Kanal24, Malang – Minat masyarakat terhadap obat herbal terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai tanaman obat kini banyak dimanfaatkan sebagai pendamping terapi untuk penyakit kronis, mulai dari diabetes hingga gangguan saraf. Namun, di balik besarnya potensi tersebut, para ahli mengingatkan bahwa setiap produk berbasis bahan alam tetap harus melalui pembuktian ilmiah agar manfaat dan keamanannya benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
Pendekatan inilah yang menjadi fokus Program Adjunct Professor 2026 yang diselenggarakan Departemen Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) pada mata kuliah Fitoterapi. Kegiatan yang berlangsung secara daring pada 9 Mei 2026 dan 20 Juni 2026 ini menghadirkan Dr. Muhammad Ajmal Shah, PharmD., MPhil., RPh., Ph.D., Assistant Professor Department of Pharmacy Hazara University, Pakistan, sebagai dosen tamu internasional.
Melalui dua topik utama, yakni Evidence-Based Phytotherapy for Antidiabetic Therapy dan Evidence-Based Phytotherapy for Neuroprotective Therapy, mahasiswa diperkenalkan pada perkembangan terkini penelitian bahan alam sebagai alternatif terapi penyakit kronis yang didasarkan pada bukti ilmiah (evidence-based medicine), bukan sekadar pengalaman empiris atau kepercayaan turun-temurun.
Program tersebut dibuka oleh dosen pengampu mata kuliah Fitoterapi, Apt. Queen Intan Nurrahmah, S.Farm., M.Med.Sc., Ph.D. bersama Apt. Thia Amalia, S.Farm., M.Si. Keduanya menegaskan bahwa pemanfaatan bahan alam harus dilakukan melalui pendekatan ilmiah yang komprehensif, mulai dari identifikasi senyawa bioaktif, pembuktian aktivitas farmakologi, hingga pengembangan produk kesehatan yang aman, efektif, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Dari Tanaman Obat Menuju Terapi Berbasis Bukti
Dalam dua sesi perkuliahan tersebut, Dr. Ajmal Shah memaparkan berbagai perkembangan riset mengenai pemanfaatan tanaman obat untuk terapi penyakit metabolik, khususnya diabetes, serta penyakit neurodegeneratif yang menyerang sistem saraf.
Tak hanya membahas potensi senyawa aktif dari tanaman obat, ia juga memperkenalkan berbagai inovasi teknologi ekstraksi yang lebih berkelanjutan (green extraction technology). Teknologi ini dinilai mampu menghasilkan ekstrak dengan kualitas lebih baik, mengurangi penggunaan pelarut kimia, meningkatkan efisiensi energi, sekaligus mendukung pengembangan produk farmasi yang lebih ramah lingkungan.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam pengembangan fitoterapi bukan hanya menemukan tanaman yang berpotensi sebagai obat, tetapi memastikan setiap produk yang dihasilkan memiliki dasar ilmiah yang kuat sehingga aman digunakan masyarakat.
Mahasiswa Antusias Diskusikan Masa Depan Fitoterapi
Program Adjunct Professor tidak hanya menghadirkan kuliah dari akademisi internasional, tetapi juga membuka ruang diskusi yang interaktif. Mahasiswa aktif mengajukan berbagai pertanyaan mengenai mekanisme kerja senyawa bioaktif, pengembangan obat herbal berbasis bukti ilmiah, hingga prospek penelitian bahan alam di masa mendatang.
Selain itu, peserta juga berdiskusi mengenai tantangan mentransformasikan hasil penelitian laboratorium menjadi produk kesehatan yang dapat dimanfaatkan masyarakat serta peluang kolaborasi riset internasional di bidang farmasi bahan alam. Tingginya partisipasi mahasiswa menunjukkan besarnya minat terhadap pengembangan fitoterapi sebagai salah satu bidang riset yang terus berkembang.
Perkuat Jejaring Akademik Internasional
Bagi Departemen Farmasi FK UB, penyelenggaraan Program Adjunct Professor 2026 tidak hanya bertujuan memperkaya pengalaman belajar mahasiswa melalui interaksi langsung dengan akademisi internasional, tetapi juga memperkuat jejaring kerja sama global di bidang pendidikan, penelitian, dan publikasi ilmiah.
Kolaborasi dengan Hazara University Pakistan diharapkan mampu membuka peluang riset bersama, meningkatkan kualitas publikasi internasional, sekaligus memperluas kerja sama akademik dalam pengembangan farmasi bahan alam dan fitoterapi.
Program ini juga menjadi bagian dari komitmen Universitas Brawijaya dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pengembangan terapi berbasis bahan alam yang aman dan berbasis bukti ilmiah mendukung SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
Di sisi lain, keterlibatan akademisi internasional dalam proses pembelajaran turut memperkuat SDG 4 (Quality Education) dengan menghadirkan pengalaman belajar yang lebih berkualitas dan berwawasan global. Sementara itu, kolaborasi antara Universitas Brawijaya dan Hazara University menjadi wujud nyata implementasi SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kemitraan di bidang pendidikan, penelitian, dan publikasi ilmiah.
Di tengah semakin besarnya minat masyarakat terhadap obat herbal, pengembangan fitoterapi berbasis bukti ilmiah menjadi langkah penting agar kekayaan biodiversitas tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi inovasi kesehatan yang aman, efektif, dan diakui secara global. (din)














