Kanal24, Malang – Limbah rumah tangga yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai ternyata dapat diubah menjadi solusi bagi sektor pertanian. Mulai dari plastik bekas deterjen yang disulap menjadi media semai, botol plastik menjadi perangkap hama, hingga sampah organik yang diolah menjadi pupuk cair, seluruh inovasi tersebut diperkenalkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) kepada kelompok tani di Desa Argosuko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.
Melalui program bertajuk “Pengolahan Limbah untuk Pertanian yang Berkelanjutan”, mahasiswa KKN berharap mampu memberikan solusi sederhana namun aplikatif bagi petani yang tengah menghadapi tantangan mahalnya harga pupuk serta tingginya ketergantungan terhadap pestisida kimia. Kegiatan ini digelar di Balai Desa Argosuko pada Jumat (10/7).
Didampingi Dosen Pembimbing Lapang (DPL) Alia Fibrianingtyas, S.P., M.P. dan Mahfudlotul ‘Ula, S.E., M.Si., sebanyak 29 mahasiswa KKN menghadirkan edukasi berbasis prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk mendorong pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi produk yang memiliki nilai guna bagi kegiatan pertanian. Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta SDG 15 mengenai pelestarian ekosistem daratan.
Baca juga:
AI Bisa Jadi Teman Belajar, Asal Guru Tahu Cara Memanfaatkannya

Dari Plastik Bekas hingga Eco Trap Pengendali Hama
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai pemanfaatan kemasan plastik bekas deterjen sebagai media semai tanaman. Tidak hanya menerima teori, para peserta juga diajak mempraktikkan langsung cara mengubah limbah plastik menjadi wadah semai yang ekonomis sekaligus membantu mengurangi sampah anorganik.
Inovasi berikutnya yang menarik perhatian peserta adalah Eco Trap (Efficiency Controller Organism Trap), yakni perangkap hama berbahan botol plastik bekas. Perangkat sederhana ini dirancang untuk menarik serangga hama, terutama pada malam hari, menggunakan feromon maupun campuran air dan deterjen.
Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu petani mengurangi populasi hama tanpa bergantung sepenuhnya pada pestisida kimia, sehingga praktik budidaya menjadi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Sampah Organik Disulap Menjadi Pupuk Cair
Selain limbah plastik, mahasiswa juga mengenalkan cara mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk organik cair melalui komposter lindi berbahan galon bekas.
Dalam sesi ini, peserta mendapatkan demonstrasi langsung mengenai proses pembuatan komposter menggunakan campuran EM4, molase, dan air sebagai aktivator. Mahasiswa juga menjelaskan teknik pemanenan lindi hingga cara pengaplikasiannya pada tanaman.
Melalui teknologi sederhana tersebut, limbah organik tidak lagi berakhir di tempat pembuangan, melainkan dapat dimanfaatkan kembali untuk menunjang produktivitas pertanian sekaligus mengurangi biaya produksi petani.
Petani Antusias, Harap Program Terus Berlanjut
Seluruh rangkaian kegiatan dikemas secara interaktif melalui demonstrasi dan praktik bersama sehingga peserta dapat memahami setiap tahapan secara langsung. Diskusi berlangsung aktif, terutama terkait penerapan inovasi tersebut dalam aktivitas pertanian sehari-hari.
Salah seorang anggota Kelompok Tani Argosuko, Paniri, menilai program tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi media semai, perangkap hama, maupun pupuk organik merupakan solusi yang sesuai dengan kebutuhan petani saat ini. Ia berharap inovasi serupa dapat terus dikembangkan sehingga limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan mampu menjadi sumber nilai tambah bagi sektor pertanian.
Sementara itu, Koordinator Desa KKN FBiPK UB, Aldo Fernando, mengatakan kegiatan ini menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam mendukung pembangunan desa melalui penerapan ilmu pengetahuan yang sederhana, mudah diterapkan, dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Kami berharap inovasi yang diperkenalkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kebiasaan mengelola limbah rumah tangga secara bijak sekaligus membantu petani memperoleh alternatif yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan dalam mendukung kegiatan pertanian,” ujarnya.
Sebelum kegiatan ditutup, peserta mengikuti post-test sebagai evaluasi untuk mengukur peningkatan pemahaman setelah mengikuti seluruh rangkaian penyuluhan dan praktik. Hasil evaluasi tersebut menjadi indikator efektivitas program yang diharapkan mampu mendorong masyarakat Desa Argosuko menerapkan inovasi berbasis limbah secara berkelanjutan demi menciptakan pertanian yang lebih efisien, mandiri, dan ramah lingkungan. (nid)













