Kanal24, Malang – Kecelakaan kereta yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam. Insiden ini bermula saat KRL menabrak kendaraan yang mogok di perlintasan, kemudian berhenti di jalur. Dalam kondisi tersebut, kereta jarak jauh yang melaju dari arah belakang tidak sempat menghindar dan menabrak rangkaian KRL.
Data sementara menunjukkan sedikitnya 15 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka, dengan mayoritas korban berada di gerbong yang terdampak langsung benturan. Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan masih dalam proses investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Baca juga:
5 Kecelakaan Kereta Api Paling Mematikan di Dunia, Korbannya Capai 1.700 Jiwa
Pakar transportasi Universitas Brawijaya, Ir. Achmad Wicaksono, M.Eng., Ph.D., IPU, menilai indikasi awal kejadian mengarah pada persoalan komunikasi antar sistem operasional kereta yang belum terintegrasi.
“Secara umum, hasil pastinya tentu menunggu investigasi KNKT. Tetapi yang dominan sepertinya terjadi kegagalan komunikasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setelah KRL berhenti akibat insiden di perlintasan, informasi darurat tidak tersampaikan secara cepat kepada kereta lain yang berada di jalur yang sama.
“Karena pengelolaan yang berbeda, komunikasinya tidak bisa langsung. KRL dikelola oleh KCI, sementara kereta jarak jauh oleh PT KAI,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun menggunakan rel yang sama, sistem komunikasi antar operator belum sepenuhnya terhubung. Masinis tidak memiliki akses komunikasi langsung untuk menyampaikan kondisi darurat secara real-time kepada kereta lain.
“Ini menjadi PR bagaimana mempercepat komunikasi antara satu kereta dengan kereta yang lain, terutama dalam kondisi darurat,” tegasnya.
Selain persoalan komunikasi, Wicaksono juga menyoroti keterbatasan sistem keselamatan di lintasan tersebut. Ia menyebut belum semua jalur dilengkapi teknologi pengaman otomatis seperti Automatic Train Stop (ATS).
“Seharusnya ketika ada kereta yang berhenti, sinyal sebelumnya langsung menunjukkan merah sehingga masinis bisa menghentikan kereta sebelum terjadi tabrakan. Tetapi di lintasan Bekasi Timur sistem seperti itu belum tersedia,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan standar keselamatan, terutama pada jalur dengan tingkat kepadatan tinggi yang belum seluruhnya dilengkapi sistem pengamanan otomatis.
Dalam jangka pendek, ia menekankan pentingnya penguatan sistem komunikasi dan persinyalan sebagai langkah prioritas.
“Kereta api bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian harus memprioritaskan pengamanan di jalur padat, terutama memperbaiki sistem komunikasi dan persinyalan agar kejadian seperti ini tidak terulang,” katanya.
Di sisi lain, ia juga menyoroti persoalan struktural yang lebih luas, yakni penggunaan jalur rel yang masih bercampur antara kereta komuter dan kereta jarak jauh.
“Memang idealnya dipisah. Di banyak kota besar dunia, kereta komuter dan kereta jarak jauh berjalan di jalur yang berbeda karena karakter operasionalnya berbeda,” jelasnya.
Namun, ia mengakui pemisahan jalur bukan solusi yang bisa dilakukan dalam waktu singkat karena membutuhkan investasi besar serta proses pembebasan lahan.
“Untuk penambahan jalur rel itu butuh waktu dan biaya besar, jadi ini solusi jangka panjang,” tambahnya.
Selain aspek teknis, Wicaksono juga menyoroti sisi keselamatan penumpang, khususnya terkait penempatan gerbong khusus perempuan yang berada di bagian ujung rangkaian.
“Perlu dipertimbangkan apakah gerbong khusus perempuan sebaiknya ditempatkan di tengah, agar lebih aman dan aksesnya lebih mudah,” ujarnya.
Menurutnya, posisi gerbong di bagian depan atau belakang berpotensi meningkatkan risiko dalam situasi darurat, baik dari sisi benturan maupun proses evakuasi.
Kecelakaan ini menunjukkan bahwa persoalan keselamatan perkeretaapian tidak berdiri pada satu faktor, tetapi merupakan kombinasi dari sistem komunikasi, teknologi pengamanan, serta desain operasional. Selama perbaikan masih berjalan parsial, potensi risiko pada jalur padat tetap menjadi tantangan dalam operasional transportasi rel nasional.(Din/Awn)














