Kanal24, Malang – Pengetahuan tentang tuberkulosis (TBC) belum tentu membuat pasien mengubah perilaku dan patuh menjalani pengobatan. Karena itu, penanganan TBC perlu melihat lebih jauh alasan serta hambatan yang dihadapi pasien dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Associate Professor Dr. Zulkhairul Naim bin Sidek Ahmad, Associate Professor in Global and Planetary Health sekaligus Head of the Medical Education Department, Universiti Malaysia Sabah, saat menjadi pemateri dalam The 4th Brawijaya Medical Conference (BMC) International Tuberculosis Conference 2026, Sabtu (12/9/2026).
Dalam pemaparannya, Zulkhairul membahas behavior insight dan community empowerment sebagai pendekatan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat, termasuk dalam penanganan TBC.
Baca juga:
Drone Termal Matrice 30T Bantu UB Forest Deteksi Titik Api

Pengetahuan Tak Otomatis Ubah Perilaku
Menurut Zulkhairul, selama ini perubahan perilaku dalam bidang kesehatan kerap dikaitkan dengan tingkat pengetahuan seseorang. Padahal, memiliki pengetahuan yang baik tidak selalu membuat seseorang menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita seharusnya bergerak dari hanya melihat pengetahuan menuju bagaimana kita ingin mengubah perilaku,” ujarnya.
Ia mencontohkan persoalan kepatuhan pasien TBC dalam menjalani pengobatan. Ketika pasien tidak datang untuk pemeriksaan atau kontrol, tenaga kesehatan tidak seharusnya langsung menyalahkan pasien.
Pasalnya, ada berbagai faktor yang dapat menjadi hambatan, mulai dari biaya, transportasi, keterbatasan waktu, hingga pekerjaan yang harus ditinggalkan ketika pasien datang ke fasilitas kesehatan.
Menurutnya, tenaga kesehatan perlu melihat persoalan tersebut dari perspektif pasien sekaligus menyesuaikan pendekatan yang digunakan.
Nudge untuk Bantu Pasien Konsisten
Zulkhairul mengatakan, perubahan perilaku juga dapat didorong melalui pendekatan sederhana berupa nudge atau dorongan yang membantu seseorang mengambil keputusan dan mempertahankan kebiasaan.
Dalam konteks pengobatan TBC, salah satunya dengan melakukan pengingat secara berkala kepada pasien mengenai jadwal pemeriksaan maupun pengobatan.
Ia menilai langkah tersebut penting karena pasien bisa memiliki berbagai persoalan lain yang memenuhi pikirannya sehingga berpotensi melupakan jadwal kontrol.
Pendekatan serupa, menurutnya, juga berlaku pada persoalan kesehatan lainnya. Masyarakat bisa saja telah mengetahui pentingnya olahraga, misalnya, tetapi tetap tidak melakukannya apabila tidak tersedia fasilitas yang mendukung.
“Tidak cukup hanya meningkatkan pengetahuan. Kita juga perlu melihat dari perspektif lain,” katanya.
Belajar dari Sistem Kader Indonesia
Selain membahas perubahan perilaku, Zulkhairul turut menyoroti peran kader kesehatan di Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki sistem kader yang kuat dan mendapat dukungan dari Kementerian Kesehatan.
Keberadaan kader dinilai penting untuk membantu menjangkau masyarakat, khususnya mereka yang berada di wilayah sulit dijangkau.
Zulkhairul mengatakan Malaysia juga memiliki sistem kader, tetapi menurut pengamatannya, sistem di Indonesia lebih sistematis. Hal tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi Malaysia dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan.
“Kader memainkan peran penting, terutama di daerah yang sulit dijangkau. Saya melihat sistem di Indonesia lebih sistematis,” ujarnya.
Ia berharap pendekatan berbasis perilaku dan pemberdayaan masyarakat semakin diperhatikan dalam penelitian maupun promosi kesehatan.
Menurutnya, penelitian tidak cukup hanya mengukur pengetahuan, sikap, dan perilaku secara umum. Peneliti maupun tenaga kesehatan perlu menggali secara lebih spesifik alasan di balik tindakan seseorang.
“Kenapa seseorang tidak datang ke klinik? Kenapa seseorang tidak minum obat? Kita harus melihatnya secara lebih spesifik dan bergerak menuju personalized medicine, bukan hanya pendekatan yang digeneralisasi,” tegasnya.
Bagi Zulkhairul, memahami alasan personal di balik perilaku pasien menjadi salah satu kunci untuk membuat intervensi kesehatan lebih efektif, termasuk dalam upaya pengendalian TBC di kawasan Asia Tenggara. (nid)













