Kanal24, Malang – Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di perguruan tinggi tidak berhenti pada keberadaan aturan maupun standar operasional prosedur (SOP). Penerapannya membutuhkan keterlibatan seluruh warga kampus agar keselamatan menjadi budaya yang hadir dalam setiap aktivitas, mulai dari kegiatan akademik hingga pekerjaan pendukung di lingkungan universitas.
Upaya membangun budaya tersebut menjadi perhatian dalam kunjungan tim K3 Universitas Negeri Surabaya (UNESA) ke K3L Universitas Brawijaya (UB), Rabu (30/09/2026). Sebanyak 30 peserta yang terdiri dari tim manajemen K3 UNESA dan pengelola K3 dari berbagai fakultas hadir untuk bersilaturahmi, berbagi praktik pengelolaan K3, sekaligus menjajaki peluang kolaborasi dalam penguatan K3 di lingkungan perguruan tinggi.
Baca juga:
UB Naik ke Peringkat Kedelapan Bersama Nasional, Melompat 19 Urutan dalam Daftar THE
UNESA Pelajari Tata Kelola K3L UB
Ketua K3L UB, Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, S.T., M.Kes., IPU., ASEAN Eng., menjelaskan kunjungan tersebut menjadi ruang pertukaran pengalaman antara kedua perguruan tinggi. Selain mempererat silaturahmi, pertemuan diarahkan untuk melihat bagaimana sistem K3 diterapkan di masing-masing kampus.

Menurut Qomariyatus, UB juga memanfaatkan kunjungan tersebut sebagai kesempatan untuk belajar dari pengalaman UNESA. Hal ini penting karena kelembagaan K3 di UB masih terus dikembangkan sehingga praktik dari perguruan tinggi lain dapat menjadi bahan evaluasi dan penguatan program.
“Selain silaturahmi, yang kedua adalah menjajaki kolaborasi dan kerja sama di bidang K3 perguruan tinggi. Dan yang utama adalah sharing sebenarnya bagaimana implementasi K3 di UB dan di UNESA,” ujarnya.
Ia menambahkan, salah satu pembahasan utama berkaitan dengan penguatan sumber daya manusia. Budaya K3 perlu dikenalkan kepada mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, petugas kebersihan, serta seluruh pihak yang beraktivitas di lingkungan kampus.
Penerapan tersebut diarahkan untuk membangun kebiasaan be safe, stay safe, hingga terciptanya lingkungan perguruan tinggi dengan risiko kecelakaan yang semakin rendah. Menurutnya, budaya K3 tidak seharusnya berhenti sebagai slogan, tetapi perlu dibangun melalui kedisiplinan dan kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.
Program K3 UB Jadi Bahan Studi Tiru
Kepala Subdirektorat Mitigasi Crisis Center UNESA, Dr. Wiryo Nuryono, S.Pd., M.Pd., mengatakan kunjungan dilakukan karena UNESA ingin mempelajari tata kelola K3 yang diterapkan UB, baik pada tingkat universitas maupun fakultas dan program studi.
Dalam kunjungan tersebut, tim UNESA mempelajari struktur organisasi K3, pembagian tugas antara tingkat universitas dan fakultas, hingga pengembangan SOP. Selain aspek kelembagaan, perhatian juga diberikan pada bagaimana UB membangun kepedulian warga kampus terhadap penerapan K3.
Wiryo menilai terdapat sejumlah program UB yang dapat dikembangkan di UNESA. Salah satunya adalah pelaksanaan Bulan K3 yang melibatkan fakultas melalui berbagai kegiatan.
“UB kami mohon izin nanti akan banyak meniru program-program yang sudah disampaikan oleh Prof. Qomariyatus dan kemudian kita akan studi tirukan di kampus saya di Universitas Negeri Surabaya,” katanya.
Program tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana K3 dapat dikemas sebagai kegiatan yang melibatkan warga kampus secara lebih luas. Dengan keterlibatan berbagai unit, kesadaran terhadap keselamatan diharapkan tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola K3, tetapi menjadi perhatian bersama.
Kolaborasi K3 Antarperguruan Tinggi
Pertukaran pengalaman antara UB dan UNESA juga membuka peluang pengembangan program bersama. Qomariyatus menyebut terdapat beberapa hal yang dapat dikembangkan dari masing-masing perguruan tinggi.
UNESA, misalnya, berencana mengadopsi program Bulan K3 dan lomba K3 antarfakultas yang diterapkan di UB. Sementara itu, UB melihat peluang mengembangkan lomba K3 tingkat nasional untuk perguruan tinggi sebagai bagian dari penguatan jejaring K3 di lingkungan pendidikan tinggi.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kunjungan. Kedua pihak membuka peluang untuk melanjutkan komunikasi melalui seminar dan kegiatan berbagi pengetahuan. UNESA juga berencana mengundang pihak UB untuk berkontribusi dalam sejumlah agenda K3 di kampusnya.
Wiryo menyebut kerja sama tersebut akan dilanjutkan melalui berbagai kegiatan, termasuk rencana seminar pada Januari atau Februari. UNESA juga berharap UB dapat berbagi pengalaman secara langsung melalui agenda yang diselenggarakan di UNESA.
Bagi Qomariyatus, kerja sama antarkampus menjadi langkah penting untuk mendorong penerapan K3 secara lebih luas di perguruan tinggi Indonesia. Ia berharap K3 tidak hanya dipenuhi sebagai bagian dari kebutuhan akreditasi, tetapi benar-benar diterapkan karena menjadi kebutuhan dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman.
“Tidak hanya syarat akreditasi, tapi memang sebuah hal yang dilakukan karena kebutuhan,” tegasnya.
Melalui pertukaran praktik dan pengembangan program bersama, UB dan UNESA mendorong agar budaya keselamatan semakin melekat dalam kehidupan perguruan tinggi. Langkah tersebut sekaligus membuka ruang bagi perguruan tinggi lain untuk saling belajar dan mengembangkan sistem K3 sesuai kebutuhan masing-masing.(ffn)













