Kanal24, Malang – Perubahan global yang semakin cepat menuntut profesi insinyur untuk beradaptasi dengan tantangan yang semakin kompleks. Persoalan yang dihadapi tidak lagi sebatas teknis, tetapi juga berkaitan dengan dinamika ekonomi, sosial, hingga geopolitik yang memengaruhi arah industri secara luas.
Hal ini mengemuka dalam kuliah perdana Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB), yang menyoroti pergeseran peran insinyur di era modern. Dalam forum tersebut, disampaikan bahwa insinyur saat ini dituntut memiliki kemampuan berpikir strategis dan memahami konteks global dalam setiap pengambilan keputusan.
Pemateri, Ir. Mochamad Alwi, ST., M.Ak., menegaskan bahwa kondisi global saat ini memberikan dampak langsung terhadap sektor industri.
“Beberapa bulan terakhir, hampir semua sektor industri terdampak dinamika geopolitik global, termasuk yang terjadi di Timur Tengah,” ujarnya.
Menurutnya, situasi tersebut menuntut insinyur untuk tidak hanya fokus pada penyelesaian teknis, tetapi juga mampu membaca perubahan dan risiko yang berkembang.
“Insinyur hari ini harus adaptif. Tidak cukup hanya menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga harus memahami konteks yang memengaruhi keputusan di lapangan,” jelasnya.
Baca juga : PSPPI UB Buka Angkatan Baru, 57 Profesional Lolos Program Insinyur
Selain aspek adaptasi, ia juga menekankan pentingnya etika dalam praktik keinsinyuran. Kompetensi teknis yang tinggi, menurutnya, harus berjalan seiring dengan tanggung jawab profesional.
“Kode etik menjadi standar penting yang harus dimiliki oleh setiap insinyur. Tanpa itu, risiko dalam praktik bisa sangat besar,” tegasnya.
Dalam diskusi tersebut juga disampaikan bahwa pengalaman kerja yang dimiliki para peserta program profesi menjadi modal penting dalam proses pembelajaran. Namun, pengalaman tersebut tetap perlu diselaraskan dengan standar profesional agar mampu memberikan kontribusi yang lebih luas.
Program profesi dinilai menjadi ruang strategis untuk menjembatani pengalaman praktis dengan standar keinsinyuran yang terukur. Hal ini menjadi penting di tengah kebutuhan industri terhadap tenaga profesional yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki integritas.
Selain itu, kolaborasi antara dunia akademik dan industri juga menjadi kunci dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia. Program ini mendorong terjadinya pertukaran pengetahuan dan pengalaman, sehingga lulusan yang dihasilkan lebih relevan dengan kebutuhan lapangan.
Di tengah tekanan global yang terus berubah, peran insinyur semakin strategis. Mereka tidak hanya dituntut menjadi problem solver, tetapi juga menjadi bagian dari solusi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Melalui pendidikan profesi, diharapkan lahir insinyur yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran etis, kemampuan adaptasi, serta perspektif global dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan. (Din/Qrn)














