Kanal24, Malang – Laporan keberadaan kucing liar yang selama ini banyak muncul melalui media sosial maupun grup komunitas sering kali berhenti tanpa tindak lanjut yang jelas. Melihat kondisi tersebut, Dr. drh. Albiruni Haryo, M.Sc., AP.Vet mengembangkan petakucing.id, sebuah platform digital yang mengubah laporan masyarakat menjadi informasi terstruktur untuk mendukung penanganan kucing liar.
Inovasi tersebut diperkenalkan melalui program Lensa Brawijaya yang berlangsung di Lorong UBTV Lantai 2 Gedung Rektorat Universitas Brawijaya. Melalui platform ini, masyarakat dapat menyampaikan laporan mengenai lokasi dan kondisi kucing liar, sementara informasi yang terkumpul dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemetaan populasi hingga penyusunan program penanganan yang lebih tepat sasaran.
Baca Juga:
Mahasiswa FBD 13 Edukasi PKK Soal AI dan Hoaks
Berawal dari Laporan Masyarakat yang Belum Terintegrasi
Albiruni menjelaskan, gagasan pengembangan petakucing.id berawal dari banyaknya laporan masyarakat terkait keberadaan kucing liar di berbagai wilayah. Selama ini, masyarakat telah aktif menyampaikan informasi, tetapi belum tersedia wadah khusus yang mampu menampung dan mengelola laporan tersebut secara terpusat.
Menurutnya, laporan yang tersebar melalui berbagai kanal digital memiliki keterbatasan karena tidak dilengkapi format informasi yang seragam. Akibatnya, informasi mengenai lokasi, jumlah kucing, maupun kondisi di lapangan sulit dianalisis untuk menentukan kebutuhan penanganan.
“Pengembangan website ini sebenarnya sudah saya pikirkan sejak lama. Banyak laporan masyarakat terkait kucing liar, tetapi laporan tersebut sering berpindah-pindah tanpa tindak lanjut yang jelas,” ujar Albiruni.
Berangkat dari kondisi tersebut, ia mulai mengembangkan petakucing.id sekitar dua minggu sebelum diperkenalkan kepada masyarakat. Dalam waktu singkat, platform tersebut mendapat respons positif dengan lebih dari 500 pengguna yang telah mencoba melakukan pelaporan.
Kehadiran platform ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi masyarakat, khususnya di Kota Malang, untuk berpartisipasi dalam pendataan keberadaan kucing liar secara lebih mudah dan terorganisir.
Pelaporan Kucing Liar Lebih Praktis dan Terstruktur
Sistem pada petakucing.id dirancang agar mudah digunakan oleh masyarakat umum. Pengguna hanya perlu mengakses laman tersebut melalui perangkat ponsel, kemudian mengikuti panduan pengisian laporan yang tersedia.

Proses pelaporan dapat dilakukan dalam waktu sekitar satu hingga tiga menit. Masyarakat dapat mencantumkan informasi mengenai lokasi keberadaan kucing liar, jumlah kucing yang ditemukan, serta keterangan tambahan yang diperlukan.
Setiap laporan yang masuk akan tersimpan dalam basis informasi sehingga dapat dikelola dan dianalisis secara lebih mudah. Sistem tersebut menjadi salah satu pembeda dibandingkan pelaporan melalui media sosial yang cenderung belum memiliki pencatatan terstruktur.
“Kalau melalui media sosial, laporan memang bisa cepat diterima, tetapi informasinya tidak terstruktur dan sulit dianalisis. Melalui website ini, laporan tersimpan dalam sistem sehingga kondisi setiap wilayah dapat diketahui dengan lebih jelas,” jelasnya.
Dengan sistem tersebut, laporan masyarakat tidak hanya berhenti sebagai informasi, tetapi dapat menjadi bahan untuk melihat pola persebaran kucing liar di suatu wilayah.
Data Petakucing.id Dukung Strategi Penanganan Berkelanjutan
Pengembangan petakucing.id ditargetkan tidak hanya menjadi tempat penyampaian laporan, tetapi juga menjadi sumber informasi yang dapat mendukung pengambilan keputusan terkait penanganan kucing liar.
Albiruni menyampaikan, target utama dari inovasi ini adalah menyediakan wadah resmi bagi masyarakat untuk melaporkan keberadaan kucing liar. Selanjutnya, informasi yang terkumpul dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan berbagai langkah strategis.
Pemanfaatan informasi tersebut dapat mendukung program seperti penentuan lokasi prioritas sterilisasi, pemetaan jumlah populasi kucing liar, hingga perencanaan kebutuhan dokter hewan maupun tenaga medis.
Menurutnya, penanganan kucing liar membutuhkan pendekatan yang terukur agar program yang dilakukan dapat berjalan lebih efektif.
“Targetnya, informasi yang terkumpul bisa menjadi dasar bagi pihak terkait untuk menentukan langkah penanganan yang sesuai dengan kondisi di lapangan,” tambah Albiruni.
Dengan semakin banyak masyarakat yang menggunakan petakucing.id, informasi mengenai keberadaan kucing liar diharapkan semakin lengkap. Platform ini diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan populasi kucing liar yang lebih terencana dan berkelanjutan di Kota Malang. (gal)













