Oleh: Syed Abdullah Yahya Ibrahim*
Kanal24, Malang – Di tengah keyakinan banyak pihak bahwa tekanan militer dan embargo ekonomi mampu melumpuhkan sebuah negara, pengalaman Iran justru menunjukkan arah yang berbeda. Perang Iran–AS–Israel 2026 tidak hanya menjadi arena konfrontasi senjata dan ekonomi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana identitas nasional, solidaritas sosial, dan narasi sejarah dapat berubah menjadi sumber daya politik yang sulit dihancurkan.
Selama konflik berlangsung, Iran menghadapi tekanan berlapis. Serangan militer, blokade ekonomi, isolasi geopolitik, hingga perang narasi global datang secara bersamaan. Banyak analis Barat memprediksi bahwa tekanan sebesar itu akan memicu delegitimasi politik dan fragmentasi sosial di dalam negeri. Namun yang terjadi justru memperlihatkan kondisi berbeda. Alih-alih runtuh, mobilisasi publik di Iran tetap berlangsung dan solidaritas sosial tidak sepenuhnya melemah meskipun tekanan ekonomi meningkat drastis.
Dalam konteks tersebut, perang tidak lagi dapat dipahami sekadar sebagai konflik fisik antarnegara. Konflik modern juga merupakan pertarungan identitas, legitimasi, dan perebutan makna politik di tingkat global.
Ketika Tekanan Ekonomi Tidak Menghasilkan Keruntuhan
Dampak perang memang sangat besar. Ribuan korban jiwa dilaporkan berjatuhan di Iran, sementara puluhan ribu lainnya mengalami luka-luka. Efek konflik juga menjalar ke Lebanon, Irak, Israel, hingga kawasan Teluk. Pada saat yang sama, ekonomi global ikut terguncang ketika Selat Hormuz—jalur distribusi hampir 20 persen minyak dunia—mengalami ketegangan serius akibat eskalasi militer dan keterlibatan armada Amerika Serikat.
Situasi tersebut mendorong harga minyak dunia melonjak hingga melampaui 120 dolar AS per barel. Jutaan barel minyak Iran tertahan di kapal tanker dan menyebabkan tekanan besar terhadap pendapatan negara. Dalam pendekatan ekonomi-politik konvensional, kondisi seperti itu seharusnya cukup untuk memicu instabilitas domestik dan melemahkan legitimasi negara secara signifikan.
Namun pendekatan yang hanya melihat kekuatan negara dari indikator material ternyata tidak sepenuhnya mampu menjelaskan apa yang terjadi di Iran. Banyak analisis geopolitik modern terlalu berfokus pada ukuran militer, kapasitas ekonomi, maupun kerusakan infrastruktur. Dalam logika tersebut, negara yang ekonominya tertekan dan terus diserang akan menuju titik keruntuhan.
Iran menunjukkan bahwa asumsi itu tidak selalu berlaku.
Di tengah tekanan perang, mobilisasi masyarakat tetap berjalan. Kehadiran publik di ruang sosial dan politik bahkan berubah menjadi simbol legitimasi nasional. Dalam situasi tertentu, solidaritas sosial justru menguat ketika masyarakat merasa negaranya sedang menghadapi ancaman eksternal.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa daya tahan sebuah negara tidak selalu bergantung sepenuhnya pada kekuatan ekonomi atau kapasitas militer. Ada dimensi sosial dan psikologis yang ikut menentukan apakah sebuah negara mampu bertahan menghadapi tekanan geopolitik jangka panjang.
Identitas Politik dan Narasi Perlawanan
Terdapat perbedaan mendasar antara cara Barat dan Iran memaknai perang. Pendekatan realis Barat memandang konflik sebagai perebutan aset strategis, dominasi militer, dan daya tahan ekonomi. Sementara Iran melihat perang sebagai bagian dari kesinambungan sejarah perjuangan politik dan benturan identitas.
