Kanal24, Malang – Aktivitas Gunung Semeru kembali menjadi perhatian setelah gunung api di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, tercatat mengalami berulang kali erupsi. Masyarakat diminta tidak beraktivitas di sejumlah zona rawan, terutama kawasan sepanjang Besuk Kobokan, karena masih terdapat potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar.
Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa kewaspadaan di sekitar Gunung Semeru masih diperlukan. Pada pengamatan 28 Agustus 2026 pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, Pos Pengamatan Gunung Semeru mencatat 21 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 10–22 milimeter dan durasi 67–120 detik. Selain itu, tercatat dua kali gempa guguran, dua kali gempa hembusan, dan dua kali gempa tektonik jauh.
Baca juga:
Kenapa Gen Z Suka Punya Second Account Instagram?
Aktivitas Erupsi Masih Berulang
Catatan aktivitas Gunung Semeru memperlihatkan bahwa erupsi bukan kejadian yang berdiri sendiri. Sebelumnya, laporan yang menjadi rujukan artikel ini mencatat Semeru mengalami 19 kali erupsi dalam enam jam.
Perkembangan berikutnya menunjukkan aktivitas yang tetap tinggi. Pada 28 Agustus 2026, jumlah gempa letusan yang tercatat dalam periode enam jam bahkan mencapai 21 kali. Data tersebut memperkuat alasan mengapa masyarakat di sekitar kawasan rawan diminta tetap mengikuti rekomendasi keselamatan dari petugas.
Gunung Semeru saat ini berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut bukan berarti masyarakat harus panik, tetapi menjadi penanda bahwa aktivitas gunung masih membutuhkan kewaspadaan dan pembatasan aktivitas di zona tertentu.
Besuk Kobokan Jadi Kawasan yang Diwaspadai
Salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus adalah sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan.
Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apa pun di sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi. Di luar radius tersebut, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan.
Kawasan tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga sekitar 17 kilometer dari puncak.
Bagi masyarakat yang sehari-hari beraktivitas di sekitar kawasan sungai, rekomendasi tersebut perlu menjadi perhatian serius. Aktivitas ekonomi maupun mobilitas tidak seharusnya mengabaikan batas aman yang telah ditetapkan petugas.
Radius Lima Kilometer Juga Terlarang
Ancaman tidak hanya berada di sepanjang jalur aliran lahar.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena kawasan tersebut rawan terhadap lontaran batu pijar.
Potensi bahaya lain yang perlu diwaspadai adalah awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang sungai maupun lembah yang berhulu di puncak Semeru.
Beberapa jalur yang menjadi perhatian antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk sungai-sungai kecil yang menjadi anak sungai Besuk Kobokan.
Dengan demikian, mengetahui status gunung saja tidak cukup. Masyarakat juga perlu memahami di mana batas aman berada.
Pendakian Semeru Juga Ditutup
Aktivitas vulkanik tersebut berlangsung bersamaan dengan penutupan jalur pendakian Gunung Semeru.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru atau BB TNBTS memberlakukan penutupan total jalur pendakian sejak 26 Agustus 2026 setelah terjadi kebakaran hutan di Blok Ranu Kembang.
Seluruh pendaki yang sebelumnya masih berada di kawasan tersebut telah turun pada 27 Agustus 2026.
Penutupan ini menjadi bagian dari langkah pengamanan kawasan ketika kondisi lingkungan dan aktivitas gunung sama-sama membutuhkan perhatian.
Bagi calon pendaki, kondisi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keinginan mencapai puncak harus ditempatkan setelah faktor keselamatan.
Warga Diminta Ikuti Informasi Resmi
Aktivitas Gunung Semeru dapat berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menjadikan unggahan media sosial atau pesan berantai sebagai dasar untuk menentukan apakah kawasan tertentu sudah aman.
Informasi mengenai status gunung, radius bahaya, dan perubahan rekomendasi perlu merujuk kepada lembaga berwenang serta petugas di lapangan.
Kondisi pada 28 Agustus 2026 menunjukkan bahwa Semeru masih berada pada Level III atau Siaga dengan sejumlah pembatasan aktivitas di kawasan rawan.
Di sisi lain, perkembangan terbaru pada 31 Agustus 2026 juga menunjukkan aktivitas erupsi Semeru masih menjadi perhatian. Laporan pagi hari menyebut erupsi terjadi sekitar pukul 06.28 WIB dengan kolom letusan sekitar 500 meter di atas puncak.
Karena itu, masyarakat di sekitar Semeru perlu tetap waspada tanpa panik. Yang paling penting bukan sekadar mengetahui bahwa Semeru kembali erupsi, tetapi memahami wilayah yang harus dihindari dan mengikuti arahan petugas. (ern)














