Kanal24, Malang – Arus informasi yang bergerak sangat cepat di era digital membuat perguruan tinggi dituntut tidak hanya mampu menyampaikan informasi, tetapi juga siap menghadapi potensi krisis yang dapat memengaruhi kepercayaan publik. Menyadari tantangan tersebut, Universitas Brawijaya (UB) memperkuat kapasitas pengelola kehumasan melalui penguatan strategi komunikasi krisis agar mampu merespons berbagai isu secara cepat, tepat, dan terkoordinasi.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop Krisis Komunikasi Perguruan Tinggi bertajuk “Penguatan Strategi Manajemen Komunikasi Krisis dan Peningkatan Daya Saing Menuju Anugerah Diktisaintek Tahun 2026” yang diselenggarakan Divisi Informasi dan Kehumasan Universitas Brawijaya di Aula Gedung A Fakultas Ilmu Budaya UB, Rabu (01/07/2026). Kegiatan ini diikuti pengelola humas dan Pusat Studi Informasi dan Kehumasan (PSIK) dari berbagai fakultas di lingkungan UB sebagai bagian dari penguatan sistem komunikasi institusi.
Baca Juga:
Krisis Berpikir di Era Digital: Ketika Narasi Kalah dengan Komentar
Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Krisis
Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., mengatakan bahwa kesiapan menghadapi krisis komunikasi menjadi kebutuhan penting karena setiap hari institusi dihadapkan pada berbagai arus informasi yang belum tentu seluruhnya membawa dampak positif.

“Ya, ini sebenarnya bagian dari proses kesiapsiagaan kita. Karena memang informasi itu sekarang datang terus. Kemudian ada yang positif, ada yang negatif. Kalau maksudnya baik tentu akan kita tanggapi dengan baik. Tapi kita tidak pernah tahu apakah ada hidden agenda dari pihak lain dan sebagainya,” ujarnya.
Menurutnya, kemampuan mendeteksi sejak dini potensi krisis menjadi kompetensi yang harus dimiliki seluruh pengelola humas di lingkungan UB. Dengan demikian, setiap isu dapat dipetakan berdasarkan tingkat risikonya sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar bagi institusi.
“Kami berharap teman-teman humas dan teman-teman PSIK yang ada di masing-masing fakultas memiliki kemampuan, pertama, untuk mendeteksi apakah krisis ini akan berdampak pada institusi atau tidak. Kemudian, bagaimana cara mengelola krisis tersebut. Harapannya ke depan, ketika kita mampu menangani krisis apa pun dengan baik, pada akhirnya hal itu akan meningkatkan reputasi universitas,” jelasnya.
Tri Wahyu juga mengungkapkan bahwa UB telah memiliki sejumlah standar operasional prosedur (SOP) dalam menghadapi krisis. Namun, berbagai masukan dari narasumber dalam workshop menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan sistem yang telah berjalan.
“Tentu ada. Sebagian memang sudah kita miliki. Namun, tadi ada beberapa masukan dari pemateri yang memberikan insight yang cukup bagus, misalnya tentang bagaimana mendeteksi level krisis dan sebagainya. Saya kira ini menjadi hal yang baik untuk menyempurnakan SOP yang sudah ada di tempat kita,” katanya.
Bangun Satu Narasi untuk Menjaga Kepercayaan Publik
Sementara itu, Kepala Divisi Informasi dan Kehumasan Universitas Brawijaya, Dr. Dra. Lely Indah Mindarti, M.Si., menegaskan bahwa tantangan komunikasi di era media sosial mengharuskan seluruh elemen kehumasan memiliki strategi yang terintegrasi. Workshop ini menjadi ruang kolaborasi untuk menyamakan persepsi dalam mengelola isu yang berkembang.

“Bagaimana kita bisa membangun komunikasi yang baik, terutama di perguruan tinggi, kita melakukan berbagai macam langkah. Salah satu yang kita lakukan adalah mengadakan kegiatan seperti ini, yaitu workshop untuk menangani krisis komunikasi di perguruan tinggi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perkembangan media digital membuat penyebaran informasi berlangsung sangat cepat. Karena itu, setiap pengelola humas harus memiliki strategi komunikasi krisis yang matang agar mampu meminimalkan dampak negatif terhadap institusi.
“Kita tahu era semakin digital, media sosial juga berkembang sangat cepat. Bagaimana kita bisa meminimalkan krisis yang ada di perguruan tinggi dengan baik? Maka kita perlu strategi, kita perlu mengatur strategi manajemen komunikasi krisis.”
Menurut Lely, kolaborasi antara Divisi Informasi dan Kehumasan bersama PSIK di seluruh fakultas menjadi kunci agar institusi mampu menyampaikan narasi yang konsisten kepada publik.
“Kita benar-benar harus berkolaborasi. Kita harus kompak untuk menyuarakan hal-hal yang sama berkaitan dengan informasi yang berkembang di luar sana terkait aktivitas Universitas Brawijaya.”
Ia menambahkan bahwa keseragaman pesan menjadi bagian penting dalam menjaga citra positif universitas di mata masyarakat dan para pemangku kepentingan.
“Membangun branding secara masif dan positif berkaitan dengan citra yang dimiliki oleh Universitas Brawijaya yang sesungguhnya. Kita tidak boleh memiliki banyak suara yang berbeda-beda. Kita harus membangun branding bahwa Universitas Brawijaya mempunyai citra yang positif.”
Perencanaan Komunikasi Jadi Kunci Daya Saing
Selain membahas penanganan isu, workshop juga menekankan pentingnya penyusunan strategi komunikasi yang terencana. Menurut Lely, komunikasi institusi tidak lagi bisa dilakukan secara spontan, melainkan harus memiliki perencanaan yang jelas agar setiap pesan yang disampaikan tetap konsisten.
“Yang paling penting adalah menyamakan visi antara teman-teman di humas dalam pengelolaan isu-isu yang berkembang agar dapat dikelola dengan baik. Kemudian, penyusunan narasi institusi yang sama, atau branding yang sama. Selanjutnya adalah optimalisasi publikasi. Jadi, informasi yang kita sampaikan kepada masyarakat harus memiliki pesan yang sama, satu suara,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa strategi komunikasi harus disusun jauh hari dengan mempertimbangkan agenda publikasi yang berkelanjutan sehingga setiap informasi yang diterima masyarakat tetap selaras dengan citra institusi.
“Seperti yang disampaikan oleh salah satu narasumber, sekarang kita harus memiliki perencanaan yang benar-benar baik dan tertata. Tidak bisa hanya berbicara secara spontan. Apa yang harus kita publikasikan hari ini, besok, dan seterusnya harus direncanakan dengan baik.”
Melalui workshop yang diselenggarakan Divisi Informasi dan Kehumasan UB ini, Lely berharap seluruh pengelola humas di lingkungan Universitas Brawijaya maupun perguruan tinggi lainnya mampu membangun sistem komunikasi yang semakin profesional, adaptif, dan kolaboratif.
Penguatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya saing Universitas Brawijaya dalam menghadapi Anugerah Diktisaintek Tahun 2026 di berbagai kategori yang diperlombakan. (wan)














