Kanal24, Malang – Persaingan kerja makin keras, peluang makin selektif. Mahasiswa dituntut siap lebih cepat, dengan skill yang relevan dan akses yang tepat. Kampus yang mampu membuka koneksi ke industri global menjadi kunci.
Di titik itu, Universitas Brawijaya menghadirkan jejaring internasional langsung ke mahasiswa melalui “Workshop Career & Job Fair” di Auditorium Lt.8 Fakultas Peternakan UB, Kamis (9/4/2026). Forum ini mempertemukan mahasiswa dan alumni dengan industri, sekaligus membuka akses kerja dan studi ke luar negeri.
Baca juga: Target Kampus Naik, BPU UB Masuk Mode Akselerasi
Kegiatan ini melibatkan sejumlah mitra industri seperti PT Mardel, Hankook KRC, Hansung Indotama Worldo, Pelita Bhakti Brawijaya, Wastra Corporate, dan Avera Honey Bar. Kolaborasi ini menunjukkan sektor peternakan bergerak dalam ekosistem global yang terhubung dengan bisnis, teknologi, dan pasar internasional.

Direktur Pelita Bhakti Brawijaya, Donald R. Loppies, menegaskan sektor peternakan memiliki prospek besar seiring kebutuhan pangan nasional yang terus meningkat.
“Peluang yang paling bagus sebenarnya di sektor peternakan, karena berkaitan dengan program kebutuhan gizi di Indonesia. Komoditas seperti kambing, domba, dan sapi sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peran teknologi dan kerja sama internasional dalam meningkatkan produktivitas.
“Kami sudah bekerja sama dengan Australia dalam pengembangan nutrisi ternak. Hasilnya, dalam tiga bulan berat kambing bisa meningkat dari 15 kilogram menjadi 25 kilogram, sehingga pendapatan peternak juga meningkat,” tambahnya.
Peningkatan tersebut menunjukkan dampak langsung inovasi terhadap efisiensi produksi dan pendapatan. Bagi mahasiswa, ini menjadi gambaran bahwa sektor peternakan berkembang seiring riset dan teknologi.

Peluang global juga dibuka secara konkret. Perwakilan Koperasi Korea, Chris Chang, memaparkan jalur yang dapat diakses mahasiswa dan alumni.
“Mahasiswa bisa mengikuti program pelatihan selama tiga bulan di Korea di bidang pertanian dan peternakan. Sedangkan alumni memiliki peluang bekerja di Korea, Australia, hingga Eropa, bahkan bisa melanjutkan studi S2 sambil bekerja,” jelasnya.
Skema ini membuka akses karier internasional sejak dini, termasuk peluang studi lanjut yang terintegrasi dengan pengalaman kerja. Lulusan memiliki kesempatan membangun karier dengan jaringan global yang lebih luas.
Namun, kesiapan menjadi faktor penentu. Kemampuan bahasa menjadi syarat utama, diikuti dengan arah keahlian yang jelas.
Donald menekankan pentingnya hal tersebut. “Bahasa kita harus standar, terutama bahasa Inggris, supaya tenaga kerja bisa bekerja di luar dengan maksimal. Selain itu, mahasiswa harus menentukan kemampuan yang dimiliki, apakah di marketing, pengembangan usaha, atau bidang lainnya,” ujarnya.
Ia juga mencontohkan potensi produk turunan peternakan seperti susu dan keju yang mulai menembus pasar luar negeri. Peluang ini membuka ruang bagi mahasiswa untuk masuk ke rantai industri, baik sebagai tenaga profesional maupun pelaku usaha.
Workshop ini menjadi ruang strategis yang menghubungkan kampus dengan kebutuhan industri. Mahasiswa didorong menyiapkan diri lebih awal, memahami arah karier, dan membangun kompetensi yang relevan.
Di tengah kompetisi global, pilihan jurusan dan kesiapan skill menjadi faktor penentu. Akses sudah terbuka, peluang sudah terlihat. Tinggal bagaimana mahasiswa memanfaatkannya. (Din/wan)














