Kanal24, Malang – Program magang kerap dipandang sebagai ajang mencari pengalaman kerja. Namun bagi dua mahasiswa Program Studi DIII Teknologi Informasi Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB), magang justru menjadi ruang untuk melahirkan inovasi yang berdampak langsung bagi industri nasional. Mereka berhasil berkontribusi mengembangkan Sistem Monitoring Retort berbasis Internet of Things (IoT) yang kini digunakan dalam digitalisasi proses sterilisasi pangan dan dipamerkan dalam Forum Koordinasi Nasional Pangan Steril Komersial Tahun 2026: Kiprah Satu Dasawarsa Program Manajemen Risiko yang diselenggarakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI bersama Gabungan Perusahaan Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI).
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Adimus Ricky Faisal Sahri dan Aditya Dwi Hardiansyah, mahasiswa semester lima DIII Teknologi Informasi, saat menjalani program magang di CV Indah Jaya Teknik (Indahmesin), perusahaan yang bergerak di bidang fabrikasi mesin retort untuk industri pangan steril komersial. Berbeda dari magang pada umumnya yang berfokus pada pekerjaan administratif, keduanya terlibat langsung dalam pengembangan sistem digital yang mendukung operasional mesin industri.
Baca juga:
Brawijaya Writers Club Bina Penulis Baru, Usung Kearifan Lokal Indonesia

Dari Ruang Magang Lahir Solusi untuk Industri
Selama menjalani magang, Adimus dan Aditya tidak hanya mempelajari proses kerja perusahaan, tetapi juga ikut mengembangkan sistem informasi yang terintegrasi dengan mesin retort. Mereka mengerjakan antarmuka monitoring proses, integrasi alur data suhu, hingga pengujian sistem di lingkungan produksi nyata.
Kontribusi terbesar keduanya terletak pada transformasi sistem pencatatan data mesin retort. Sebelum dikembangkan, seluruh data proses sterilisasi hanya direkam melalui laptop lokal sehingga sulit dipantau dari jarak jauh dan pengarsipannya masih bergantung pada ekspor data secara manual. Kondisi tersebut menjadi tantangan yang kemudian dijawab melalui penerapan teknologi Internet of Things.
Mahasiswa Vokasi UB kemudian merancang arsitektur baru yang memungkinkan data suhu dari sensor dan pengendali mesin dikirim secara otomatis menggunakan protokol MQTT menuju penyimpanan berbasis cloud. Seluruh data selanjutnya ditampilkan melalui dashboard web sehingga operator dapat memantau suhu aktual, set-point proses, status mesin, hingga grafik historis sterilisasi secara real time.
Pecahkan Tantangan Internet Tidak Stabil
Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan sistem tersebut muncul saat pengujian di lapangan. Koneksi internet yang tidak selalu stabil menyebabkan tampilan dashboard dapat mengalami keterlambatan (latency).
Namun, tim magang menemukan solusi melalui pemanfaatan Real-Time Clock (RTC) pada perangkat pencatat data. Teknologi ini memastikan setiap data suhu diberi penanda waktu langsung di perangkat sebelum dikirim ke server sehingga urutan data tetap akurat meski proses pengiriman sempat tertunda akibat gangguan jaringan.
“Awalnya kami fokus membuat suhu tampil real-time di dashboard. Setelah uji di plant, kami paham bahwa yang paling penting bukan animasi di layar, melainkan urutan waktu dan suhu yang tersimpan tetap presisi. RTC membuat data tetap akurat meski paket MQTT terkirim terlambat karena internet sempat terputus,” ujar Adimus.
Sementara itu, Aditya menjelaskan bahwa sistem juga dirancang agar mampu mengantre data ketika koneksi internet terputus dan mengirimkannya kembali secara otomatis saat jaringan pulih tanpa mengubah urutan informasi yang telah direkam.
Dipamerkan di Forum Nasional BPOM
Hasil pengembangan tersebut kemudian dipamerkan dalam Forum Koordinasi Nasional Pangan Steril Komersial Tahun 2026 yang mempertemukan regulator, akademisi, peneliti, serta pelaku industri pangan dari berbagai daerah di Indonesia. Forum ini menjadi wadah untuk menampilkan inovasi yang mendukung peningkatan sistem keamanan pangan nasional.
Dalam demonstrasi tersebut, sistem monitoring IoT mahasiswa Vokasi UB terintegrasi dengan panel kontrol industri, PID controller, hingga mesin retort berbahan stainless steel yang digunakan dalam proses sterilisasi pangan komersial. Kehadiran sistem ini menjadi contoh penerapan digitalisasi industri yang mampu meningkatkan efektivitas dokumentasi sekaligus monitoring proses produksi.
Bukti Link and Match Kampus dan Industri
Dosen pembimbing magang DIII Teknologi Informasi Vokasi UB, Rachmad Andri Atmoko, menilai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa telah berhadapan langsung dengan tantangan teknologi yang sesungguhnya.
“Magang ini melampaui sekadar deployment aplikasi. Mahasiswa menyentuh protokol industri, embedded timing, hingga berbagai trade-off desain sistem di lingkungan produksi nyata,” ujarnya.
Pendapat serupa disampaikan Firman Pratama Dewantara, konsultan IT Indahmesin sekaligus dosen praktisi Fakultas Vokasi UB. Menurutnya, setiap fitur yang dikembangkan mahasiswa benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan industri sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara teknis di hadapan operator maupun engineer di lapangan.
Bahkan, Achmat Syarifudin dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai arah pengembangan teknologi dokumentasi proses sterilisasi tersebut sejalan dengan kebutuhan pengembangan sistem pencatatan digital dalam Program Manajemen Risiko BPOM, dengan tetap memperhatikan aspek perlindungan data dan privasi produsen.
Keberhasilan Adimus dan Aditya menunjukkan bahwa pendidikan vokasi tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga mampu melahirkan inovasi yang menjawab kebutuhan industri. Kolaborasi antara Fakultas Vokasi UB dan Indahmesin pun menjadi contoh nyata implementasi konsep link and match, di mana mahasiswa tidak sekadar belajar di tempat kerja, melainkan ikut berkontribusi dalam pengembangan teknologi yang memiliki dampak nyata bagi dunia industri nasional. (nid)














