Kanal24, Malang – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran, memicu kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan yang menjadi salah satu pusat produksi energi terbesar dunia.
Kenaikan harga terjadi di tengah meningkatnya risiko konflik yang dapat mengganggu distribusi minyak melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Pasar merespons cepat perkembangan tersebut dengan mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Baca juga:
Ekspor Satu Pintu: Menjaga Devisa Negara atau Menciptakan Monopoli Baru?
Minyak mentah Brent tercatat bergerak mendekati level US$95 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) menembus kisaran US$91 per barel. Lonjakan harga dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran bahwa konflik antara Washington dan Teheran dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih luas terhadap rantai pasok energi global.
Situasi semakin memanas setelah Iran mengeluarkan pernyataan keras terkait aktivitas pelayaran di sekitar Selat Hormuz. Pasar menilai setiap potensi gangguan di jalur tersebut dapat berdampak langsung terhadap pasokan minyak dunia dan memicu kenaikan harga energi di berbagai negara.
Analis energi menilai faktor geopolitik saat ini menjadi pendorong utama pergerakan harga minyak. Selain konflik militer, penurunan cadangan minyak di Amerika Serikat turut memperkuat sentimen kenaikan harga karena menambah kekhawatiran terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan global.
Di sisi lain, pelaku pasar masih menunggu respons lanjutan dari Iran dan perkembangan diplomasi antara kedua negara. Jika ketegangan terus meningkat, harga minyak berpotensi kembali menanjak dan memberikan tekanan pada inflasi global, termasuk meningkatkan biaya transportasi serta harga berbagai komoditas yang bergantung pada energi.
Kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian banyak negara pengimpor energi, termasuk di Asia. Lonjakan berkepanjangan berisiko meningkatkan beban subsidi energi, menekan daya beli masyarakat, dan memperlambat pemulihan ekonomi di sejumlah negara berkembang.
Meski demikian, sebagian analis menilai pasar masih berharap adanya solusi diplomatik yang dapat meredakan konflik. Selama belum ada kepastian mengenai stabilitas kawasan Timur Tengah, volatilitas harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.














