Kanal24, Malang – Kebutuhan transportasi publik di kawasan Jabodetabek terus meningkat seiring tingginya mobilitas masyarakat. KRL Commuter Line menjadi pilihan utama bagi jutaan penumpang untuk menunjang perjalanan harian. Namun, peningkatan kebutuhan layanan tersebut turut menuntut ketersediaan armada yang memadai. Di tengah kondisi ini, kesiapan industri perkeretaapian nasional menjadi perhatian, terutama dalam memenuhi kebutuhan rangkaian kereta baru.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI tengah mengkaji pengadaan 30 rangkaian KRL tambahan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA tetap menjadi prioritas penyediaan armada, meskipun opsi impor masih terbuka apabila kapasitas produksi dalam negeri belum mencukupi. Hal tersebut disampaikan VP Corporate Communication KAI, Anne Purba, di Jakarta, Rabu, (04/11/2026). Hingga kini, KAI masih mematangkan skema pengadaan dengan mempertimbangkan kapasitas produksi, kebutuhan operasional, dan pendanaan.
Baca Juga:
Harga Cabai Merah Mendorong Inflasi Oktober 2026, BPS Catat 0,22 Persen
INKA Jadi Prioritas, Opsi Impor Masih Terbuka
Rencana penambahan 30 rangkaian KRL menjadi bagian dari upaya KAI dalam memenuhi kebutuhan layanan Commuter Line Jabodetabek. Dalam prosesnya, perusahaan masih menghitung kemampuan INKA untuk menyediakan armada sesuai kebutuhan dan waktu yang ditetapkan.
Anne Purba menegaskan bahwa INKA tetap menjadi pilihan utama dalam pengadaan rangkaian baru. Namun, jumlah kereta yang dapat dipenuhi melalui produksi dalam negeri masih menunggu hasil kajian kapasitas manufaktur.
“Memang kita tetap pilihan pertamanya itu INKA. Kita lihat dulu kapasitas INKA bisa sediakan berapa,” ungkap Anne.
Apabila produksi nasional belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan, KAI membuka kemungkinan pengadaan melalui impor. Meski demikian, skema tersebut tetap harus melibatkan INKA dan dikoordinasikan dengan pemerintah.
“Kalau misalkan nanti ada alternatif impor, itu pasti harus lewat INKA dan juga berkoordinasi terus dengan pemerintah,” tutur Anne.
Kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa pengadaan armada tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan operasional, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan industri perkeretaapian nasional.
Penyelesaian Pesanan Lama Jadi Pertimbangan
Sebelum merealisasikan pengadaan tambahan, KAI masih memprioritaskan penyelesaian 16 rangkaian KRL yang telah masuk dalam kontrak sebelumnya bersama INKA. Penyelesaian pesanan tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan langkah pengadaan berikutnya.
Anne menyampaikan bahwa KAI juga menyiapkan konsep konservasi atau pemanfaatan kembali kereta lama sebagai alternatif untuk menjaga ketersediaan armada.
“Saat ini yang dilakukan KAI adalah memastikan dulu yang 16 trainset dari INKA ini selesai. Kemudian menentukan konsep konservasi kereta-kereta lama,” jelasnya.
Proses penyelesaian pesanan sebelumnya menjadi perhatian karena kebutuhan armada terus berkembang. Pemberitaan terkait produksi KRL mencatat bahwa dari 16 trainset yang dipesan, tujuh telah beroperasi, dua telah dikirim tetapi belum beroperasi, sementara tujuh lainnya masih dalam proses produksi.
Kondisi tersebut menjadi gambaran penting bagi KAI dalam menyusun strategi pengadaan. Perusahaan perlu memastikan kebutuhan layanan dapat terpenuhi tanpa mengabaikan kesiapan produksi dan penyelesaian kontrak yang telah berjalan.
Kebutuhan Penumpang Dorong Penambahan Armada
Tingginya penggunaan KRL Jabodetabek menjadi salah satu alasan penting di balik rencana penambahan rangkaian. KAI Commuter mencatat jumlah pelanggan mencapai 312,30 juta orang sepanjang Januari hingga September 2026. Angka tersebut menunjukkan besarnya peran KRL dalam mendukung mobilitas masyarakat perkotaan.
Penambahan armada diharapkan dapat membantu meningkatkan kapasitas angkut sekaligus mendukung kualitas layanan. Namun, realisasi pengadaan 30 rangkaian masih bergantung pada hasil kajian KAI bersama INKA dan pemerintah.
Di sisi lain, keterlibatan INKA dalam penyediaan armada menjadi peluang untuk memperkuat industri kereta api nasional. Tantangannya adalah memastikan kapasitas produksi mampu mengikuti kebutuhan transportasi publik yang terus berkembang.
Dengan demikian, pengadaan KRL tambahan menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan layanan masyarakat dan kemampuan manufaktur dalam negeri. Keputusan mengenai jumlah rangkaian yang diproduksi INKA maupun kemungkinan impor masih menunggu hasil pembahasan lebih lanjut. (ndr)














