Kanal24, Malang – Industri esports yang terus berkembang kini tak lagi hanya menjadi panggung kompetisi digital, tetapi juga sumber inspirasi bagi dunia perfilman. Hal itu terlihat dalam film Nobody Loves Kay, sebuah drama remaja yang terinspirasi dari perjalanan atlet esports dunia, Kairi Ygnacio Rayosdelsol atau yang lebih dikenal sebagai Kairi ONIC.
Namun, film yang mulai tayang di bioskop pada 4 Juni 2026 ini bukan sekadar kisah tentang permainan Mobile Legends atau perjalanan menjadi atlet profesional. Di balik dunia kompetitif esports, film ini menyimpan cerita yang dekat dengan kehidupan banyak keluarga Indonesia: perjuangan seorang anak mempertahankan mimpinya ketika orang-orang terdekat justru meragukannya.
Film garapan sutradara Bernardus Raka tersebut menghadirkan Bima Azriel sebagai Kay, seorang remaja yang bercita-cita menjadi pemain profesional Mobile Legends. Ia tumbuh bersama dua sahabatnya dengan keyakinan bahwa suatu hari mereka akan berdiri di panggung kompetisi dunia. Namun perjalanan menuju impian itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Konflik keluarga, tekanan akademik, hingga keretakan persahabatan menjadi tantangan yang harus dihadapi Kay sebelum membuktikan kemampuannya.
Ketika Mimpi Anak Dianggap Tidak Menjanjikan

Salah satu tema utama yang diangkat film ini adalah benturan antara generasi muda dan orang tua dalam memandang masa depan. Banyak orang tua masih menganggap dunia gim hanyalah hiburan semata, bukan profesi yang layak diperjuangkan.
Melalui karakter Kay, penonton diajak melihat bagaimana stereotip tersebut dapat memengaruhi hubungan keluarga. Sang ibu menginginkan masa depan yang lebih pasti bagi anaknya, sementara Kay percaya bahwa passion yang ia miliki bisa menjadi jalan hidup yang menjanjikan. Perbedaan sudut pandang inilah yang kemudian melahirkan konflik emosional sepanjang cerita.
Meski berlatar dunia esports, cerita yang disuguhkan sebenarnya sangat universal. Banyak remaja pernah berada pada posisi yang sama, ketika pilihan hidup mereka dianggap tidak realistis atau tidak sesuai harapan keluarga. Film ini mencoba menunjukkan bahwa setiap mimpi membutuhkan ruang untuk didengar sebelum dinilai.
Sutradara Bernardus Raka bahkan menegaskan bahwa film ini tidak hanya berbicara mengenai esports. Persahabatan, keluarga, cinta, pengorbanan, hingga pencarian jati diri menjadi fondasi utama cerita sehingga dapat dinikmati oleh penonton yang bahkan tidak mengikuti dunia gim sekalipun.
Terinspirasi Kisah Nyata Kairi ONIC

Daya tarik lain dari Nobody Loves Kay adalah keterkaitannya dengan sosok Kairi ONIC, salah satu pemain Mobile Legends paling sukses di Asia Tenggara. Perjalanan karier Kairi yang berhasil menembus level internasional menjadi inspirasi utama dalam pengembangan karakter Kay.
Meski demikian, film ini bukanlah biografi yang menceritakan kehidupan Kairi secara detail. Tim produksi mengembangkan kisah tersebut menjadi drama fiksi yang lebih luas agar pesan yang disampaikan dapat dirasakan oleh lebih banyak kalangan.
Kolaborasi antara rumah produksi dan ONIC Esports juga menjadi langkah menarik dalam memperkenalkan dunia esports kepada masyarakat yang lebih luas. Industri yang selama ini identik dengan layar ponsel dan arena kompetisi kini tampil dalam format sinema yang lebih emosional dan manusiawi.
Kairi sendiri mengaku bangga karena sebagian kisah hidupnya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda. Ia berharap film tersebut mampu memberikan motivasi kepada siapa saja yang sedang berjuang mengejar impian meskipun sering dipandang sebelah mata oleh lingkungan sekitar.
Lebih dari Sekadar Film Esports
Berbeda dari kebanyakan film bertema olahraga atau kompetisi, Nobody Loves Kay lebih menonjolkan sisi emosional para karakternya. Penonton tidak hanya disuguhkan pertandingan dan persaingan, tetapi juga konsekuensi yang muncul ketika seseorang terlalu terobsesi pada tujuan hingga mengorbankan hubungan dengan orang-orang terdekat.
Kisah Kay menggambarkan bagaimana ambisi yang besar dapat menjadi kekuatan sekaligus kelemahan. Dalam proses mengejar mimpinya, ia harus belajar mengenai arti keluarga, pentingnya persahabatan, serta makna dukungan dari orang-orang yang percaya kepadanya.
Karakter Amanda yang diperankan Aurora Ribero turut memperkuat pesan tersebut. Kehadirannya menjadi simbol pentingnya support system dalam perjalanan seseorang meraih cita-cita. Film ini mengingatkan bahwa keberhasilan sering kali tidak diraih sendirian, melainkan berkat orang-orang yang tetap percaya ketika dunia mulai meragukan kita.
Dengan perpaduan drama keluarga, persahabatan, romansa remaja, dan atmosfer kompetisi esports yang autentik, Nobody Loves Kay hadir sebagai salah satu film Indonesia yang menawarkan perspektif baru mengenai mimpi dan perjuangan generasi muda. Bukan hanya tentang menjadi juara di arena permainan, tetapi tentang keberanian mempertahankan keyakinan ketika jalan menuju impian terasa semakin sulit. (ger)













