Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) terus memperkuat budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) melalui Grand Final 5 Besar Lomba Bulan K3 Tahun 2026 yang digelar Kamis (2/7/2026). Lima fakultas terbaik bersaing menunjukkan implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) sebagai bagian dari upaya mewujudkan Kampus Tangguh sekaligus mencapai target zero accident di lingkungan kampus.
Grand final tersebut menjadi puncak rangkaian Bulan K3 UB setelah melalui proses seleksi berlapis selama beberapa bulan. Lima fakultas yang lolos ke babak akhir yakni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTEM), Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB), Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), serta Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM).
Baca Juga:
Ilmu K3 Tak Cukup Dipelajari Sekali, UB Rutin Segarkan Refleks Tanggap Darurat Tendik
Penilaian Menyeluruh untuk Mewujudkan Zero Accident
Ketua Divisi K3L UB, Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, S.T., M.Kes., mengatakan grand final merupakan puncak dari rangkaian Bulan K3 yang setiap tahun diperingati pada periode 12 Januari hingga 12 Februari. Menurutnya, kompetisi ini menjadi media untuk mengukur sejauh mana implementasi budaya keselamatan telah diterapkan di masing-masing fakultas.

Ia menjelaskan penilaian dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kesiapan sumber daya manusia, lingkungan kerja, sarana dan prasarana, laboratorium, rambu-rambu keselamatan, hingga kesiapan gedung dalam mendukung aktivitas yang aman.
“Kita menginginkan bagaimana proses itu bisa mewujudkan kampus yang aman, nyaman, sehat, dan bahagia sehingga terwujud budaya K3 untuk mewujudkan zero accident,” ujarnya.
Menurut Prof. Qomariyatus, setiap aktivitas memiliki karakteristik risiko yang berbeda sehingga harus diawali dengan observasi, identifikasi bahaya, hingga penilaian risiko menggunakan Hazard Identification Risk Assessment (HIRA). Setelah itu, hasilnya menjadi dasar penyusunan Job Safety Analysis (JSA) sebagai pedoman pengendalian risiko.
“Dengan adanya Job Safety Analysis sebagai acuan, maka kita akan mengetahui risiko apa pada setiap kegiatan. Output akhirnya adalah kampus yang tangguh yaitu zero accident,” jelasnya.
Seleksi Berlapis Hingga Menentukan Lima Fakultas Terbaik
Prof. Qomariyatus menjelaskan proses seleksi telah dimulai sejak Februari 2026 melalui pengumpulan dokumen Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang mengacu pada standar perguruan tinggi.
Dokumen tersebut kemudian dievaluasi oleh tim penilai sebelum dilakukan asesmen lapangan untuk mencocokkan kesesuaian antara dokumen dengan implementasi nyata di masing-masing fakultas. Hasil asesmen selanjutnya dibahas dalam rapat pleno hingga akhirnya ditetapkan lima besar yang berhak tampil pada grand final.
“Sebenarnya semua terbaik karena support dari seluruh fakultas yang ada di Universitas Brawijaya ini sudah sangat luar biasa. Tapi kita harus bisa melihat bagaimana kelengkapan dan implementasinya secara bertahap,” katanya.
Ia menambahkan, kompetisi bukan menjadi akhir dari proses pembinaan K3 di lingkungan kampus. Setelah perlombaan selesai, implementasi program akan terus dipantau agar budaya keselamatan benar-benar menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
“Akreditasi bukan hanya berupa dokumen saja, tapi benar-benar sudah membudayakan perilaku. K3 itu bukan sebuah paksaan, tapi sudah menjadi sebuah kebutuhan karena kita semua menginginkan kampus yang nyaman, bersih, dan aman,” tuturnya.
Prof. Qomariyatus mengungkapkan, meski Divisi K3L UB baru berdiri sekitar tiga tahun, dukungan seluruh fakultas telah menghasilkan perkembangan yang signifikan. Namun, menurutnya, proses perbaikan harus terus dilakukan agar target zero accident dapat tercapai secara berkelanjutan.
“Hal yang perlu menjadi garis bawah yaitu K3 itu harus hukumnya dipaksa, terpaksa, dan menjadi biasa. Itulah yang mewujudkan bagaimana kampus itu bisa benar-benar zero accident,” tegasnya.
Dukung Program Kampus Tangguh
Ketua Pelaksana Lomba Bulan K3 UB, Dinia Rizqi Dwijayanti, S.Si., M.Si., D.Sc., mengatakan penyelenggaraan lomba tahun ini diarahkan untuk mendukung program prioritas Rektor UB, yakni Kampus Tangguh.

“Lomba ini memang kami arahkan untuk mendukung program tersebut. Ada tiga kategori yang dilombakan yaitu safety induction, rambu-rambu, dan kelengkapan SMK3 yang menjadi acuan pemenuhan Kampus Tangguh,” ujarnya.
Sebanyak 20 peserta yang terdiri atas seluruh fakultas serta PSDKU Jakarta dan Kediri mengikuti kompetisi sejak tahap awal. Setelah sosialisasi pada Februari, peserta mengumpulkan dokumen yang kemudian diverifikasi melalui asesmen lapangan pada Mei hingga Juni sebelum ditetapkan lima finalis.
Dinia mengakui tantangan terbesar selama penyelenggaraan lomba berada pada aspek komunikasi antarpeserta. Meski demikian, seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana hingga tahap grand final.
“Tantangan terbesarnya komunikasi. Kami sudah membuat grup fakultas, tetapi masih ada beberapa informasi yang belum tersampaikan dengan baik. Namun alhamdulillah seluruh rangkaian kegiatan tetap bisa terlaksana sampai lima besar ini,” katanya.
Ia berharap seluruh fakultas di Universitas Brawijaya dapat terus meningkatkan implementasi SMK3 sehingga tidak lagi berada pada tahap awal, melainkan memasuki fase transisi menuju penerapan sistem keselamatan yang lebih matang.
“Harapannya di tahun depan semuanya bisa masuk ke fase transisi dari pemenuhan SMK3,” pungkasnya. (Gal/wan)














