Kanal24, Malang – Aktivitas gempa bumi kembali mengguncang wilayah selatan Jawa Timur pada Senin pagi. Peristiwa ini menjadi perhatian karena pusat gempa berada di laut dengan kedalaman relatif dangkal, sementara getarannya dilaporkan dirasakan di sejumlah wilayah hingga Bali. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu tetap tenang sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Gempa bumi bermagnitudo 5,2 mengguncang wilayah tenggara Kabupaten Malang pada Senin (14/9/2026) sekitar pukul 08.42 WIB. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa berada di laut pada koordinat 9,52 derajat Lintang Selatan dan 112,85 derajat Bujur Timur, sekitar 156 kilometer tenggara Kabupaten Malang, Jawa Timur. BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Baca juga:
Drone Termal Matrice 30T Bantu UB Forest Deteksi Titik Api
Gempa Malang Berpusat di Laut
Data BMKG menunjukkan gempa terjadi pada kedalaman 10 kilometer. Dengan lokasi episenter yang berada di perairan selatan Jawa, guncangan gempa dapat dirasakan di sejumlah wilayah yang berada cukup jauh dari titik pusat gempa.
Informasi awal BMKG mencatat gempa terjadi pada pukul 08.42.08 WIB. Episenter berada pada koordinat 9,52 LS dan 112,85 BT dengan pusat gempa berjarak sekitar 156 kilometer dari Kabupaten Malang. BMKG juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap kemungkinan gempa bumi susulan.
Karakter gempa yang berpusat di laut menjadi salah satu alasan masyarakat perlu memperhatikan informasi resmi kebencanaan. Meski demikian, BMKG menyatakan gempa M 5,2 tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Pemberitaan lain mengenai gempa tersebut juga menyebutkan bahwa pusat gempa berada di wilayah laut tenggara Kabupaten Malang. Sejumlah laporan mencatat getaran gempa dirasakan hingga wilayah Bali.
Getaran Gempa Dirasakan di Sejumlah Wilayah
Gempa yang berpusat di selatan Kabupaten Malang tidak hanya menjadi perhatian warga di sekitar Malang. Getaran juga dilaporkan dirasakan di sejumlah daerah di Jawa Timur hingga Bali.
Luasnya wilayah yang merasakan getaran menunjukkan bahwa gempa dengan magnitudo 5,2 tetap dapat memberikan dampak guncangan meskipun pusatnya berada cukup jauh dari daratan. Kondisi ini sekaligus mengingatkan masyarakat di wilayah selatan Jawa untuk memahami karakter wilayahnya yang memiliki aktivitas kegempaan.
Wilayah selatan Jawa memang berada di kawasan yang aktif secara tektonik. Sejumlah gempa yang berpusat di laut selatan Jawa dalam beberapa tahun terakhir juga tercatat dapat dirasakan hingga wilayah yang cukup jauh dari episenter.
Pada Februari 2026, misalnya, gempa berkekuatan M 6,4 yang berpusat di tenggara Pacitan dilaporkan terasa hingga Denpasar, Bali. Peristiwa tersebut juga menunjukkan bagaimana gempa yang terjadi di kawasan selatan Jawa dapat dirasakan lintas wilayah.
Karena itu, gempa yang kembali terjadi di selatan Malang menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan masyarakat. Getaran yang dirasakan tidak selalu berarti terjadi kerusakan, tetapi masyarakat tetap perlu mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.
BMKG Minta Masyarakat Tetap Waspada
BMKG memastikan gempa M 5,2 yang mengguncang tenggara Kabupaten Malang tidak berpotensi tsunami. Informasi ini penting karena episenter gempa berada di laut sehingga masyarakat yang berada di kawasan pesisir membutuhkan kepastian mengenai potensi bahaya lanjutan.
Meski tidak berpotensi tsunami, BMKG tetap mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap kemungkinan gempa susulan. Masyarakat diimbau mengikuti informasi dari kanal resmi BMKG dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Kesiapsiagaan juga penting dilakukan di tingkat rumah tangga maupun lingkungan. Ketika gempa terjadi, masyarakat perlu tetap tenang, menjauh dari benda yang berpotensi jatuh, serta mencari lokasi yang lebih aman apabila kondisi bangunan atau lingkungan tidak memungkinkan untuk tetap berada di dalam ruangan.
Gempa M 5,2 di tenggara Kabupaten Malang ini hingga pembaruan informasi yang tersedia tidak disertai laporan mengenai potensi tsunami. Namun, perkembangan kondisi pascagempa tetap perlu dipantau karena parameter gempa maupun informasi mengenai gempa susulan dapat diperbarui oleh BMKG.
Peristiwa tersebut kembali menegaskan pentingnya literasi kebencanaan bagi masyarakat Malang dan wilayah sekitarnya. Dengan memahami informasi gempa, mengenali kondisi lingkungan, serta mengikuti arahan lembaga resmi, masyarakat dapat mengurangi kepanikan dan mengambil langkah yang lebih tepat ketika menghadapi guncangan.(ffn)














