Kanal24, Malang – Harga cabai kerap menjadi salah satu pemicu inflasi yang paling sensitif di Indonesia. Ketika pasokan berkurang atau cuaca tidak mendukung, harga cabai dapat melonjak drastis dan berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga. Karena itu, upaya menjaga ketersediaan komoditas ini tidak lagi menjadi urusan petani semata, tetapi juga melibatkan pemerintah, masyarakat, hingga perguruan tinggi.
Melalui Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M), Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) mencoba mengambil peran tersebut. Sebanyak 856 mahasiswa diterjunkan ke 57 kelurahan di Kota Malang dengan membawa berbagai program pemberdayaan masyarakat, salah satunya melalui gerakan cabenisasi sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan dan pengendalian inflasi daerah.
Dekan FTAB UB, Prof. Yusuf Hendrawan, STP., M.App.Life.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi tepat guna, tetapi juga mendukung agenda strategis pemerintah di bidang pangan.
Bca juga : Mahasiswa FTAB UB Raih Gold Medal ITEX-WYIE 2026 Lewat Inovasi AI Akuaponik
“Kemudian program ketahanan pangan pemerintah ini kami ada satu juga program yang nyangkut di sini, yaitu program ketahanan pangan, yaitu cabenisasi. Kita memberikan bibit cabai ke 57 kelurahan. Nah, itu juga output kegiatan,” ujarnya saat pelepasan mahasiswa di Lapangan Rektorat UB, Senin (22/6/2026).
Program tersebut menjadi bagian dari kegiatan mahasiswa yang tersebar dalam 57 kelompok di seluruh kelurahan Kota Malang. Selain mendampingi masyarakat, mahasiswa juga membawa berbagai inovasi teknologi yang dirancang sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.
Menurut Prof. Yusuf, pendekatan yang digunakan bukan sekadar menempatkan mahasiswa di lapangan, melainkan mendorong mereka memahami persoalan riil yang dihadapi masyarakat sebelum menawarkan solusi.
“Dengan tagline kami adalah satu kelurahan satu alat inovasi yang dibangun, dirancang bangun sendiri oleh adik-adik mahasiswa menyesuaikan dengan kondisi problem yang ada di masyarakat, baik itu tentang lingkungan, pertanian, agroindustri, tentang UMKM, dan lain sebagainya,” jelasnya.
Beberapa inovasi yang dibawa mahasiswa antara lain alat pencacah plastik untuk mendukung pengelolaan sampah, pencacah kompos untuk pertanian, hingga spinner yang dapat dimanfaatkan pelaku UMKM dalam proses produksi.

Cabai dan Tantangan Inflasi Kota Malang
Wali Kota Malang, Dr. Ir. H. Wahyu Hidayat, M.M., menyambut baik keterlibatan mahasiswa dalam berbagai program pembangunan di tingkat kelurahan, termasuk gerakan cabenisasi yang dinilai relevan dengan kondisi Kota Malang.
Menurutnya, sejumlah wilayah di Kota Malang masih memiliki potensi untuk pengembangan tanaman cabai, terutama di kawasan Kecamatan Kedungkandang dan beberapa wilayah lainnya.
“Salah satunya itu kan program cabenisasi. Jadi ada beberapa kelurahan di Kota Malang yang memang butuh terkait dengan bibit-bibit cabai. Kita kemarin juga sudah ikut menanam cabai dan juga panen. Ini terkait dengan inflasi cabai yang masih cukup tinggi dan dengan adanya cabai ini juga akan bisa membantu kelurahan-kelurahan yang memang saat ini bisa ditanami cabai,” ujarnya.
Selain membantu memperkuat ketahanan pangan keluarga, program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya produksi pangan skala rumah tangga sebagai salah satu instrumen menjaga stabilitas harga.
Mahasiswa Belajar Menyelesaikan Masalah Nyata
Bagi FTAB UB, program ini juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk menghubungkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dengan kebutuhan masyarakat.
Prof. Yusuf menjelaskan bahwa kegiatan 3M merupakan bagian dari mata kuliah pengabdian masyarakat berbobot enam SKS yang telah dimulai sejak semester sebelumnya. Mahasiswa melakukan survei lapangan, mengidentifikasi masalah, merancang solusi, hingga mengimplementasikan inovasi yang dihasilkan.
“Kalau sekarang lebih populernya kata Pak Menteri harus bisa merekayasa. Jadi kalau teknik engineering itu kan harus rekayasa. Nah, penciri dari fakultas kami adalah mahasiswa kami mampu punya kompetensi untuk merancang bangun atau merekayasa alat inovasi yang dibutuhkan oleh masyarakat sehingga bisa dihilirisasi dan berdampak kepada masyarakat,” katanya.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menilai keterlibatan mahasiswa di tengah masyarakat memiliki nilai yang lebih luas dibanding sekadar pelaksanaan program akademik.
“Yang paling penting bagaimana mahasiswa juga belajar tentang budaya yang ada di masyarakat dan juga mahasiswa memiliki peran yang sangat penting untuk menggerakkan dinamika yang ada di masyarakat, memimpin perubahan, dan tentu perubahan yang lebih konstruktif, lebih baik untuk kemajuan bangsa Indonesia,” ujar Prof. Widodo.
Di tengah tantangan inflasi pangan dan kebutuhan penguatan ekonomi lokal, langkah sederhana seperti menanam cabai mungkin terlihat kecil. Namun ketika dilakukan secara kolektif di puluhan kelurahan dengan dukungan teknologi dan pendampingan mahasiswa, gerakan tersebut berpotensi menjadi bagian dari solusi yang lebih besar bagi ketahanan pangan perkotaan. (ger/din)














