Kanal24, Malang – Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menjadi pengetahuan penting yang perlu dikenalkan sejak mahasiswa berada di lingkungan perguruan tinggi. Setiap aktivitas di kampus memiliki potensi risiko dan bahaya sehingga pemahaman mengenai keselamatan diperlukan agar mahasiswa mampu membangun kebiasaan hidup yang aman, disiplin, dan bertanggung jawab.
Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, S.T., M.Kes., IPU., ASEAN Eng., selaku Ketua DK3L Universitas Brawijaya (UB), dalam rangkaian Open House Raja Brawijaya di Universitas Brawijaya, Sabtu (29/08/2026). Melalui kehadiran divisi K3L dalam kegiatan tersebut, mahasiswa baru diajak mengenal penerapan keselamatan dan kesehatan kerja yang tidak hanya berlaku di dunia industri, tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan kampus.
Baca juga:
Expo PKM FTAB UB Tampilkan Empat Inovasi Mahasiswa
K3 Penting di Lingkungan Kampus
Qomariyatus menjelaskan bahwa K3 merupakan bagian penting dalam setiap aktivitas karena setiap kegiatan memiliki risiko dan potensi bahaya. Menurutnya, perguruan tinggi juga tidak terlepas dari kebutuhan penerapan K3.
Ia menegaskan bahwa penerapan K3 di kampus bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan akreditasi. Lebih dari itu, K3 diperlukan untuk meminimalkan risiko yang dapat muncul dalam berbagai aktivitas sivitas akademika.
“Setiap aktivitas stakeholder semuanya saja, setiap aktivitas ada risiko dan bahayanya,” jelasnya.

Salah satu contoh sederhana yang disampaikan adalah kebiasaan mahasiswa menggunakan telepon seluler ketika berjalan menuruni tangga. Aktivitas yang terlihat sepele tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan apabila mahasiswa tidak memperhatikan lingkungan sekitar.
Aturan keselamatan juga diterapkan dalam aktivitas berkendara di lingkungan kampus. Qomariyatus menyebut batas kecepatan kendaraan di lingkungan UB tidak boleh lebih dari 20 kilometer per jam. Penggunaan knalpot brong juga dilarang karena dapat mengganggu kenyamanan lingkungan kampus.
Menurutnya, penerapan aturan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran agar setiap individu tidak menjadi faktor yang meningkatkan risiko kecelakaan maupun gangguan bagi orang lain.
Edukasi K3 Lewat Open House
Kehadiran divisi K3L dalam Open House Raja Brawijaya menjadi salah satu sarana edukasi langsung kepada mahasiswa baru. Qomariyatus mengajak mahasiswa untuk mengunjungi booth K3L yang berada di booth 184.
Di lokasi tersebut, mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan mengenai K3 sekaligus melihat berbagai perlengkapan keselamatan secara langsung. Salah satunya adalah alat pelindung diri (APD) yang digunakan untuk mengurangi risiko ketika menghadapi kondisi berbahaya.
Mahasiswa juga diperkenalkan dengan berbagai perlengkapan keselamatan, seperti pakaian antisipasi kebakaran, masker, hingga kotak Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K).
Menurut Qomariyatus, pengenalan tersebut penting agar mahasiswa tidak hanya memahami K3 secara teori, tetapi juga mengetahui bentuk peralatan yang digunakan dalam penerapannya.
Open House juga dikemas dengan aktivitas yang lebih interaktif. Mahasiswa dapat berfoto di booth K3L dan membagikan pengalamannya melalui media sosial dengan menandai akun Instagram divisi K3L UB.
Melalui pendekatan tersebut, edukasi K3 diharapkan dapat lebih mudah diterima mahasiswa baru. Mereka tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga melihat langsung berbagai perlengkapan dan praktik keselamatan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
K3 Berlaku di Berbagai Bidang
Qomariyatus menekankan bahwa pemahaman K3 tidak seharusnya dianggap hanya berkaitan dengan industri. Prinsip keselamatan dapat diterapkan di berbagai bidang sesuai dengan aktivitas dan risiko yang dihadapi.
Mahasiswa yang nantinya bekerja di rumah sakit akan berhadapan dengan K3 rumah sakit. Sementara mahasiswa bidang pertanian dapat mengenal K3 pertanian dan perkebunan. Di bidang teknik, penerapan K3 juga berkaitan erat dengan aktivitas industri, konstruksi, maupun pekerjaan teknis lainnya.
Begitu pula dengan bidang arsitektur, sipil, hingga pariwisata yang memiliki potensi risiko dan kebutuhan keselamatan masing-masing. Karena itu, pengenalan K3 sejak mahasiswa dinilai dapat menjadi bekal sebelum mereka memasuki dunia profesional.
Qomariyatus berharap mahasiswa baru mulai membangun kesadaran bahwa keselamatan merupakan bagian dari kebiasaan sehari-hari. Prinsip tersebut perlu dilakukan secara konsisten sehingga perilaku aman tidak hanya muncul ketika ada pengawasan.
Ia menekankan pentingnya membangun budaya disiplin dalam setiap aktivitas. Kebiasaan menjaga keselamatan diharapkan dapat membentuk individu yang lebih bertanggung jawab sekaligus mendukung produktivitas.
“Be safe, stay safe, dan salam zero accident,” pesannya.
Menurut Qomariyatus, budaya keselamatan yang dibangun sejak dini pada akhirnya dapat menjadi kebiasaan. Ketika mahasiswa terbiasa disiplin dan memperhatikan keselamatan, perilaku tersebut dapat terbawa hingga memasuki dunia kerja.
Melalui Open House Raja Brawijaya 2026, pengenalan K3 menjadi bagian dari upaya UB membangun kesadaran mahasiswa baru terhadap keselamatan. Pesan tersebut tidak hanya relevan selama berada di lingkungan kampus, tetapi juga menjadi bekal untuk menghadapi berbagai aktivitas dan tantangan di dunia profesional.(ffn)














