Kanal24, Malang – Perguruan tinggi kini tidak hanya dituntut unggul dalam pendidikan dan riset, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Semangat itulah yang mendorong Universitas Brawijaya (UB) memperkuat program pengabdian melalui Kampung Lingkar Kampus (KLK) 2026, sebuah inisiatif kolaboratif yang melibatkan warga Kelurahan Ketawanggede, Kota Malang.
Program tersebut menjadi pembahasan dalam podcast Let’s Talk bertajuk “KLK UB 2026 Berkolaborasi Bersama Kelurahan Ketawanggede” yang menghadirkan PIC Kampung Lingkar Kampus UB, Dr. Mofit Jamroni, serta Lurah Ketawanggede, Raden Agung Harjaya Buana.
Menurut Dr. Mofit, KLK merupakan bagian dari implementasi konsep “kampus berdampak” yang saat ini menjadi fokus pengembangan perguruan tinggi. Melalui program tersebut, UB ingin memastikan keberadaannya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan lingkungan kampus.
Baca juga:
Workshop 3 AITF: Proyek AI Mahasiswa untuk Pendidikan Nasional
“Sebagian besar aktivitas mahasiswa berlangsung di kawasan sekitar kampus, termasuk di Ketawanggede. Karena itu, kampus harus mampu hadir dan berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat,” ujarnya.
Empat Fokus Utama Pengembangan
KLK dirancang untuk mendorong pembangunan pada empat sektor utama, yaitu sumber daya manusia dan pendidikan, ekonomi dan UMKM, lingkungan dan infrastruktur, serta sosial budaya dan kelembagaan.
Berbagai fakultas di lingkungan UB dilibatkan sesuai bidang keahlian masing-masing. Mulai dari pengembangan lingkungan permukiman, pengelolaan sampah, kesehatan masyarakat, hingga pemberdayaan ekonomi warga.
Melalui pendekatan tersebut, program yang dijalankan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi diharapkan mampu menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
“Program ini berangkat dari kebutuhan masyarakat. Jadi bukan kampus yang menentukan sendiri apa yang harus dilakukan, tetapi mendengar aspirasi warga terlebih dahulu,” kata Mofit.
Kolaborasi Inklusif
Salah satu prinsip yang diusung dalam KLK adalah kolaborasi yang inklusif. Kampus dan masyarakat ditempatkan sebagai mitra yang setara dalam merancang dan menjalankan berbagai program pembangunan.
Menurut Mofit, pendekatan tersebut penting agar masyarakat tidak hanya menjadi objek program, tetapi juga terlibat aktif dalam proses pengambilan keputusan.
Selain mendukung pengabdian masyarakat, KLK juga membuka peluang bagi dosen dan mahasiswa untuk melakukan riset maupun inovasi berbasis kebutuhan riil di lapangan.
Dengan demikian, hasil penelitian yang dihasilkan kampus dapat langsung diterapkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Menjadi Laboratorium Hidup
KLK juga dirancang sebagai laboratorium hidup atau living laboratory yang mempertemukan berbagai disiplin ilmu dalam satu ruang kolaborasi.
Mahasiswa dan dosen dari bidang sains, teknologi, kesehatan, sosial, hingga humaniora dapat terlibat langsung dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi warga.
Menurut Mofit, keberadaan program ini sekaligus menjadi sarana pembelajaran yang lebih kontekstual bagi mahasiswa.
“Interaksi mahasiswa jangan hanya terjadi di ruang kelas atau melalui gawai. Mereka perlu hadir di tengah masyarakat dan memahami persoalan yang sesungguhnya,” ujarnya.
Komitmen Jangka Panjang
Baik UB maupun Kelurahan Ketawanggede sepakat bahwa KLK tidak boleh berhenti sebagai program tahunan semata. Keduanya berharap kolaborasi yang telah dibangun dapat terus berjalan dalam jangka panjang.
Forum komunikasi antara kampus dan warga pun mulai diperkuat untuk memastikan berbagai program dapat dievaluasi dan dikembangkan secara berkelanjutan.
Lurah Ketawanggede, Raden Agung Harjaya Buana, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia berharap KLK menjadi model kemitraan yang mampu mempererat hubungan kampus dan masyarakat.
“Yang terpenting bukan siapa pejabatnya atau siapa pemimpinnya. Hubungan antara kampus dan masyarakat harus terus berjalan karena keduanya akan selalu hidup berdampingan,” katanya.
Dengan dukungan berbagai pihak, Kampung Lingkar Kampus diharapkan menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi dapat berperan sebagai penggerak pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan di kawasan sekitarnya. (nid)














