Kanal24, Malang – Selama bertahun-tahun perguruan tinggi sering dipandang sebagai ruang akademik yang berdiri terpisah dari kehidupan masyarakat di sekitarnya. Kampus menjadi pusat ilmu pengetahuan, sementara persoalan sosial, lingkungan, dan ekonomi masyarakat berjalan di luar pagar universitas. Universitas Brawijaya (UB) mencoba mengubah cara pandang tersebut.
Melalui program Kampung Lingkar Kampus (KLK), UB ingin membangun hubungan yang lebih erat antara perguruan tinggi dan masyarakat sekitar. Program ini tidak hanya menghadirkan mahasiswa ke tengah warga, tetapi juga mendorong kampus menjadi bagian dari ekosistem sosial yang tumbuh bersama masyarakat.
Gagasan tersebut kembali ditegaskan dalam pelepasan peserta Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M) Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) UB yang akan berkegiatan di 57 kelurahan Kota Malang.
Baca juga : Dari Kampus ke Kebun Warga, FTAB UB Dorong Program Cabenisasi di 57 Kelurahan
Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa KLK merupakan salah satu program prioritas universitas yang dirancang untuk memperkuat hubungan antara kampus dan lingkungan sekitar.
“Kampung Lingkar Kampus itu sebenarnya satu program prioritasnya Pak Rektor. Jadi sebenarnya membuat social security system, yaitu sinergi antara kampus dengan masyarakat sekitar,” ujarnya.

Menurut Tri, konsep tersebut lahir dari kesadaran bahwa perguruan tinggi tidak dapat berkembang sendiri tanpa dukungan masyarakat di sekelilingnya.
“Kita ingin membuat bahwa pagar UB itu bukan pagar yang mengelilingi kampus, tapi di mana masyarakat sekitar ini menjadi bagian yang terintegrasi. Intinya di situ,” katanya.
Dari Ketawanggede hingga Penanggungan
Saat ini, pengembangan Kampung Lingkar Kampus difokuskan pada wilayah-wilayah yang berada di sekitar Universitas Brawijaya, seperti Ketawanggede, Sumbersari, Penanggungan, dan kawasan sekitarnya.
Namun ke depan, cakupan program tersebut akan terus diperluas.
“Kita memang posisi support di ring-ring utama, termasuk Ketawanggede, kemudian Sumbersari, sama daerah Penanggungan dan sekitarnya. Cuma kita juga akan semakin melebar. Nah, semakin lebar itulah di situlah pagarnya Universitas Brawijaya,” jelas Tri.
Melalui pendekatan tersebut, UB ingin memastikan bahwa keberadaan kampus tidak hanya dirasakan oleh civitas akademika, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
Mahasiswa sebagai Penghubung Kampus dan Warga
Program 3M FTAB menjadi salah satu instrumen yang mendukung pengembangan Kampung Lingkar Kampus. Sebanyak 856 mahasiswa diterjunkan ke berbagai kelurahan untuk membantu mengidentifikasi persoalan masyarakat sekaligus menawarkan solusi berbasis teknologi dan inovasi.
Bagi Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat menjadi bagian penting dari proses pendidikan mahasiswa.
“Yang paling penting bagaimana mahasiswa juga belajar tentang budaya yang ada di masyarakat dan juga mahasiswa memiliki peran yang sangat penting untuk menggerakkan dinamika yang ada di masyarakat, memimpin perubahan, dan tentu perubahan yang lebih konstruktif, lebih baik untuk kemajuan bangsa Indonesia,” ujarnya.
Menurut Widodo, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan dampak nyata, baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun lingkungan.
Karena itu, keterlibatan mahasiswa di tengah masyarakat tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan pengabdian, tetapi juga proses pembelajaran yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan persoalan riil di lapangan.
Membangun Kota Bersama
Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Malang. Wali Kota Malang, Dr. Ir. H. Wahyu Hidayat, M.M., menilai kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah menjadi langkah penting dalam menjawab berbagai persoalan perkotaan.
Menurutnya, mahasiswa dapat berkontribusi tidak hanya melalui inovasi teknologi tepat guna, tetapi juga membantu masyarakat menyusun prioritas pembangunan di tingkat paling bawah.
“Nanti mahasiswa ini bisa membantu kepada masyarakat untuk sama-sama menyusun satu program prioritas yang memang diinginkan oleh masyarakat di tingkat yang paling bawah, yaitu tingkat RT,” ujarnya.
Di tengah tantangan perkotaan yang semakin kompleks, mulai dari lingkungan, ketahanan pangan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat, kolaborasi menjadi kata kunci yang tidak bisa dihindari.
Dan bagi Universitas Brawijaya, kolaborasi itu dimulai dari sebuah gagasan sederhana: bahwa pagar kampus tidak seharusnya menjadi batas antara ilmu pengetahuan dan masyarakat yang membutuhkannya. (ger/din)














