Kanal24, Malang – Pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) kini turut menyentuh sektor pertanian di Desa Langlang, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya (UB) Kelompok 20 mengembangkan sistem monitoring kelembapan tanah sawah berbasis IoT untuk membantu petani memantau kondisi lahan secara real-time.
Program bertajuk Monitoring Kelembapan Tanah Sawah Berbasis Internet of Things (IoT) tersebut menjadi upaya penerapan teknologi tepat guna untuk menjawab kebutuhan petani akan informasi kondisi lahan yang lebih akurat dan efisien.
Baca juga: MMD UB Gelar Festival Literasi Anak di Desa Ngoran
Penanggung jawab program, Xabi Muhammad Fathi, menjelaskan sistem tersebut dirancang menggunakan mikrokontroler ESP32 yang terhubung dengan sensor kelembapan tanah kapasitif. Data yang diperoleh kemudian dapat diakses petani melalui aplikasi Blynk maupun layar LCD yang dipasang di lokasi.
“Sistem ini kami rancang menggunakan mikrokontroler ESP32 yang terhubung dengan sensor kelembapan tanah kapasitif, sehingga data kondisi tanah dapat dipantau langsung oleh petani melalui aplikasi Blynk maupun layar LCD yang terpasang di lokasi,” jelasnya.

IoT Bantu Petani Pantau Kelembapan Tanah
Pengembangan sistem monitoring tersebut berangkat dari kebutuhan petani Desa Langlang terhadap informasi kondisi lahan yang lebih akurat dan efisien. Selama ini, pemantauan kelembapan tanah secara konvensional masih dilakukan secara manual sehingga dinilai kurang efektif.
Melalui observasi dan diskusi bersama warga, tim MMD UB Kelompok 20 kemudian merancang sistem pemantauan otomatis yang dapat memberikan data secara berkala tanpa mengharuskan petani melakukan pengecekan langsung ke lahan.
Xabi mengatakan sistem menggunakan sumber daya listrik mandiri berupa power bank yang dilengkapi panel surya. Penggunaan sumber daya tersebut memungkinkan perangkat beroperasi secara berkelanjutan di area persawahan yang minim akses listrik.
Baca juga: MMD UB dan Bank Jatim Edukasi Warga Ngoran Soal Literasi Keuangan
Perangkat elektronik juga dikemas dalam kotak pelindung kedap air dan dipasang langsung di pinggir area persawahan. Tim MMD UB turut menyediakan poster panduan penggunaan alat agar petani dapat memahami cara membaca hasil monitoring maupun langkah penanganan apabila terjadi kendala pada perangkat.
“Data kelembaban tanah dikirimkan secara berkala ke aplikasi Blynk dalam bentuk persentase serta status kondisi tanah seperti kering, lembab, atau basah, sementara layar LCD yang terpasang di lokasi memberikan informasi langsung bagi petani yang berada di sekitar sawah,” tambahnya.
Sosialisasi Sistem Monitoring kepada Petani Desa Langlang
Sosialisasi program dilaksanakan pada Minggu (2/8/2026) di Balai Desa Langlang. Kegiatan tersebut didampingi Ketua Kelompok Tani, Bapak Arif Rahman Huda, serta diikuti warga dan tokoh masyarakat setempat.
Selain mengenalkan sistem monitoring kelembapan tanah, kegiatan sosialisasi dilengkapi dengan sesi pre-test dan post-test untuk mengukur pemahaman peserta mengenai cara kerja dan manfaat alat.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman petani terhadap pemanfaatan teknologi IoT dalam mendukung kegiatan pertanian.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan serah terima akses aplikasi Blynk kepada Kepala Desa Langlang, Bapak Yulianto. Penyerahan tersebut dilakukan agar sistem monitoring dapat terus dimanfaatkan dan dikelola secara berkelanjutan oleh pihak desa.
Dukung SDGs Desa Infrastruktur dan Inovasi
Program Monitoring Kelembapan Tanah Sawah Berbasis Internet of Things (IoT) turut mendukung pencapaian SDGs Desa Tujuan 9, yaitu Infrastruktur dan Inovasi.
Program tersebut berhasil diselenggarakan berkat dukungan pendanaan dari Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) UB di bawah pantauan Dosen Pembimbing Lapang, Rizky Fadilla Agustin Rangkuti, S.Pi., M.Si.
Melalui penerapan teknologi IoT, sistem monitoring diharapkan dapat membantu petani memperoleh informasi mengenai kondisi kelembapan tanah dengan lebih mudah sehingga pengelolaan lahan dapat dilakukan secara lebih efisien.
“Melalui program ini kami berharap petani Desa Langlang dapat lebih mudah memantau kondisi lahan mereka, sehingga pengelolaan sawah menjadi lebih efisien dan hasil pertanian dapat lebih optimal,” tutup Xabi. (afr)














