Kanal24, Malang – Perekonomian Indonesia dinilai tetap solid di tengah gejolak global yang belum mereda. Pemerintah menegaskan, kondisi saat ini jauh berbeda dibanding krisis 1998, dengan fondasi ekonomi yang lebih kuat serta risiko eksternal yang lebih terkendali.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, pertumbuhan ekonomi nasional masih berada di atas 5 persen dan diproyeksikan terus terjaga sepanjang 2026. Ia menegaskan, struktur ekonomi Indonesia kini lebih tahan terhadap tekanan global dibanding masa lalu.
āJauh berbeda dengan situasi tahun 1998. Dari segi ekonomi makro, saya katakan pertumbuhan PDB adalah 5,11 persen,ā ujarnya dalam sebuah forum.
Ia juga menyampaikan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026 dapat mencapai sekitar 5,5 persen. Angka tersebut ditopang oleh konsumsi domestik yang tetap kuat serta stabilitas sektor keuangan yang terjaga.
Baca juga:
Status Istimewa Koperasi Desa, Peluang atau Beban Baru?
Fondasi Domestik Jadi Penopang
Ketahanan ekonomi Indonesia saat ini sangat bergantung pada kuatnya permintaan dalam negeri. Konsumsi rumah tangga yang mendominasi lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi motor utama pertumbuhan, terutama di tengah perlambatan ekonomi global.
Selain itu, stabilitas sektor pangan dan energi juga menjadi faktor penting dalam menjaga daya tahan ekonomi. Pemerintah terus memastikan pasokan tetap aman dan harga terkendali untuk menjaga daya beli masyarakat.
Sejumlah indikator makro menunjukkan tren positif. Tingkat kemiskinan berhasil ditekan hingga sekitar 8,25 persen, sementara tingkat pengangguran berada di kisaran 4,7 persen. Angka tersebut mencerminkan perbaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat secara bertahap.
Dari sisi fiskal, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memainkan peran penting sebagai peredam guncangan. Pemerintah terus menggulirkan berbagai program perlindungan sosial guna menjaga stabilitas konsumsi masyarakat.
āAPBN berfungsi sebagai peredam guncangan untuk masyarakat,ā kata Airlangga.
Kinerja penerimaan negara juga menunjukkan tren yang positif. Penerimaan pajak tercatat tumbuh secara tahunan, sementara defisit anggaran tetap terkendali sesuai target yang telah ditetapkan pemerintah.
Risiko Eksternal Lebih Terkendali
Jika dibandingkan dengan krisis 1998, kondisi saat ini dinilai jauh lebih stabil dari sisi eksternal. Struktur utang pemerintah lebih sehat, dengan dominasi pembiayaan yang berasal dari dalam negeri.
Rasio utang terhadap PDB berada di kisaran 40 persen, dengan kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara relatif kecil. Kondisi ini dinilai mampu meminimalkan dampak gejolak global terhadap perekonomian nasional.
āJika Anda melihat detail utang kita, sebagian besar berasal dari dalam negeri. Jadi, risiko guncangan eksternal terkendali,ā ujar Airlangga.
Selain itu, cadangan devisa Indonesia juga berada pada level yang aman. Posisi cadangan devisa yang cukup untuk membiayai impor selama beberapa bulan ke depan menjadi bantalan penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan.
āDan jika Anda melihat cadangan devisa masih sekitar USD 148,2 miliar, itu setara dengan enam bulan impor,ā jelasnya.
Dengan indikator tersebut, risiko terjadinya krisis seperti 1998 dinilai sangat kecil. Bahkan, tingkat kepercayaan global terhadap ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian dunia.
Reformasi Jadi Pembeda Utama
Pengalaman krisis 1998 menjadi pelajaran besar bagi Indonesia dalam membangun sistem ekonomi yang lebih tangguh. Reformasi di sektor keuangan, penguatan institusi, serta disiplin fiskal menjadi kunci utama yang membedakan kondisi saat ini dengan masa lalu.
Pemerintah juga terus mendorong ketahanan energi dan pangan sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Upaya diversifikasi sumber energi serta peningkatan produksi dalam negeri dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Di tengah tekanan global seperti konflik geopolitik dan volatilitas pasar, Indonesia dinilai mampu menjaga momentum pertumbuhan. Kombinasi antara konsumsi domestik yang kuat, stabilitas fiskal, dan reformasi struktural menjadi fondasi penting bagi ketahanan ekonomi nasional.
Ke depan, tantangan tetap ada, mulai dari dinamika ekonomi global hingga potensi tekanan inflasi. Namun, pemerintah optimistis ekonomi Indonesia akan tetap tumbuh stabil dan berkelanjutan. (nid)














