Kanal24, Pasuruan — Kemampuan berbicara di depan publik sering dipandang sebagai keterampilan personal. Bagi remaja putri di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, kemampuan tersebut dapat memiliki fungsi yang lebih jauh: menjadi bekal untuk menyampaikan gagasan dan mengedukasi masyarakat mengenai persoalan kekerasan terhadap perempuan dan perundungan.
Kebutuhan itu menjadi perhatian Tim Pengabdian kepada Masyarakat BPPM FISIP Universitas Brawijaya. Melalui Departemen Ilmu Komunikasi, tim memberikan pelatihan public speaking kepada anggota Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Tutur sebagai bagian dari penguatan kapasitas kepemimpinan remaja putri.
Program tersebut diarahkan untuk membangun kepercayaan diri anggota IPPNU yang masih merasa ragu atau kurang siap ketika harus menyampaikan gagasan di depan publik. Kemampuan komunikasi kemudian ditempatkan sebagai salah satu modal agar kelompok pemuda dapat mengambil peran dalam pembangunan daerah dan perubahan sosial.
Public Speaking Dihubungkan dengan Persoalan Sosial
Pelatihan tidak berhenti pada teknik berbicara. Peserta juga diajak memahami persoalan kekerasan terhadap perempuan, kaitannya dengan pernikahan dini, serta cara merancang pesan kampanye sosial.
Materi “STOP Kekerasan Pada Perempuan – Mendesain intervensi komunikasi berbasis partisipasi” disampaikan Yun Fitrahyati Laturrakhmi, S.I.Kom., M.I.Kom. Sementara materi “Peningkatan Keterampilan Public Speaking untuk Menunjang Leadership Skills Anggota Organisasi Kepemudaan Desa” disampaikan Azizun Kurnia Illahi., S.I.Kom., M.A.
Hasil pre-test menunjukkan 82 persen peserta telah memiliki pemahaman dasar terkait public speaking. Pengetahuan tersebut diperdalam melalui diskusi kelompok terpumpun atau FGD dan pengerjaan modul secara kolaboratif.
Pendekatan ini membuat kemampuan komunikasi tidak dipisahkan dari konteks sosial yang dihadapi peserta. Remaja putri tidak hanya belajar bagaimana tampil percaya diri, tetapi juga bagaimana menyusun pesan ketika berhadapan dengan isu yang membutuhkan perhatian publik.
Melalui perpaduan science, skills, arts, and souls, pelatihan ini dinilai meningkatkan keberanian dan kemampuan kepemimpinan (leadership skills) anggota IPPNU Kecamatan Tutur. Dengan kemampuan public speaking yang lebih baik, mereka kini lebih siap untuk turun langsung berinteraksi dan mengedukasi masyarakat, meneguhkan peran mereka sebagai pilar penting dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan.

Kemampuan tersebut diuji melalui penyusunan pesan kampanye menggunakan model Monroe’s Motivated Sequence, yang terdiri atas Perhatian, Kebutuhan, Kepuasan, Visualisasi, dan Tindakan.
Hasilnya berupa video kampanye kreatif yang mengangkat isu perundungan dan pergaulan bebas. Video tersebut diunggah ke media sosial Instagram masing-masing peserta untuk memperluas jangkauan pesan edukasi.
Remaja Putri Didorong Menjadi Agen Perubahan
Model pelatihan tersebut menempatkan anggota IPPNU sebagai bagian dari proses perubahan, bukan sekadar penerima materi. Kemampuan public speaking digunakan untuk memperkuat keberanian mereka ketika harus berinteraksi dan menyampaikan pesan kepada masyarakat.
Bagi kelompok remaja, kemampuan tersebut memiliki nilai strategis karena pesan mengenai pencegahan kekerasan dan perundungan dapat disampaikan melalui bahasa dan media yang lebih dekat dengan lingkungan mereka. Produksi konten kampanye menjadi salah satu contoh bagaimana keterampilan komunikasi dapat diterapkan untuk membawa isu sosial ke ruang digital.
Program ini juga memperlihatkan ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi kepemudaan di tingkat desa. FISIP UB memberikan penguatan pengetahuan dan keterampilan, sementara anggota IPPNU menjadi pihak yang dapat membawa pesan tersebut ke lingkungan sosial mereka.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat menyampaikan apresiasi kepada BPPM FISIP Universitas Brawijaya atas dukungan pendanaan serta kepada seluruh jajaran pengurus dan anggota PAC IPPNU Kecamatan Tutur atas antusiasme dan partisipasi aktif sepanjang program berlangsung.
Program ini berkontribusi pada SDG 5 tentang Kesetaraan Gender, terutama melalui penguatan kapasitas perempuan muda dan upaya membangun kesadaran terhadap kekerasan terhadap perempuan serta persoalan yang berkaitan dengan pernikahan anak.(Din)















Comments 1