Kanal24, Malang – Fakultan Peternakan yang kini menjadi Fakultas Animal Science & Technology (FAST) Universitas Brawijaya (UB) terus memperkuat kolaborasi dengan dunia industri peternakan melalui penjajakan kerja sama pemeliharaan sapi induk BX bersama PT Juang Jaya Abadi Alam. Langkah ini menjadi bagian dari pengembangan pembelajaran berbasis praktik, riset terapan, serta penguatan laboratorium lapang sebagai sarana pendidikan dan produksi peternakan modern.
Kegiatan tersebut menghadirkan Manager Breeding Partnership dan Kesejahteraan Hewan PT Juang Jaya Abadi Alam, drh. Neny Santy Jelita Lumbantoruan, yang melakukan peninjauan langsung ke Laboratorium Lapang Sumber Sekar UB. Dalam kunjungannya, drh. Neny melihat kesiapan fasilitas kandang, tata kelola pemeliharaan ternak, ketersediaan sarana pendukung, hingga peluang integrasi antara pembelajaran akademik dengan kebutuhan industri peternakan saat ini.

Baca juga:
Fapet UB Cetak Lulusan Siap Kerja Bersertifikat
Menurut drh. Neny, Laboratorium Lapang Sumber Sekar memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai lokasi kerja sama pemeliharaan sapi induk BX. Ia menilai fasilitas yang tersedia sudah menunjukkan kesiapan yang baik untuk mendukung sistem breeding modern yang terukur dan berkelanjutan.
“Kesiapan fasilitas ini menjadi salah satu aspek penting karena pemeliharaan sapi induk membutuhkan manajemen kandang, pakan, kesehatan, reproduksi, dan kesejahteraan hewan yang terukur dan berkelanjutan,” ujarnya.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya berfokus pada aspek pemeliharaan ternak, tetapi juga menjadi media pembelajaran langsung bagi mahasiswa. Melalui keterlibatan industri, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman nyata mengenai manajemen breeding, biosekuriti, kesehatan ternak, hingga penerapan prinsip kesejahteraan hewan dalam sistem peternakan modern.
Selain melakukan peninjauan lapang, drh. Neny juga memberikan kuliah tamu kepada mahasiswa mata kuliah Manajemen Feedlot yang digelar di Auditorium Pascasarjana UB. Kuliah tamu bertema
“Industri Feedlot: Peluang & Tantangan Saat Ini dan Masa Akan Datang” tersebut membahas berbagai dinamika industri peternakan modern yang saat ini menghadapi tantangan semakin kompleks.
Dalam pemaparannya, drh. Neny menjelaskan bahwa industri feedlot modern tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis terkait penggemukan sapi, tetapi juga pemahaman menyeluruh mengenai rantai pasok, strategi bisnis, manajemen risiko, serta adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Menurutnya, sumber daya manusia di sektor peternakan harus mampu menghubungkan ilmu akademik dengan kebutuhan praktis di lapangan.
“Mahasiswa perlu memahami bahwa industri feedlot tidak hanya soal penggemukan sapi, tetapi juga berkaitan dengan rantai pasok, strategi bisnis, manajemen risiko, dan perkembangan teknologi,” jelasnya di hadapan mahasiswa.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri tersebut, Fakultas Animal Science & Technology UB berharap Laboratorium Lapang Sumber Sekar dapat berkembang menjadi pusat pembelajaran, riset, dan praktik industri peternakan sapi potong yang lebih aplikatif. Sinergi ini juga dinilai penting untuk menjembatani kebutuhan akademik dengan tantangan nyata di sektor peternakan nasional sehingga mahasiswa tidak hanya memahami teori di ruang kelas, tetapi juga siap menghadapi kebutuhan dunia kerja secara langsung. (cay)














