Kanal24, Malang – Tekanan akademik, perubahan sosial, hingga derasnya arus digital membuat persoalan kesehatan mental mahasiswa semakin kompleks. Di banyak kasus, mahasiswa memilih memendam masalah sendiri karena takut dihakimi atau tidak memiliki ruang aman untuk bercerita. Fenomena menjadi perhatian serius Dharma Wanita Persatuan (DWP) Universitas Brawijaya. Melalui Training of Trainers (TOT) PPKSP Sahabat Kampus yang digelar di Lantai 1 Gedung Dekanat Fakultas Pertanian UB, Rabu (06/05/2026), DWP UB membekali anggotanya dengan teknik konseling dasar untuk mendukung pendampingan mahasiswa di lingkungan kampus..
Baca juga:
DWP UB Dukung Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Kampus
Ketua DWP UB, Rani Mariana Ulfah Widodo, mengatakan program Sahabat Kampus lahir sejak 2023 sebagai bentuk dukungan terhadap program prioritas rektor dalam bidang kesehatan mental. Menurutnya, persoalan mental mahasiswa kini semakin kompleks seiring perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang terjadi di lingkungan generasi muda.

“Masalah utamanya sekarang ini adik-adik mahasiswa banyak yang bungkam. Kita berupaya penuh bagaimana kita bisa membuka diri, agar adik-adik bisa nyaman berbaur dengan kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelatihan tersebut dirancang untuk membekali anggota DWP dengan kemampuan dasar konseling agar mampu menjadi pendengar yang baik bagi mahasiswa. Meski bukan konselor profesional, para anggota DWP dinilai perlu memahami teknik komunikasi yang tepat agar mahasiswa merasa aman ketika menyampaikan persoalan yang dihadapi.
“Kadang ada orang yang curhat, tapi responsnya salah, misalnya langsung menyalahkan. Itu tidak boleh. Makanya di sini dengan TOT dibekali ibu-ibu Dharma Wanita agar menjadi konselor yang baik,” katanya.
Rani menilai persoalan yang dianggap sepele oleh sebagian orang dapat menjadi tekanan besar bagi mahasiswa yang sedang mengalami gangguan kesehatan mental. Karena itu, keberadaan Sahabat Kampus diharapkan mampu menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk berbagi cerita tanpa takut dihakimi.
“Kita mendengar tanpa men-judge, kita hanya ingin menjadi teman atau sahabat mereka. Saya tidak ingin permasalahan mental ini mengganggu semangat belajar mereka, yang nantinya akan mempengaruhi kehidupan mereka di masa depan,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, DWP UB berharap budaya saling peduli di lingkungan kampus semakin kuat. Selain membangun kenyamanan akademik, program tersebut juga diarahkan untuk mendukung terciptanya generasi muda dengan karakter kuat dan kesehatan mental yang lebih baik.
“Harapannya kita ingin kampus ini bebas dari kekerasan dan perundungan. Itu inti utamanya. Saya juga ingin mahasiswa kita menjadi generasi muda yang memiliki karakter kuat dan nantinya bisa berguna bagi masa depan mereka,” pungkasnya. (wan)














