Oleh: Dr. Akhmad Muwafik Saleh*
Haji itu diperuntukkan hanya bagi yang mampu. Tentu tidak hanya sekadar mampu secara fisik dan materi saja, namun yang terpenting adalah mampu secara mental-spiritual, yakni mereka harus siap memantaskan diri sebagai tamu Allah, dhuyufur rahman. Dua kata ini penting, dhuyuf berarti tamu, sementara menjadi tamu ibarat seorang mayit (adh-dhaifu kal mayyit), yang siap menerima apa saja dan siap diperlakukan bagaimanapun oleh tuan rumah.
Sementara kata kedua adalah Ar-Rahman, yang merujuk pada Allah SWT Yang Maha Belas Kasih. Menandakan bahwa kehadirannya di Tanah Suci karena panggilan kasih sayang-Nya dan segala apa pun yang terjadi di Tanah Suci, (Bait Allah, Rumah Allah, Sang Tuan Rumah) sekecil apa pun peristiwa dan kejadiannya tentu semata hanyalah karena kasih sayang-Nya.
Di saat seseorang sedang bertamu, tentu tuan rumah akan menyediakan berbagai hidangan untuk disuguhkan. Sementara para tetamu cukup menerima saja apa pun yang disuguhkannya dengan satu keyakinan bahwa suguhan yang diberikannya itu pastilah yang terbaik sebab Sang Tuan Rumah selama ini dikenal sangat baik. Demikianlah dengan kehadiran kita ke Tanah Suci sebagai tamu-Nya. Mereka yang sedang diundang oleh-Nya untuk bertamu ke Rumah-Nya (Baitullah) dan tentulah Sang Tuan Rumah juga telah menyediakan segala macam bentuk jamuan untuk disuguhkan kepada para tetamu dengan fasilitas VIP, Very Personal Person (diperuntukkan khusus secara personal pada masing-masing orang dengan cara yang berbeda).
Jamuan yang diberikan-Nya itu hadir dalam bentuk peristiwa atau kejadian yang secara personal bisa berbeda-beda, sehingga setiap tamu (jamaah haji) seakan merasakan pengalaman, kejadian, dan peristiwa yang berbeda-beda dengan yang lainnya. Itulah yang kemudian kita sebut dengan “pengalaman spiritual haji”.

Ada yang disuguhkan dengan jamuan berupa mudahnya dikabulkan doa. Salah seorang jamaah KBIHU UB (Universitas Brawijaya) bercerita, sesaat setelah dia mendaftar golf car untuk thawaf dan sa’i, tiketnya hilang. Setelah dia mencarinya ke sana kemari tidak ketemu, akhirnya dia duduk termenung sambil berpasrah diri dan berdoa kepada Allah. Kemudian setelah doa dia panjatkan, secara tiba-tiba ada seseorang yang mendatangi, menanyakan persoalannya, dan membantu mengomunikasikannya dengan petugas ticketing sehingga dia mendapatkan kembali tiket yang hilang tersebut. Maa syaa Allah, teman ini baru saja menerima penjamuan Allah dengan begitu indahnya.
Ada pula cerita di KBIHU yang lain bahwa mereka tidak mendapatkan kamar tidur yang layak saat di tenda Mina. Kapasitas tenda tidak sesuai dengan jumlah jamaah, bahkan ada yang tendanya dipergunakan oleh jamaah lain sehingga terpaksa harus tidur keleleran, berdesakan, bahkan ada pula yang AC-nya hanyalah blower saja dan tidak mampu mendinginkan tenda akibat panasnya cuaca Mina yang sangat menyengat, ditambah kamar mandi dengan antrean yang mengular.
Ada pula cerita seorang teman saat melaksanakan thawaf mengalami kejadian aneh. Dia berharap dapat mencium Hajar Aswad tanpa mendhalimi siapa pun. Lalu dia menuju kerumunan titik Hajar Aswad yang terkenal sangat crowded sedunia. Dia melihat di depannya ada orang tinggi besar yang menghalangi sedang membantu ibunya untuk mencium Hajar Aswad. Namun sesaat setelah persis berada di muka lubang batu surga itu, tiba-tiba sang ibu merendahkan kepalanya sehingga kepala teman ini yang terdorong masuk untuk menciumnya. Seakan ada kekuatan aneh yang membuatnya mudah mencium Hajar Aswad sesuai dengan harapan dalam doanya itu.
Masih banyak lagi berbagai peristiwa dan kejadian yang aneh terjadi. Ada yang tergulung oleh gelombang tsunami manusia ketika pengaturan saf salat saat sedang thawaf setelah iqamah yang tanpa jeda panjang dari kumandang azan. Ada pula yang terhimpit di mulut eskalator saat hendak melaksanakan sa’i karena crowded-nya jamaah haji. Ada banyak lagi sederetan kejadian dan peristiwa yang dialami berbeda oleh setiap jamaah.
