Kanal24, Malang – Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap pemanfaatan obat berbahan alam, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) menghadirkan ruang kolaborasi internasional untuk memperkuat pemahaman mengenai pengobatan herbal berbasis ilmiah. Melalui International Summer School of Pharmacy (ISSP UB-3), mahasiswa dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura diajak mempelajari bagaimana hasil riset bahan alam dapat diterjemahkan menjadi terapi yang aman, efektif, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Program bertema “Translational Pharmacy: From Herbal Discovery to Patient-Centered Therapeutics” ini diselenggarakan oleh Department of Pharmacy, Faculty of Medicine, Universitas Brawijaya, pada 3–14 Agustus 2026. Pembukaan kegiatan berlangsung di Ruang GPP, Lantai 6 Gedung A FK UB, sebelum rangkaian kegiatan dilanjutkan di sejumlah lokasi di Malang dan Tawangmangu, Jawa Tengah.
Baca Juga:
Mahasiswa Prancis Kagum Riset Pertanian UB, Sebut Layak Jadi Inspirasi

Ketua Pelaksana ISSP UB-3, Dr. apt. Anisyah Achmad, S.Si., Sp.FRS., mengatakan kegiatan ini dirancang agar peserta tidak hanya mengikuti kuliah di kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung mengenai pemanfaatan obat tradisional.
“Kami ingin peserta memahami apa itu obat tradisional, bagaimana proses pembuatannya, bagaimana penggunaannya kepada pasien secara langsung, sekaligus berdiskusi mengenai inovasi-inovasi yang dapat dikembangkan bersama,” ujarnya.
Belajar Langsung dari Laboratorium hingga Klinik Herbal
Tidak seperti program musim panas yang banyak dilakukan secara daring, seluruh peserta ISSP UB-3 mengikuti kegiatan secara luring dan terlibat langsung dalam setiap sesi praktik.
Sebanyak enam perguruan tinggi dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura berpartisipasi dalam program ini. Setelah mengikuti kegiatan akademik di Malang, peserta akan melanjutkan pembelajaran selama tiga hari di Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus, Tawangmangu, Jawa Tengah.
Di lokasi tersebut, peserta akan mempelajari rantai pemanfaatan obat herbal secara utuh, mulai dari pengenalan tanaman obat, proses pengolahan, hingga penerapannya sebagai terapi pendamping bagi pasien.
“Semuanya hadir langsung. Tidak ada kegiatan hybrid. Kami ingin peserta benar-benar mendapatkan pengalaman hands-on selama mengikuti program,” jelas Anisyah.
Herbal Bukan Pengganti Obat Modern
Pemilihan tema translational pharmacy dinilai relevan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap terapi yang lebih aman untuk penggunaan jangka panjang, terutama pada penyakit kronis.
Menurut Anisyah, pengobatan herbal tidak dimaksudkan untuk menggantikan terapi medis modern, melainkan sebagai terapi pendamping (complementary therapy) yang penggunaannya tetap harus didasarkan pada bukti ilmiah.
“Herbal bukan berarti menggantikan obat modern, tetapi menjadi penunjang pengobatan. Efek sampingnya memang tetap ada, tetapi secara umum lebih kecil jika digunakan secara tepat,” katanya.
Ia menambahkan Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat besar dan berpotensi melahirkan inovasi farmasi baru berbasis bahan alam.
Penelitian Herbal Terus Dikembangkan
Fakultas Kedokteran UB sendiri telah mengembangkan berbagai penelitian mengenai bahan alam.
Salah satunya adalah penelitian mengenai daun jambu biji yang tidak hanya dikenal masyarakat sebagai obat diare, tetapi juga memiliki potensi membantu menurunkan kadar gula darah.
Selain tanaman, penelitian juga dilakukan terhadap sumber daya laut.
“Kami meneliti cangkang kerang yang ternyata memiliki potensi mengurangi nyeri akibat osteoartritis pada lutut. Jadi yang dimanfaatkan bukan daging kerangnya, tetapi cangkangnya,” ungkap Anisyah.
Menurutnya, hasil-hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa bahan alam Indonesia masih menyimpan banyak potensi untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan berbasis riset.
Hadirkan Pakar Internasional
ISSP UB-3 menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai negara.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi dari akademisi asal Taipei, peneliti dari Universitas Airlangga yang dikenal melalui inovasi MeditI sebagai terapi pendamping kanker, serta akademisi dari Hazara University, Pakistan, Dr. Muhammad Ajmal Shah.
Melalui kombinasi kuliah, diskusi ilmiah, hingga kunjungan lapangan, peserta diharapkan memperoleh perspektif yang lebih luas mengenai perkembangan farmasi translasional di berbagai negara.
Mahasiswa Singapura: Program Ini Membuka Perspektif Baru

Salah satu peserta, Chong Zi Hao Joe, mahasiswa tingkat akhir Program Sarjana Farmasi National University of Singapore (NUS), mengaku tertarik mengikuti ISSP UB-3 karena tema yang diangkat sangat relevan dengan perkembangan dunia farmasi.
Menurutnya, selama ini masih terdapat tantangan dalam menjembatani penggunaan obat herbal dengan praktik pelayanan kesehatan modern yang berbasis bukti.
“Saya ingin mengeksplorasi bagaimana pengobatan herbal dapat diintegrasikan ke dalam terapi yang berpusat pada pasien. Tema program ini sangat menarik karena membahas bagaimana menjembatani keduanya,” ujarnya.
Joe mengatakan materi yang diperoleh akan sangat membantu ketika ia nantinya bekerja sebagai apoteker di rumah sakit.
“Sebagai calon apoteker, saya akan lebih siap mengevaluasi profil pasien, termasuk memahami interaksi antara obat modern dengan berbagai suplemen atau herbal yang dikonsumsi pasien. Pengetahuan ini akan sangat penting dalam praktik pelayanan kesehatan di masa depan,” katanya.
Perkuat Kolaborasi Internasional
Selain meningkatkan wawasan peserta, ISSP UB-3 juga menjadi bagian dari upaya Universitas Brawijaya memperluas jejaring akademik internasional.
Anisyah berharap kolaborasi yang terjalin selama kegiatan tidak berhenti setelah program selesai, tetapi berlanjut dalam bentuk penelitian bersama, pertukaran akademik, hingga pengembangan inovasi di bidang farmasi berbasis bahan alam.
“Kami berharap setelah kegiatan ini lahir kolaborasi antarinstitusi dan inovasi-inovasi baru yang dapat memanfaatkan kekayaan bahan alam Indonesia untuk mendukung pelayanan kesehatan,” pungkasnya.














