Kanal24, Malang – Industri peternakan global sedang menghadapi tekanan ganda: tuntutan produksi yang terus meningkat dan ancaman krisis sumber daya akibat perubahan iklim. Dalam situasi ini, keberlanjutan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang menentukan masa depan ketahanan pangan.
Menjawab tantangan tersebut, Faculty of Animal Science & Technology Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan International Summer Course Program yang mengupas strategi keberlanjutan sektor peternakan secara lintas perspektif global. Kegiatan yang digelar di Ruang Sidang Utama Lantai 6 Fakultas Peternakan UB, Senin (20/4/2026), menjadi ruang diskusi akademik sekaligus refleksi atas arah masa depan produksi pangan dunia.
Program ini menghadirkan sejumlah pemateri dari dalam dan luar negeri yang membahas berbagai perspektif terkait keberlanjutan sektor peternakan. Salah satu fokus utama adalah bagaimana menjaga produksi tetap berjalan tanpa mengorbankan kebutuhan generasi mendatang di tengah tantangan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya.
Baca juga:
Kuliah Umum NVIDIA, Vokasi UB Tancap Gas Kolaborasi AI dengan Industri Global

Pemateri, Dr. Ir. Marjuki, M.Sc., IPM, menjelaskan bahwa materi yang disampaikan berpusat pada keberlanjutan produksi, khususnya pada sektor sapi perah. “Materi dari short course ini kita fokuskan ke sustainability of dairy production sebagai salah satu upaya kita untuk menjaga agar usaha sapi perah ini tetap bisa dijalankan sampai ke generasi berikutnya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa isu ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan global. “Ini sebagai bentuk tanggung jawab kita, di samping memenuhi kebutuhan susu saat ini, juga untuk generasi berikutnya yang tantangannya akan lebih berat,” jelasnya.
Menurut Marjuki, pemahaman konsep keberlanjutan menjadi kunci utama yang harus dimiliki oleh peserta. “Kalau mereka paham konsep sustainability, kita harapkan mereka bisa mengimplementasikan dalam menciptakan produksi yang berkelanjutan,” tambahnya.

Selain itu, pemateri dari Central Philippine University, Dr. Joyce Wendam, turut mengangkat pentingnya pengetahuan lokal dalam menghadapi perubahan iklim di sektor pertanian dan perikanan. Ia menilai bahwa pengalaman masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun memiliki nilai strategis dalam pengambilan keputusan.
“Pengetahuan kolektif merupakan pengetahuan lokal yang tertanam dan dimiliki bersama oleh masyarakat, yang berguna untuk memprediksi cuaca,” ungkapnya.
Joyce juga menekankan bahwa indikator bioiklim dapat menjadi alat bantu yang efektif bagi petani dalam menentukan langkah produksi. “Indikator bioiklim berperan sebagai sinyal peringatan dini, sehingga masyarakat dapat mengambil keputusan pertanian dengan lebih tepat,” jelasnya.
Melalui materi yang disampaikan dalam program ini, peserta diharapkan mampu menggabungkan pendekatan ilmiah dengan pengetahuan lokal dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Sinergi tersebut dinilai penting untuk menciptakan sistem peternakan yang adaptif, berkelanjutan, dan mampu menjawab kebutuhan global di masa depan. (cay)













