Kanal24, Malang – Brawijaya Fine Art Competition (BFAC) 2026 resmi digelar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, Senin (11/5/2026). Ajang tahunan ini kembali mempertemukan ratusan siswa SMA/sederajat untuk berkompetisi di bidang seni rupa, dengan konsep pelaksanaan hybrid yang menggabungkan lomba online dan offline.
Ketua Pelaksana, A Syarifuddin Rohman, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa BFAC merupakan agenda rutin yang menyasar pelajar tingkat SMA sebagai upaya membangun jejaring antara kampus dan sekolah. “Brawijaya Fine Art Competition ini atau yang sering kita sebut BFA itu acara tahunan, yang memang khusus untuk sasarannya siswa-siswi SMA sederajat,” ujarnya. Ia menambahkan, kegiatan ini menjadi jembatan antara Program Studi Seni Rupa dengan sekolah-sekolah di Malang Raya hingga Jawa Timur.

Pada edisi tahun ini, terdapat pembaruan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Selain mengusung tema baru, penyelenggaraan dilakukan dalam dua format. “Yang membedakan tahun ini diselenggarakan offline dan online. Kalau yang online kemarin sudah kami selenggarakan, dan hari ini dua lomba offline berlangsung,” jelas Syarifuddin. Tema yang diangkat tahun ini menekankan lahirnya generasi kreatif dari seni rupa murni.
Dari sisi partisipasi, antusiasme peserta tergolong tinggi. Panitia mencatat hampir 300 peserta dari lebih dari 200 sekolah ikut ambil bagian. Peserta datang dari berbagai daerah seperti Malang, Mojokerto, Pasuruan, hingga Lumajang. Meski demikian, Syarifuddin menegaskan bahwa indikator keberhasilan tidak hanya dilihat dari jumlah peserta. “Bagaimana kita bisa meningkatkan animo siswa dan membuat mereka tertarik pada bidang seni rupa itu yang utama,” katanya.
Dalam proses penilaian, dewan juri menekankan aspek fundamental seni rupa. Salah satu juri, Gusbandi, menyebut penilaian mengacu pada kreativitas serta komposisi visual.

“Kita memakai sistem yang sudah ada, jadi kreativitas, komposisi warna, komposisi bentuk, tetap sesuai kaidah seni rupa,” ujarnya. Ia menambahkan, karya terbaik harus mampu memenuhi tema sekaligus menghadirkan inovasi. “Seni rupa mesti berkembang, tidak boleh stagnan,” tegasnya.
Sementara itu, juri ilustrasi digital, Watoni, menilai bahwa aspek teknis dan visual menjadi poin penting dalam kategori digital.

“Kriterianya tetap kaidah digital dan teknik, secara visual dan komposisi juga harus kuat,” katanya. Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan kompetisi ini sebagai ruang eksplorasi bagi pelajar. “Ini sangat luar biasa, memberi peluang siswa SMA untuk ikut ajang kompetisi yang bergengsi,” ujarnya.
Dari sisi peserta, motivasi mengikuti lomba tidak melulu soal kemenangan. Freya, peserta dari SMA HelloMotion Malang, mengaku ingin memperluas pengalaman.

“Motivasiku cuma pengin have fun, pengin explore lagi dan lihat art style teman-teman lain,” ungkapnya. Ia juga menilai fasilitas yang disediakan panitia sudah memadai. “Menurut aku sudah baik banget,” tambahnya.
Ke depan, panitia berharap BFAC terus berkembang dan menjangkau lebih banyak peserta. “Harapannya acara ini bisa berlangsung setiap tahun dengan persiapan lebih matang sehingga animonya lebih besar lagi,” tutur Syarifuddin.














