Kanal24, Malang – Inovasi tidak lahir dari ruang laboratorium semata. Di balik setiap riset yang memberi manfaat bagi masyarakat dan setiap layanan akademik yang terus berkembang, ada dedikasi dosen serta tenaga kependidikan yang bekerja melampaui rutinitas. Komitmen itulah yang membentuk daya saing sebuah perguruan tinggi sekaligus menjaga relevansinya di tengah kebutuhan masyarakat yang terus berubah.
Universitas Brawijaya menggelar Grand Final Diktendik Berprestasi 2026 pada Rabu (29/7/2026) sebagai bentuk apresiasi terhadap sivitas akademika yang telah menunjukkan kinerja, inovasi, dan kontribusi terbaiknya. Ajang ini menjadi puncak proses seleksi untuk memilih figur terbaik yang dinilai layak menjadi teladan sekaligus dipersiapkan mewakili UB pada berbagai kompetisi dan penghargaan tingkat nasional.
Baca juga:
Mahasiswa FTAB UB Kenalkan PhytoTracker di Forum ASEAN
Seleksi Berjenjang hingga Grand Final
Untuk menjaring kandidat terbaik, Universitas Brawijaya menerapkan sistem seleksi yang dilakukan secara bertahap.
Peserta dapat mengikuti ajang ini melalui dua jalur, yakni mendaftar secara mandiri dengan persetujuan pimpinan unit atau mendapatkan penugasan langsung dari fakultas maupun unit kerja masing-masing.

Tahapan pertama berupa seleksi administrasi untuk memastikan seluruh persyaratan terpenuhi. Setelah itu, peserta mengikuti desk evaluation yang menjadi dasar penentuan tiga kandidat terbaik pada setiap kategori sebelum melangkah ke babak grand final.
“Dari desk evaluation akan dipilih tiga kandidat terbaik yang kemudian dibawa ke grand final,” jelasnya.
Melalui mekanisme tersebut, panitia memastikan setiap finalis memiliki rekam jejak, kompetensi, serta kontribusi nyata yang layak menjadi teladan bagi sivitas akademika Universitas Brawijaya.
Inovasi dan Dampak Sosial Jadi Penilaian Utama
Selain capaian akademik, aspek inovasi menjadi poin penting dalam penilaian para finalis. Menurut panitia, inovasi harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Bagi dosen, penilaian juga mempertimbangkan indikator akademik seperti H-Index Scopus, jumlah sitasi ilmiah, hingga produktivitas publikasi. Seluruh indikator tersebut menjadi bagian dari Indikator Kinerja Utama (IKU) yang digunakan universitas dalam mengukur kinerja dosen.
Lebih jauh, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah. Inovasi yang dihasilkan harus masuk ke dalam proses pembelajaran agar mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Universitas Brawijaya.
Di sisi lain, pengabdian kepada masyarakat menjadi ruang bagi dosen untuk memahami persoalan nyata di lapangan sehingga riset yang dilakukan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Finalis Muda dengan Jejaring Internasional
Panitia menilai kualitas finalis tahun ini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Sebagian besar merupakan akademisi muda yang produktif menghasilkan inovasi serta aktif membangun jejaring kolaborasi di tingkat nasional maupun internasional.
“Mereka masih muda, banyak melakukan inovasi, memiliki networking nasional maupun internasional, dan karya-karyanya telah mendapatkan pengakuan. Itu menunjukkan apa yang mereka lakukan berdampak dan diakui masyarakat,” ungkap Prof. Sudarminto Setyo Yuwono
Meski demikian, panitia menilai setiap finalis memiliki keunggulan yang berbeda sehingga sulit membandingkan kualitas inovasi dari satu tahun ke tahun lainnya.
Sementara itu, salah seorang finalis mengaku penghargaan tersebut menjadi motivasi sekaligus tanggung jawab untuk terus menghasilkan penelitian yang memberikan manfaat lebih luas.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus berinovasi. Penelitian yang dilakukan tidak hanya berdampak bagi diri sendiri atau universitas, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Dr. Ir. Agus Susilo
Ke depan, ia berkomitmen terus menyempurnakan inovasi yang telah dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak kolaborasi agar hasil riset semakin mudah diterapkan dan memberikan dampak nyata bagi pembangunan.
Melalui ajang Dosen dan Diktendik Berprestasi 2026, Universitas Brawijaya berharap budaya inovasi, kolaborasi, dan pengabdian kepada masyarakat semakin mengakar di lingkungan kampus. Penghargaan ini diharapkan tidak hanya melahirkan insan akademik berprestasi, tetapi juga mendorong hadirnya solusi yang mampu menjawab tantangan pembangunan di tingkat nasional hingga global. (ffn)













