Kanal24, Malang – Di balik padatnya jadwal kuliah, rapat organisasi, hingga tugas akademik yang terus menumpuk, banyak mahasiswa tanpa sadar berada di ambang kelelahan mental atau burnout. Tekanan untuk selalu aktif, produktif, dan berprestasi membuat sebagian mahasiswa kehilangan ritme hidup yang sehat antara kewajiban akademik dan kebutuhan pribadi.
Fenomena inilah yang mendorong Engineering Design Club (EDC) Universitas Brawijaya menggelar EDC Open House bertajuk Balancing The Beat di Basement E FEB UB, Sabtu (23/5/2026). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya menjaga keseimbangan hidup agar tidak terjebak dalam tekanan berlebih selama menjalani perkuliahan.

EDC UB Soroti Pentingnya Keseimbangan Hidup Mahasiswa
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diajak mengikuti sesi diskusi ringan mengenai kesehatan mental bersama narasumber Sukma Ayu Permatasari. Materi yang disampaikan berfokus pada pentingnya mengatur ritme kehidupan antara aktivitas akademik, organisasi, dan kebutuhan pribadi.
Sukma menegaskan bahwa keseimbangan hidup menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan fisik sekaligus mental. Menurutnya, banyak mahasiswa terjebak dalam pola pikir “harus selalu sibuk” hingga melupakan waktu istirahat.
“Kalau kehidupan antara kesibukan dan kehidupan pribadi itu balance, kesehatan fisik terjaga dan kesehatan mental juga ikut terjaga,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa burnout bukan hanya sekadar rasa lelah biasa, tetapi kondisi yang dapat memengaruhi konsentrasi, produktivitas, hingga kesehatan emosional seseorang secara keseluruhan.
Burnout Ancam Produktivitas Mahasiswa
Sukma menilai generasi muda saat ini perlu lebih sadar bahwa kesehatan mental memiliki pengaruh besar terhadap performa sehari-hari. Ketika seseorang mengalami kelelahan mental, kemampuan berpikir, fokus, dan motivasi untuk beraktivitas juga akan menurun drastis.
Karena itu, mahasiswa perlu memahami batas kemampuan diri dan tidak memaksakan diri untuk terus aktif tanpa jeda istirahat yang cukup. Menurutnya, istirahat bukanlah bentuk kemalasan, melainkan bagian dari strategi menjaga performa jangka panjang.
Ia juga menekankan pentingnya kemampuan mengelola prioritas sebagai langkah sederhana namun efektif untuk mencegah stres berlebihan di kalangan mahasiswa.
“Tantangan terbesar itu mengatur prioritas. Kita harus tahu apa yang memang harus dilakukan dan apa yang bisa ditunda supaya tidak terlalu terbebani,” katanya.
Belajar Mengatur Ritme Hidup Sejak di Kampus
Dalam dunia perkuliahan yang kompetitif, mahasiswa sering kali merasa dituntut untuk mengambil semua kesempatan tanpa mempertimbangkan kapasitas diri. Kondisi ini, jika dibiarkan, dapat memicu tekanan mental yang berkepanjangan.
Sukma mengingatkan bahwa kemampuan mengenali diri sendiri menjadi hal penting dalam menjaga kesehatan mental. Mahasiswa perlu memahami kapan harus bekerja keras dan kapan harus berhenti sejenak untuk memulihkan energi.
Ia berharap mahasiswa tidak hanya fokus pada produktivitas, tetapi juga mampu membangun kesadaran akan pentingnya keseimbangan hidup agar tetap sehat secara fisik dan mental.
Ruang Diskusi Kesehatan Mental di Lingkungan Kampus
Melalui kegiatan Balancing The Beat, EDC UB tidak hanya menghadirkan ruang pengembangan kreativitas mahasiswa, tetapi juga membuka diskusi yang lebih dekat dengan realitas kehidupan generasi muda saat ini.
Peserta diajak memahami bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian penting dari proses bertumbuh selama menjalani kehidupan kampus yang penuh dinamika.
Dengan meningkatnya kesadaran ini, diharapkan mahasiswa mampu membangun pola hidup yang lebih seimbang, sehat, dan berkelanjutan di tengah padatnya aktivitas akademik dan organisasi. (cay)