Karena itu, ancaman terbesar bagi Iran bukan hanya kehancuran fisik atau menurunnya pendapatan negara, melainkan hilangnya legitimasi moral dan makna kolektif yang menyatukan masyarakat. Dalam perspektif tersebut, tekanan asing justru dapat memperkuat solidaritas sosial karena dipandang sebagai bagian dari perjuangan nasional yang telah berlangsung panjang.
Salah satu faktor penting dalam membentuk daya tahan tersebut adalah paradigma Karbala yang memiliki posisi kuat dalam budaya politik Iran. Narasi tentang pengorbanan, perlawanan, dan kesyahidan tidak hanya dipahami sebagai simbol religius, tetapi juga menjadi mekanisme budaya yang membentuk mental kolektif masyarakat.
Dalam kerangka itu, penderitaan akibat perang dapat diubah menjadi simbol perjuangan bersama. Tekanan eksternal tidak selalu menghasilkan kepanikan sosial, tetapi justru memperkuat identitas nasional. Pengalaman sejarah panjang menghadapi intervensi asing membuat konflik dipandang bukan sebagai situasi luar biasa, melainkan bagian dari perjalanan historis bangsa.
Pendekatan semacam ini pada akhirnya membentuk apa yang dapat disebut sebagai strategic foresight, yaitu kemampuan masyarakat membangun perspektif kolektif melalui sejarah, identitas, dan narasi perjuangan. Dengan cara tersebut, masyarakat menjadi lebih siap secara psikologis menghadapi tekanan geopolitik tanpa sepenuhnya menggantungkan stabilitas pada kondisi ekonomi.
Perebutan Narasi dan Wajah Baru Geopolitik
Selain berlangsung di medan perang, konflik juga terjadi di ruang media global. Media Barat cenderung membingkai Iran sebagai ancaman kawasan dengan menyoroti isu nuklir dan ketegangan militer. Sebaliknya, media Iran memosisikan negaranya sebagai korban agresi sekaligus simbol perlawanan terhadap dominasi asing.
Akibatnya, angka korban jiwa, kerugian ekonomi, maupun kerusakan akibat perang tidak lagi berdiri sebagai data statistik semata. Semua itu berubah menjadi bagian dari perebutan legitimasi dan pembentukan opini politik internasional.
Apa yang terjadi pada Iran memperlihatkan bahwa logika geopolitik modern tidak selalu berjalan sesuai asumsi klasik politik internasional. Tekanan militer, embargo ekonomi, dan isolasi diplomatik memang mampu melemahkan stabilitas ekonomi suatu negara, tetapi tidak selalu berhasil menghancurkan legitimasi politik maupun solidaritas sosialnya.
Dalam kasus Iran, perang justru menunjukkan bagaimana identitas kolektif dapat berubah menjadi sumber ketahanan nasional. Ketika masyarakat memandang tekanan eksternal sebagai bagian dari sejarah panjang perjuangan bangsa, maka penderitaan tidak selalu melahirkan kepasrahan. Dalam situasi tertentu, tekanan justru dapat memperkuat solidaritas sosial dan mempertegas identitas politik sebuah negara.
Di era geopolitik multipolar hari ini, kekuatan negara tidak lagi hanya ditentukan oleh persenjataan modern atau kapasitas ekonomi. Kemampuan menjaga identitas nasional, membangun solidaritas sosial, dan mempertahankan legitimasi politik kini menjadi bagian penting dari strategi bertahan hidup suatu negara di tengah tekanan global.
Karena itu, perang modern pada akhirnya bukan hanya soal siapa yang paling kuat secara militer, tetapi siapa yang paling mampu mempertahankan makna perjuangannya di hadapan masyarakat dan dunia internasional.
*) Dr. Syed Abdullah Yahya Ibrahim, S.Sos., M.Hub.Int.
Penulis adalah Koordinator Iran Corner FISIP Universitas Brawijaya dan Pakar Timur Tengah














