Kanal24, Malang – Pasar energi global kembali mendapat sentimen baru. OPEC+ resmi menyepakati kenaikan produksi minyak mulai Agustus 2026, sebuah langkah yang diperkirakan akan memperbesar pasokan minyak dunia sekaligus menjaga tekanan terhadap harga minyak yang belakangan kembali melemah.
Keputusan tersebut diambil dalam pertemuan virtual negara-negara inti OPEC+ pada Minggu (5/7). Kelompok produsen minyak itu sepakat menaikkan kuota produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus 2026.
Kenaikan ini melanjutkan kebijakan peningkatan produksi yang sebelumnya juga diterapkan pada Juni dan Juli. Sejak April hingga Juli 2026, tujuh negara inti OPEC+ telah menambah kuota produksi hampir 800.000 barel per hari sebagai bagian dari pelonggaran bertahap atas pemangkasan produksi yang diberlakukan sejak 2023. Namun, realisasi produksi di lapangan masih terganggu akibat konflik di Timur Tengah yang sempat menghambat distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Baca juga:
Potensi Pajak E-Commerce Capai Rp24 Triliun per Tahun, DJP Siapkan Optimalisasi Marketplace
Data OPEC menunjukkan produksi kelompok tersebut turun menjadi sekitar 33,13 juta barel per hari pada Mei 2026, jauh di bawah level Februari. Produksi mulai berangsur pulih pada Juni setelah aktivitas ekspor dari sejumlah negara Teluk kembali membaik.
Meski demikian, pasar minyak masih dibayangi berbagai faktor penekan. Permintaan minyak mentah dari China belum sepenuhnya pulih, sementara produksi dari negara-negara non-Timur Tengah meningkat. Di sisi lain, pelepasan cadangan minyak strategis secara terkoordinasi juga ikut menambah pasokan global.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai perhatian pasar kini tertuju pada seberapa cepat lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz kembali normal serta pemulihan permintaan minyak mentah dari China.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent sempat diperdagangkan di kisaran US$72 per barel, jauh lebih rendah dibanding puncaknya yang sempat menembus US$120 per barel ketika konflik di Timur Tengah memanas. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa pasokan minyak global akan kembali normal dalam beberapa bulan mendatang.
Di tengah upaya meningkatkan pasokan, OPEC+ juga menghadapi tantangan internal. Uni Emirat Arab telah keluar dari kelompok tersebut pada Mei 2026, sementara Irak menginginkan kuota produksi yang lebih besar.
Dengan keputusan terbaru ini, tujuh negara utama OPEC+—Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman—tinggal menyisakan sebagian kecil dari pengurangan produksi yang disepakati pada 2023. Jika pada pertemuan berikutnya mereka kembali menyetujui kenaikan produksi dalam jumlah serupa, maka kebijakan pemangkasan produksi yang berlaku sejak 2023 berpotensi berakhir sepenuhnya pada September 2026. (nid)














