Kanal24, Malang – Produk organik yang identik dengan harga mahal dinilai membuat ekonomi hijau masih sulit dijangkau sebagian masyarakat. Berangkat dari persoalan tersebut, Profesor Universitas Brawijaya memperkenalkan Model LILY, konsep ekonomi sirkular berbasis komunitas untuk meningkatkan nilai tambah tanaman lokal dan memperkuat UMKM.
Konsep tersebut diperkenalkan Prof. Dr. Sri Muljaningsih, S.E., MSP., saat dikukuhkan sebagai guru besar bidang Ekonomi Sumber Daya Alam Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya, Rabu (10/6/2026).
Dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Model LILY: Valorisasi Tanaman Lokal dalam Ekonomi Sirkular Berbasis Komunitas Organik”, Prof. Sri memperkenalkan model ekonomi yang mengintegrasikan kewirausahaan, komunitas, dan spiritualitas dalam satu sistem ekonomi berkelanjutan.
Baca juga:
Madfest 2026 Hubungkan Mahasiswa dan Industri
Produk Organik Dinilai Masih Mahal
Prof. Sri menilai tingginya harga produk organik menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan ekonomi hijau di Indonesia.
Kondisi tersebut membuat produk organik masih identik dengan pasar tertentu dan belum sepenuhnya dapat diakses seluruh lapisan masyarakat.
Menurutnya, diperlukan pendekatan baru yang tidak hanya berfokus pada keuntungan ekonomi, tetapi juga melibatkan pemberdayaan komunitas lokal.
“Setiap masyarakat memiliki kesempatan untuk memberi nilai tambah terhadap sumber daya alam yang dimiliki,” ujarnya.
Melalui konsep tersebut, masyarakat dan pelaku UMKM didorong untuk memanfaatkan tanaman lokal menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Integrasikan Komunitas dan Spiritualitas
Keunikan Model LILY terletak pada integrasi antara aspek ekonomi, sosial, dan spiritualitas dalam satu sistem.
Prof. Sri menjelaskan, model tersebut bersifat community-centric, yakni penciptaan nilai ekonomi dilakukan melalui interaksi sosial dan penguatan komunitas.
Menurutnya, pembangunan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan modal dan pasar, tetapi juga membutuhkan kesadaran sosial dan tanggung jawab lingkungan.
Penelitian empiris yang dilakukan menunjukkan peningkatan faktor sosial-ekologis mampu mendorong partisipasi masyarakat dalam pengembangan ekonomi berkelanjutan.
Pendekatan transformasional tersebut dinilai penting untuk mengubah pola pikir ekonomi masyarakat agar lebih adaptif terhadap konsep ekonomi sirkular.
Dorong UMKM dan Ekonomi Lokal
Prof. Sri berharap Model LILY dapat menjadi solusi dalam memperkuat ekonomi lokal berbasis sumber daya alam dan komunitas organik.
Melalui konsep valorisasi tanaman lokal, masyarakat didorong untuk menciptakan produk dengan nilai tambah lebih tinggi sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan membuka peluang usaha baru.
Model tersebut juga dinilai berpotensi memperkuat sektor UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
Selain itu, ekonomi sirkular berbasis komunitas diyakini mampu menciptakan sistem produksi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Prof. Sri menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan model ekonomi yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga dapat diterapkan langsung di tengah masyarakat.
“Model LILY diharapkan dapat memperkuat ekonomi lokal sekaligus meningkatkan kewirausahaan masyarakat berbasis komunitas organik,” katanya.
Ia berharap konsep tersebut dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi antara akademisi, komunitas, pemerintah, dan pelaku usaha agar mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat luas. (nid)














