Kanal24, Malang – Menjadi sentra produksi jeruk tidak otomatis membuat petani terbebas dari persoalan. Di Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, produktivitas tanaman jeruk masih menghadapi serangan berbagai hama, sementara hasil panen yang tidak memenuhi standar pasar belum banyak memberikan nilai tambah. Kondisi tersebut membuat kebutuhan akan solusi budidaya yang lebih ramah lingkungan sekaligus pengolahan hasil pertanian menjadi semakin penting.
Menjawab tantangan tersebut, 35 mahasiswa Fakultas Bio-industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mengembangkan sejumlah inovasi di Desa Petungsewu pada Juli 2026. Program difokuskan pada penguatan komoditas jeruk yang menjadi salah satu sumber penghidupan utama masyarakat setempat.
Baca juga : Minyak Jelantah Jangan Dibuang, Mahasiswa FBiPK UB Sulap Jadi Lilin Aromaterapi Bernilai Ekonomi
Desa Petungsewu memiliki luas wilayah sekitar 329,91 hektare dengan jumlah penduduk 2.440 jiwa yang mayoritas bergerak di sektor pertanian. Desa ini juga berada pada jalur strategis yang menghubungkan Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu, sekitar 15 kilometer dari kampus Universitas Brawijaya.
Namun, potensi tersebut masih berhadapan dengan serangan hama seperti kutu daun, kutu kebul, thrips, lalat pengorok daun, dan lalat buah. Sebagian besar petani masih mengandalkan pestisida kimia karena dinilai lebih praktis dan mudah diperoleh. Di sisi lain, hasil panen jeruk umumnya masih dipasarkan dalam bentuk buah segar sehingga nilai tambah yang diperoleh petani terbatas.
Tiga Teknologi untuk Tekan Hama Tanpa Bergantung Pestisida Kimia
Pada 19 Juli 2026, mahasiswa KKN menggelar penyuluhan dan demonstrasi tiga teknologi pengendalian hama terpadu di Balai Desa Petungsewu dan lahan kebun jeruk milik petani. Kegiatan tersebut melibatkan petani, kelompok tani, dan perangkat desa.
Teknologi pertama berupa pestisida nabati berbahan kulit jeruk yang dibuat melalui metode maserasi. Prosesnya meliputi pengeringan dan penghalusan kulit jeruk, perendaman dalam alkohol 70 persen, penyaringan ekstrak, hingga pengenceran sebelum diaplikasikan pada tanaman.

Teknologi kedua adalah feromon trap dari botol plastik bekas 1,5 liter dengan atraktan metil eugenol untuk menarik lalat buah jantan sehingga perkembangan populasi hama dapat ditekan. Perangkap ini sekaligus digunakan untuk memantau populasi hama.
Sementara teknologi ketiga berupa yellow sticky trap, yakni perangkap berwarna kuning berlapis perekat untuk menangkap serangga hama terbang yang juga dibuat dari botol plastik bekas.
“Ketiga teknologi ini kami pilih karena bahannya mudah diperoleh, biayanya rendah, dan bisa dibuat sendiri oleh petani. Harapannya penggunaan pestisida kimia bisa ditekan tanpa mengorbankan hasil panen,” ujar Ariya, Kelompok Tani Muda.
Dari Kulit Jeruk Terbuang Menjadi Peluang Usaha
Persoalan tidak berhenti pada proses budidaya. Buah berkualitas di bawah standar pasar yang sebelumnya kurang termanfaatkan juga menjadi peluang untuk menciptakan produk baru.
Mahasiswa KKN bersama kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) mengembangkan sabun cuci piring berbahan limbah kulit jeruk yang mengandung minyak atsiri d-limonene. Pelatihan mencakup pembuatan ekstrak, pencampuran bahan, pengujian kualitas, pengemasan, hingga strategi pemasaran.
Tidak berhenti pada produksi, masyarakat juga mendapatkan pelatihan peningkatan kapasitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Materinya meliputi pencatatan keuangan sederhana, perhitungan harga pokok produksi, penentuan harga jual, serta pemasaran digital melalui WhatsApp Business, Canva, dan pemanfaatan kecerdasan artifisial untuk menyusun konten promosi.

“Kulit jeruk yang sebelumnya dibuang sekarang bisa menjadi produk yang punya nilai jual. Ini membuka peluang usaha baru bagi ibu-ibu di desa kami,” kata Suherni, Ketua PKK.
Dengan pendekatan tersebut, kulit jeruk tidak lagi dipandang sekadar sebagai limbah, tetapi menjadi bahan yang dapat masuk kembali ke rantai produksi. Sementara itu, teknologi pengendalian hama yang sederhana dan murah memberi petani alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia.
Tak Berhenti Setelah KKN Berakhir
Untuk memastikan inovasi dapat terus diterapkan setelah program berakhir, mahasiswa menyerahkan sejumlah luaran kepada Pemerintah Desa Petungsewu dan kelompok sasaran. Luaran tersebut meliputi buku standar operasional prosedur pembuatan pestisida nabati, modul dan leaflet ketiga teknologi perangkap hama, video tutorial, desain label kemasan, serta prosedur pembuatan, pengemasan, dan pemasaran sabun cuci piring berbasis limbah kulit jeruk.
Rangkaian program ini memperlihatkan bagaimana penguatan komoditas lokal dapat dilakukan dari hulu hingga hilir: mengurangi risiko budidaya, memanfaatkan limbah, menciptakan produk bernilai jual, sekaligus membekali masyarakat dengan kemampuan mengelola dan memasarkan produk.
Program tersebut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Desa, khususnya SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pertanian ramah lingkungan dan pemanfaatan limbah, serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan usaha berbasis potensi lokal.
Program KKN di Desa Petungsewu dilaksanakan 35 mahasiswa lintas program studi Agribisnis, Agroekoteknologi, dan Kehutanan, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapang Dr. Noer Rahmi Ardiarini S.P., M.Si. dan Dwi Retnoningsih, S.P., M.P., Ph.D.(Din)