Semua itu adalah hidangan jamuan Allah atas tetamu-Nya. Jamuan itu akan menjadi ujian tersendiri bagi setiap orang. Apakah kita bersedia menerima jamuan itu dengan lapang dada penuh introspeksi dan syukur, ataukah akan menyalahkan keadaan yang berujung pada kufur nikmat? Allah SWT mengingatkan kepada kita dengan sangat lugas dalam firman-Nya:
ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŁ°Ų°ŁŲ§ Ł
ŁŁ ŁŁŲ¶Ū”ŁŁ Ų±ŁŲØŁŁŁ ŁŁŁŁŲØŪ”ŁŁŁŁŁŁŁŁ Ų”ŁŲ£ŁŲ“Ū”ŁŁŲ±Ł Ų£ŁŁ
Ū” Ų£ŁŁŪ”ŁŁŲ±ŁŪ ŁŁŁ
ŁŁ Ų“ŁŁŁŲ±Ł ŁŁŲ„ŁŁŁŁŁ
ŁŲ§ ŁŁŲ“Ū”ŁŁŲ±Ł ŁŁŁŁŁŪ”Ų³ŁŁŁŪ¦Ū ŁŁŁ
ŁŁ ŁŁŁŁŲ±Ł ŁŁŲ„ŁŁŁŁ Ų±ŁŲØŁŁŁ ŲŗŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ±ŁŁŁ
Ł
“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.” (QS. An-Naml: 40)
Cara kita menyikapi setiap kejadian selama menjadi tamu-Nya di Tanah Suci bisa jadi merupakan cara Allah untuk memabrurkan haji para tamu-Nya itu. Jika kita mampu menemukan hikmah di balik setiap jamuan (peristiwa atau kejadian) dengan penuh introspektif, lapang dada, dan penuh syukur maka itulah jalan lapang menuju haji yang mabrur.Sementara jika kita berkeluh kesah, menyalahkan, dan tidak bersyukur (kufur), maka hajinya bisa jadi jauh dari kata mabrur, melainkan mardud (tertolak), na’udzubillahi min dzalik.
Setiap kita tentu berharap menjadi haji mabrur, karena baginya tidak ada pahala yang lebih baik kecuali surga. Maka, peristiwa atau kejadian apa pun selama di Tanah Suci adalah jamuan yang disuguhkan oleh Allah Yang Maha Kasih kepada para hamba-Nya untuk menjadi jalan kemabruran haji. Karena semua realitas apa pun, tidak ada satu pun yang lepas dari ketetapan Allah SWT. Allah berfirman:
ŁŁŲ¹ŁŁŲÆŁŁŁŪ„ Ł
ŁŁŁŲ§ŲŖŁŲ٠ٱŁŪ”ŲŗŁŁŪ”ŲØŁ ŁŁŲ§ ŁŁŲ¹Ū”ŁŁŁ
ŁŁŁŲ§Ł Ų„ŁŁŁŁŲ§ ŁŁŁŁŪ ŁŁŁŁŲ¹Ū”ŁŁŁ
Ł Ł
ŁŲ§ ŁŁŁ Ł±ŁŪ”ŲØŁŲ±ŁŁ ŁŁŁ±ŁŪ”ŲØŁŲŪ”Ų±ŁŪ ŁŁŁ
ŁŲ§ ŲŖŁŲ³Ū”ŁŁŲ·Ł Ł
ŁŁ ŁŁŲ±ŁŁŁŲ©Ł Ų„ŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲ¹Ū”ŁŁŁ
ŁŁŁŲ§ ŁŁŁŁŲ§ ŲŁŲØŁŁŲ©Ł ŁŁŁ ŲøŁŁŁŁ
ŁŁ°ŲŖŁ ٱŁŪ”Ų£ŁŲ±Ū”Ų¶Ł ŁŁŁŁŲ§ Ų±ŁŲ·Ū”ŲØŁ ŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲ§ŲØŁŲ³Ł Ų„ŁŁŁŁŲ§ ŁŁŁ ŁŁŲŖŁŁ°ŲØŁ Ł
ŁŁŲØŁŁŁŁ
“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am: 59)
Untuk itu, hadapilah setiap peristiwa dan kejadian dengan penuh muhasabah diri, berupaya dengan sekuat tenaga dan pikiran menemukan kesalahan diri (self introspection), menjauhi menyalahkan pihak lain dan keadaan, memperbanyak istighfar, serta menghadirkan rasa syukur. Jika demikian, bersiaplah menjadi haji mabrur. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.Karena setiap jamuan berupa peristiwa dan kejadian yang dialami selama di Tanah Suci saat menjadi tamu-Nya (dhuyufur rahman) adalah tanda kasih sayang dari Zat pemilik sifat Ar-Rahman, Sang Maha Penyayang kepada para hamba-Nya yang saat ini diundang menjadi tamu kesayangan-Nya.
Di balik semua suka duka, lelah, ketidaknyamanan, keterbatasan, dan berdesakan dalam setiap rangkaian ibadah haji itu akan berbalas dengan kebahagiaan, penuh kenangan yang tak terlupakan (memorable), karena ukurannya di sini telah berubah; bukan lagi material-fisik, melainkan diterimanya ibadah dan ampunan-Nya.
Semoga ibadah haji kita diterima oleh Allah SWT menjadi haji yang mabrur, diampuni segala dosa dan kesalahan, kemudian menjadi pribadi yang baru, yaitu pribadi yang bersih hatinya, dan kelak mendapatkan ridha-Nya dengan imbalan Surga Firdaus-Nya.
Aamiin yaa Rabbal ‘Alamiin.
*) Dr. Akhmad Muwafik Saleh
Penulis adalag Pembimbing Ibadah Haji KBIHU Universitas Brawijaya – 2026













