Kanal24, Malang – Tekanan harga kedelai impor kembali memaksa produsen tahu dan tempe di berbagai daerah memutar strategi agar tetap bertahan. Di tengah gejolak global yang memicu lonjakan harga bahan baku, pelaku usaha justru ikut mendorong langkah besar: percepatan swasembada kedelai nasional.
Kondisi ini bukan sekadar persoalan industri kecil, melainkan menyangkut rantai pangan nasional. Ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor dinilai menjadi akar persoalan yang berulang setiap kali harga global bergejolak.
Sejumlah produsen mengaku harus melakukan berbagai penyesuaian agar usaha tetap berjalan tanpa kehilangan konsumen. Mulai dari mengecilkan ukuran produk, mengatur ulang produksi, hingga menekan biaya operasional menjadi pilihan yang tak terhindarkan.
Baca juga:
Target Kampus Naik, BPU UB Masuk Mode Akselerasi

Strategi Bertahan di Tengah Kenaikan Harga
Pelaku usaha tahu dan tempe menjadi salah satu sektor yang paling terdampak kenaikan harga kedelai. Dalam beberapa waktu terakhir, harga kedelai mengalami kenaikan signifikan seiring penguatan dolar AS dan ketidakpastian global.
Seorang produsen tempe mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan baku membuat pelaku usaha harus berpikir kreatif agar tidak menaikkan harga jual.
āKami kan kebanyakan menjual ke ritel. Kalau kami naikin harga, akan susah dijual. Jadi harganya tetap sama, tapi gramasi atau beratnya kami turunin,ā ujarnya.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempertahankan pelanggan. Namun, konsekuensinya margin keuntungan menjadi semakin tipis.
Selain kedelai, kenaikan harga bahan pendukung seperti plastik juga turut menambah beban produksi. Hal ini membuat biaya operasional semakin meningkat dan mempersempit ruang keuntungan pelaku usaha.
Produksi Disesuaikan, Tenaga Kerja Terdampak
Tak hanya ukuran produk yang berubah, sejumlah produsen juga melakukan efisiensi tenaga kerja. Beberapa pekerja terpaksa dirumahkan sementara untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Seorang perajin mengaku harus mengambil langkah sulit demi mempertahankan usahanya.
āSaya ingin menyelamatkan usaha yang sudah sejak lama saya rintis. Terpaksa dilakukan biar bisa terus produksi,ā katanya.
Penyesuaian produksi juga dilakukan dengan mengurangi volume output harian. Meski demikian, permintaan pasar terhadap tahu dan tempe relatif stabil karena kedua produk ini merupakan sumber protein terjangkau bagi masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah memastikan ketersediaan stok kedelai masih dalam kondisi aman. Namun, fluktuasi harga tetap menjadi tantangan utama yang harus dihadapi pelaku usaha di lapangan.
Dorongan Kuat Menuju Swasembada Kedelai
Di tengah tekanan tersebut, para produsen mulai mendorong solusi jangka panjang, yakni swasembada kedelai. Ketergantungan impor dinilai membuat industri tahu dan tempe rentan terhadap gejolak global.
Dorongan ini sejalan dengan harapan agar pemerintah memperkuat produksi dalam negeri, baik melalui peningkatan luas tanam maupun produktivitas petani kedelai.
Para pelaku usaha berharap adanya kebijakan konkret yang mampu menstabilkan harga dan menjamin pasokan bahan baku. Tanpa langkah strategis, kondisi serupa dikhawatirkan akan terus berulang setiap tahun.
Selain itu, penguatan ekosistem industri dari hulu ke hilir juga dinilai penting. Mulai dari petani, distribusi, hingga industri pengolahan perlu terintegrasi agar Indonesia tidak lagi bergantung pada impor.
Dalam jangka panjang, swasembada kedelai diyakini tidak hanya akan melindungi pelaku usaha kecil, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional. Upaya ini membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan petani agar dapat terwujud secara berkelanjutan.
Dengan berbagai tekanan yang ada, produsen tahu dan tempe kini tidak hanya berjuang untuk bertahan, tetapi juga menjadi bagian dari dorongan perubahan menuju kemandirian pangan Indonesia. (nid)














