Kanal24, Malang – Perundungan (bullying) masih menjadi salah satu tantangan serius di lingkungan pendidikan dasar. Tidak hanya meninggalkan luka emosional, bullying juga dapat mengganggu kepercayaan diri, prestasi belajar, hingga perkembangan psikologis anak jika tidak dicegah sejak dini. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Fisip Bakti Desa (FBD) Kelompok 10 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) menghadirkan Program PELITA (Peduli Emosi Lawan Intimidasi Tumbuhkan Apresiasi) di MI Mambaul Ulum, Dusun Bletok, Desa Pandanajeng, Kabupaten Malang. Program ini mengedepankan edukasi emosi dan penguatan empati sebagai fondasi menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan bebas bullying.
Program PELITA dirancang sebagai langkah preventif terhadap berbagai bentuk perundungan, mulai dari verbal, fisik, sosial, hingga cyberbullying. Melalui pendekatan interaktif yang melibatkan siswa secara langsung, mahasiswa FBD 10 FISIP UB berupaya menanamkan pemahaman bahwa mengenali emosi, menghargai sesama, dan berani menolak intimidasi merupakan bekal penting dalam membangun karakter anak sejak usia dini.
Baca juga:
Mahasiswa FISIP UB Bangun Literasi Digital Anak Lewat Program CERDAS

Kenali Emosi Melalui Art Therapy
Rangkaian kegiatan diawali dengan pre-test sederhana untuk memetakan pemahaman awal siswa mengenai pertemanan sehat dan tindakan perundungan. Selanjutnya, mahasiswa memberikan materi “Mengenal Emosi” yang mengajak siswa memahami berbagai bentuk emosi dasar, seperti marah, sedih, kecewa, malu, hingga takut.
Agar lebih mudah dipahami, kegiatan dilanjutkan menggunakan metode paper-based art therapy. Setiap siswa menggambar ekspresi wajah sesuai emosi yang sedang dirasakan, kemudian menuliskan cerita singkat mengenai penyebabnya. Pendekatan ini membantu anak memahami bahwa setiap emosi adalah hal yang wajar, namun harus disampaikan dengan cara yang sehat.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) FBD 10 FISIP UB, Bu Yuliezar Perwira Dara, S.Psi., M.Psi., menegaskan pentingnya edukasi emosi dan anti perundungan yang ditanamkan sejak dini.
“Edukasi emosi dan anti perundungan itu sebenarnya dua hal yang saling berkaitan. Siklus bullying ini sarat dengan emosi dan kemampuan empati.. siklusnya bisa berputar. Hari ini seseorang menjadi korban, memungkinkan besok di circle yang berbeda bisa saja menjadi pelaku, jika hal tersebut dialami berulang kali dan tidak mendapatkan solusi. Kegiatan ini utamanya adalah menciptakan lingkungan sekolah yang ramah anak, dengan melibatkan lingkungan anak itu sendiri secara langsung,” ujar Yuliezar Perwira Dara, S.Psi., M.Psi., selaku DPL FBD 10 FISIP UB.
Drama Interaktif dan Simulasi Dampak Bullying
Setelah mencairkan suasana melalui lagu bertema anti-bullying, mahasiswa melanjutkan kegiatan dengan materi “Mengenal Bullying” yang dikemas melalui drama interaktif berjudul Aku Tidak Sendiri. Pertunjukan tersebut mengajak siswa melihat langsung sudut pandang korban maupun pelaku sehingga mampu menumbuhkan empati.
Pemahaman siswa semakin diperkuat melalui simulasi kertas. Selembar kertas diremukkan setiap kali diucapkan kata-kata hinaan. Meski kemudian dirapikan kembali, bentuknya tidak pernah kembali seperti semula. Analogi sederhana ini menggambarkan bahwa luka batin akibat bullying dapat membekas dalam waktu lama meski permintaan maaf telah diberikan.
Katarsis Emosi hingga Komitmen Tolak Bullying
Suasana menjadi lebih emosional saat sesi Kotak Cerita. Para siswa menuliskan pengalaman perundungan yang pernah dialami secara anonim sebagai bentuk pelepasan emosi. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film pendek bertema anti-bullying berjudul Terlambat dan Mana Janji Ayah?, yang mengundang rasa haru para peserta.

Untuk membantu siswa kembali merasa tenang, tim mahasiswa memandu latihan relaksasi Butterfly Hug (Pelukan Kupu-Kupu) dengan teknik pernapasan dan afirmasi positif. Sebagai penutup, siswa saling menuliskan pesan penyemangat kepada teman sebangku sebagai simbol saling mendukung.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan post-test, dokumentasi bersama, dan aksi simbolis menempelkan cap jempol berwarna pada spanduk bertuliskan “Say No to Bullying”. Komitmen tersebut menjadi pengingat bahwa menciptakan lingkungan belajar yang aman merupakan tanggung jawab bersama.
Melalui Program PELITA, mahasiswa FBD 10 FISIP UB berharap kepedulian terhadap kesehatan emosional anak serta semangat menolak segala bentuk perundungan dapat terus tumbuh di lingkungan sekolah. Kolaborasi antara siswa, guru, dan lingkungan sekitar diharapkan mampu membangun budaya saling menghargai sehingga tercipta ruang belajar yang lebih inklusif, aman, dan penuh apresiasi. (nid)













