Kanal24, Malang – Kebutuhan dokter spesialis di berbagai daerah di Indonesia masih menjadi tantangan dalam pemerataan layanan kesehatan. Menjawab kebutuhan tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) melantik 38 dokter spesialis dari berbagai program studi yang dipersiapkan untuk memperkuat pelayanan medis, termasuk di wilayah yang masih kekurangan tenaga kesehatan.
Pelantikan berlangsung di Graha Medika Lantai 2 FK UB, Selasa (21/7/2026). Selain menjadi penanda berakhirnya masa pendidikan, prosesi tersebut juga menjadi awal pengabdian para dokter spesialis kepada masyarakat melalui pengucapan janji profesi sebagai bentuk komitmen menjalankan pelayanan kesehatan secara profesional dan beretika.
Baca Juga:
Generasi Muda Enggan Bertani, UB Dorong Ketahanan Pangan Desa Ngebruk

Pelantikan Jadi Awal Pengabdian
Dekan FK UB, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med., Sp.A(K)., mengatakan pelantikan bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan momentum untuk meneguhkan tanggung jawab para dokter spesialis yang akan terjun melayani masyarakat.
“Pelantikan merupakan inaugurasi untuk memberikan penghargaan kepada lulusan dokter spesialis sekaligus peneguhan komitmen melalui janji spesialis yang akan mereka jalankan dalam memberikan pelayanan,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan dokter spesialis merupakan proses panjang yang menuntut kemampuan akademik, keterampilan klinis, serta ketahanan mental. Karena itu, setiap lulusan diharapkan mampu menjalankan profesinya dengan integritas dan menjunjung tinggi etika kedokteran.
Siap Mengisi Kekurangan Dokter Spesialis di Daerah
FK UB juga menegaskan komitmennya mendukung pemerataan layanan kesehatan melalui pendidikan dokter spesialis. Sebagian lulusan merupakan peserta program penugasan khusus yang akan kembali ke daerah asal untuk mengabdi setelah menyelesaikan pendidikan.
Melalui skema tersebut, para dokter diharapkan dapat memperkuat pelayanan kesehatan, terutama di wilayah yang masih mengalami keterbatasan tenaga dokter spesialis.
Kehadiran mereka dinilai penting untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang lebih cepat, berkualitas, dan merata.

Perjuangan Panjang di Balik Gelar Spesialis
Salah satu peserta pelantikan, Kapten Laut (K/W) dr. Christina Widosari, Sp.PD., membagikan kisah perjuangannya selama menempuh pendidikan spesialis penyakit dalam yang diselesaikan dalam sembilan semester.
Sebagai prajurit TNI Angkatan Laut sekaligus seorang ibu dan istri, ia harus menjalani pendidikan jauh dari keluarga.
“Tantangan terbesar selama pendidikan adalah harus jauh dari anak, suami, dan orang tua. Itu menjadi beban mental bagi kami,” ungkap Christina.
Meski demikian, dukungan keluarga, rekan sejawat, dan para dosen membuatnya mampu menyelesaikan pendidikan hingga akhirnya resmi dilantik sebagai dokter spesialis.
Setelah lulus, Christina akan kembali bertugas di lingkungan Kementerian Pertahanan sebagai dokter TNI Angkatan Laut dan siap ditempatkan di wilayah yang membutuhkan sebagai bagian dari pengabdiannya kepada masyarakat dan negara. (ndr)














