Kanal24, Malang – Fenomena masyarakat Indonesia yang semakin akrab dengan utang digital makin terlihat nyata. Layanan buy now pay later (BNPL) atau yang lebih populer disebut paylater, kini menjadi salah satu pilihan utama warga untuk menutup kebutuhan konsumsi hingga gaya hidup.
Data terbaru menunjukkan, nilai transaksi paylater di Indonesia tumbuh sangat tajam hingga 86,7 persen secara tahunan. Outstanding atau total pembiayaan layanan ini bahkan telah menembus angka Rp56,3 triliun pada awal 2026.
Lonjakan tersebut menandakan satu hal: masyarakat makin terbiasa membeli sekarang dan membayar belakangan.
Baca juga:
Disorot Dunia! Indonesia Peringkat Dua Tahan Guncangan Energi
Di tengah tekanan ekonomi, harga kebutuhan pokok yang terus merangkak, serta pendapatan yang tidak naik secepat inflasi, paylater dianggap menjadi jalan pintas paling mudah untuk tetap memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tak hanya dipakai untuk belanja online, kini paylater juga digunakan untuk membayar tiket perjalanan, makanan, gadget, fesyen, hingga tagihan rumah tangga.
Paylater Jadi Pelarian Saat Daya Beli Melemah
Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil membuat banyak rumah tangga mulai mengandalkan fasilitas cicilan instan.
Berbeda dengan kartu kredit yang syaratnya lebih ketat, paylater hadir hanya dengan modal KTP, nomor ponsel, dan verifikasi singkat. Dalam hitungan menit, limit pinjaman bisa langsung cair dan dipakai transaksi.
Kemudahan inilah yang membuat masyarakat, khususnya generasi muda produktif, semakin nyaman menggunakan skema “utang halus” tersebut.
Yang mengkhawatirkan, banyak pengguna tidak lagi memakai paylater untuk kebutuhan darurat, tetapi justru untuk konsumsi rutin dan gaya hidup.
Mulai dari checkout fesyen bulanan, upgrade ponsel, nongkrong, staycation, hingga membeli barang yang sebenarnya tidak mendesak.
Fenomena ini membuat paylater bukan sekadar alat pembayaran, melainkan sudah berubah menjadi penopang cash flow harian sebagian warga.
Utang Meningkat, Risiko Kredit Macet Ikut Membengkak
Di balik pertumbuhan fantastis tersebut, ancaman gagal bayar juga ikut mengintai.
Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) layanan paylater masih berada di atas ambang aman, menandakan tidak sedikit masyarakat yang mulai kesulitan membayar cicilan tepat waktu.
Artinya, pertumbuhan pengguna bukan sepenuhnya kabar baik.
Semakin tinggi transaksi, semakin besar pula potensi masyarakat terjebak pada pola gali lubang tutup lubang.
Banyak pengguna akhirnya memakai satu limit paylater untuk menutup tagihan paylater lainnya, atau meminjam dari pinjaman online demi membayar cicilan yang jatuh tempo.
Diskusi warganet di forum online juga memperlihatkan keresahan yang sama. Tidak sedikit yang menyebut paylater sebagai “utang terselubung” karena terasa ringan di awal, tetapi menumpuk diam-diam saat tagihan datang bersamaan.
Kenapa Warga Makin Suka Paylater? Ini Penyebabnya
Ada beberapa faktor utama yang membuat layanan ini meledak:
1. Proses super cepat tanpa ribet
Pengajuan tidak serumit pinjaman bank. Bahkan sebagian aplikasi hanya butuh waktu beberapa menit.
2. Promo dan diskon menggoda
Banyak e-commerce sengaja memberi cashback, gratis ongkir, hingga potongan harga khusus jika bayar pakai paylater.
3. Gaya hidup serba instan
Generasi digital terbiasa ingin semua serba cepat, termasuk dalam urusan belanja.
4. Pendapatan tak seimbang dengan kebutuhan
Saat gaji stagnan tetapi kebutuhan meningkat, paylater menjadi “napas tambahan” meski sebenarnya adalah utang.
5. Ilusi cicilan kecil
Nominal Rp20 ribu–Rp50 ribu per hari terasa ringan, padahal jika diakumulasi bisa menjadi beban besar.
Masyarakat Harus Waspada, Paylater Bukan Uang Gratis
Kemudahan bertransaksi sering membuat banyak orang lupa bahwa paylater tetaplah pinjaman yang wajib dibayar.
Setiap keterlambatan akan menimbulkan bunga, denda, hingga catatan kredit buruk yang bisa memengaruhi pengajuan pinjaman lain di masa depan.
Masalahnya, karena transaksi dilakukan hanya dengan satu klik, pengguna sering tidak merasakan sensasi “kehilangan uang” seperti saat membayar tunai.
Inilah yang membuat belanja impulsif meningkat.
Sekali dua kali mungkin terasa aman, tetapi jika dipakai terus menerus untuk kebutuhan konsumtif, paylater bisa menjadi jebakan finansial yang sulit dihentikan.
Paylater Naik Tajam, Alarm Bahaya Keuangan Rumah Tangga Mulai Menyala
Ledakan transaksi paylater menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memang semakin familiar dengan utang digital.
Namun di sisi lain, ini juga menjadi sinyal bahwa tekanan ekonomi rumah tangga sedang tidak baik-baik saja.
Saat warga mulai mengandalkan cicilan instan untuk menutup kebutuhan biasa, artinya daya beli asli sedang melemah.
Paylater memang menawarkan kenyamanan hari ini, tetapi jika tidak dikendalikan, tagihan bulan depan bisa berubah menjadi bencana.
Belanja jadi mudah, bayar belakangan terdengar ringan.
Masalahnya, utang tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya menunggu tanggal jatuh tempo.













