kirab hingga penghargaan, peringatan HUT ke-81 RI di Universitas Brawijaya memperlihatkan bahwa nasionalisme dapat hadir dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan kampus.
Ia hadir ketika keberagaman dirayakan tanpa menghilangkan kebersamaan. Ia hadir ketika prestasi diapresiasi. Dan ia hadir ketika setiap orang memahami bahwa kemerdekaan membawa tanggung jawab untuk terus berkarya dan memberikan manfaat.
Di tengah situasi bangsa yang penuh tantangan, menjaga semangat tersebut menjadi semakin penting. Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang mengingat bagaimana Indonesia berdiri sebagai bangsa. Kemerdekaan juga tentang bagaimana setiap generasi memilih untuk menjaga persatuan, bekerja, dan memberikan kontribusi bagi Indonesia.(Din)














