Kanal24, Malang – Upaya internasionalisasi Universitas Brawijaya (UB) diwujudkan melalui kerja sama akademik, pertukaran mahasiswa, atau publikasi ilmiah. Di lingkungan kampus, inovasi pelayanan juga menjadi bagian penting dalam menciptakan pengalaman yang lebih inklusif bagi mahasiswa internasional. Salah satunya diwujudkan melalui pengembangan layanan multibahasa di Masjid Raden Patah UB.
Inovasi tersebut menjadi salah satu gagasan yang dipresentasikan dalam ajang inovasi di lingkungan UB. Melalui penyediaan informasi dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab, pengelola Masjid Raden Patah berupaya mempermudah mahasiswa maupun tamu dari berbagai negara memahami fasilitas, layanan, hingga aktivitas keagamaan yang berlangsung di masjid.
Baca juga:
Yudisium Fakultas Hukum UB Lepas 206 Lulusan dari S1 hingga Doktor
Layanan Tiga Bahasa Jawab Kebutuhan Mahasiswa Internasional
Manajer Operasional Masjid Raden Patah UB, Nur Hidayat, mengatakan inovasi tersebut lahir dari meningkatnya interaksi masjid dengan mahasiswa dan tamu mancanegara. Menurutnya, kebutuhan akan pelayanan yang mudah dipahami menjadi semakin penting seiring bertambahnya jumlah warga asing yang datang ke Universitas Brawijaya.
“Tahun ini kami menerima layanan mualaf bagi 12 warga negara asing yang berasal dari Amerika Serikat, Belanda, dan Jerman. Atas dasar itulah kami merasa sudah saatnya Masjid Raden Patah menjadi masjid bertaraf internasional, yang tidak hanya melayani jamaah lokal, tetapi juga jamaah internasional,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya mulai menghadirkan berbagai informasi dalam tiga bahasa agar lebih mudah dipahami oleh mahasiswa internasional maupun pengunjung dari luar negeri. Langkah tersebut diharapkan mampu menghilangkan hambatan komunikasi sekaligus memberikan pelayanan yang setara bagi seluruh jamaah.
Nur Hidayat berharap Masjid Raden Patah dapat menjadi salah satu destinasi ibadah sekaligus pusat layanan keagamaan yang ramah bagi masyarakat internasional di lingkungan Universitas Brawijaya.
“Semoga masjid ini menjadi rujukan bukan hanya bagi jamaah lokal, tetapi juga jamaah internasional,” katanya.
Mahasiswa Asing Nilai Inovasi Sangat Membantu
Peserta kegiatan asal Sudan, Abdelmajid Idris Mohammed, menilai inovasi layanan multibahasa memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa internasional. Menurutnya, persoalan sederhana seperti mencari lokasi tempat wudu atau memahami informasi di lingkungan masjid sering kali menjadi kendala bagi mahasiswa asing yang baru datang ke Indonesia.
“Beberapa orang tidak mengetahui lokasi tempat wudu. Dengan adanya informasi dalam beberapa bahasa, hal-hal seperti ini menjadi jauh lebih mudah dipahami,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran informasi dalam bahasa Arab dan Inggris membuat mahasiswa internasional lebih mudah memahami pengumuman, doa, maupun berbagai aktivitas yang berlangsung di masjid.
“Sekarang lebih banyak mahasiswa dapat memahami apa yang sedang berlangsung karena tersedia bahasa Arab dan bahasa Inggris. Hal ini memberikan nilai tambah bagi universitas,” katanya.
Abdelmajid juga mengaku memperoleh banyak pengalaman baru melalui kegiatan tersebut. Ia berharap budaya berinovasi terus berkembang sehingga semakin banyak solusi sederhana yang dapat memberikan dampak besar bagi sivitas akademika.
“Saya berharap kegiatan ini memberikan lebih banyak pengalaman dan membantu kami menciptakan inovasi-inovasi berikutnya,” tuturnya.
Kolaborasi Jadi Kunci Pengembangan Inovasi
Nur Hidayat menegaskan bahwa inovasi pelayanan tidak akan berkembang tanpa dukungan berbagai pihak di lingkungan Universitas Brawijaya. Oleh karena itu, pengelola Masjid Raden Patah akan terus memperkuat kolaborasi dengan rektorat maupun unit-unit kerja lainnya agar program yang telah dirintis dapat terus dikembangkan.
“Kami akan terus berkolaborasi dengan pihak rektorat dan unit-unit lain di lingkungan UB. Program ini tidak bisa berjalan sendiri sehingga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar pelayanan kepada mahasiswa internasional dapat terus ditingkatkan,” jelasnya.
Menurutnya, internasionalisasi tidak hanya diwujudkan melalui kerja sama akademik atau peningkatan reputasi kampus di tingkat global, tetapi juga melalui pelayanan yang mampu menjawab kebutuhan mahasiswa internasional dalam kehidupan sehari-hari.
Pengembangan layanan multibahasa di Masjid Raden Patah menjadi salah satu contoh bagaimana inovasi sederhana dapat memberikan dampak nyata. Dengan menghadirkan akses informasi yang lebih inklusif, Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa internasionalisasi juga dibangun melalui pengalaman belajar dan beraktivitas yang nyaman bagi mahasiswa dari berbagai negara.(ffn)













